Kakek Md Zin Ahmad, Penjual Ikan Asin Di Melaka (Worldofbuzz.com)
Dream - Jika sedang berada di Melaka, Malaysia, kamu mungkin akan berjumpa dengan kakek satu ini. Namanya Md Zin Ahmad, 64 tahun, yang dikenal banyak orang sebagai penjual ikan asin.
Padahal, Kakek Zin tidak tinggal di Melaka, melainkan di Bukit Pasir, Muar, Johor. Jarak rumah dengan tempatnya berjualan tidaklah dekat, mencapai 100 kilometer.
Jarak sejauh itu ditempuh Kakek Zin setiap hari. Kakek Zin harus menjual ikan asin agar dapat membiayai pengobatan istrinya yang sedang sakit, Fatimah Md Said, 73 tahun.

Dikutip dari World of Buzz, Selasa 6 Agustus 2019, kisah Kakek Zin menjadi viral setelah seorang gadis Malaysia mengunggahnya di Twitter. Gadis bernama Aina Wardina itu bercerita Kakek Zin berkeliling untuk menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang ditemui.
Kakek Zin berangkat dari rumah pada pukul 08.00 pagi. Dia naik bus menuju Melaka untuk jualan ikan asin yang dikulak dari daerah Parit Jawa.
Setiap hari, Kakek Zin membawa 100 bungkus ikan asin. Hasil jualannya dipakai untuk makan sebagian dan biaya berobat sang istri.
Sebenarnya, Kakek Zin punya empat anak yang sudah dewasa. Tetapi, dia memilih jualan ikan asin karena tidak membebani anak-anaknya karena mereka sudah berkeluarga.
Kakek Zin menawarkan ikan asin dagangannya dengan harga 10 ringgit, setara Rp30 ribu, untuk tiga bungkus. Dia sudah menjalani profesi tersebut selama lima tahun terakhir.
Sebagian besar netizen mengaku pernah membeli ikan asin Kakek Zin. Kebanyakan dari mereka mengaku rasa ikan asin itu sangat enak.

Saat jualan, Kakek Zin tidak pernah diam di satu tempat. Dia berkeliling ke sejumlah titik di Melaka untuk agar dagangannya laku sehingga bisa pulang dengan tenang.
Meski punya riwayat diabetes dan tekanan darah tinggi, dia mengaku hal itu bukan penghalang. Dia rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mengontrol sakitnya.
Dream - Inaq Sahnun, 60 tahun, membuat banyak orang terharu. Wanita yang sehari-hari memulung sampah ini mampu mengumpulkan uang Rp10 juta untuk membeli sapi kurban.
Warga Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ini sabah hari memungut botol plastik di sekitar Kota Mataram, khususnya di Cakranegara.
Hasil memulung dia kumpulkan dan dijual ke pengepul bernama Sainah. Setiap satu karung, Inaq Sahnun mendapat uang antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.
" Alhamdulillah, dari hasil penjualan botol bekas itu sekarang sudah terkumpul Rp10 juta, untuk membeli sapi kurban," ujar Inaq Sahnun, dikutip dari Selaparangtv.com.
Untuk mendapatkan uang Rp10 juta, Inaq Sahnun harus menabung selama lima tahun. Sejak awal menabung, dia sudah niatkan untuk berkurban.
Di Kota Mataram, Inaq Sahnun tinggal di sebuah warung makan yang terletak di dekat pintu keluar Mataram Mall. Dia hidup sendiri dan belum pernah menikah.
Dulu dia hidup bersama dua saudaranya. Tetapi, saat ini keduanya sudah meninggal.
" Saya tidur dan makan di warung ini, menggunakan tikar yang diberikan oleh pemilik warung sekaligus menjaga warung ini," kata dia.
Sehari-hari, Inaq Sahnun berkeliling Cakranegara untuk mencari botol plastik bekas. Ada juga warga setempat yang sengaja mengumpulkan botol plastik bekas untuk diberikan kepada Inaq Sahnun.
" Saya keluar mencari botol plastik di jalanan dari pagi, kalau siang penuh dua kantong plastik saya taruh dan kumpulka dulu di warung kemudian keliling lagi," ucap dia.
Azma, salah satu karyawan yang bekerja di sekitar Jalan Bangkau Cakranegara, mengaku kerap melihat Inaq Sahnun. Menurut dia, Inaq Sahnun kerap dipanggil orang lalu diberi botol bekas dan uang Rp10 ribu.
" Saya tidak menyangka, dengan hasil mengumpulkan botol bekas Inaq Sahnun mampu membeli sapi untuk berkurban. Saya sangat salut dan ini patut dicontoh," kata dia.
Sementara pemilik warung, Rehan, mengatakan Inaq Sahnun sudah setahun tinggal di kedai makan miliknya. Sebelumnya, Inaq Sahnun tinggal di kuburan Karang Jangkong.
" Karena di sana banyak ular dan anjing, makanya kita tawarkan tidur di warung kalau malam," ucap Rehan.
Dia mengaku tidak tahu banyak mengenai latar belakang Inaq Sahnun. Rehan hanya tahu wanita itu pernah jadi pengasuh anak di salah satu rumah di Perumahan Karang Jangkong lalu berhenti dan kini menjadi pemulung.
Sumber: selaparangtv.com