Menag Fachrul Razi (Foto: Kemenag)
Dream - Menteri Agama Fachrul Razi berharap revisi 155 buku pelajaran agama yang bermuatan khilafah dapat digunakan di tahun ajaran baru yang dimulai pada Juli 2020. Saat ini, progres revisi tersebut masih berjalan.
" Ini tahun ajaran 2020 sudah siap untuk uji publik, dan kita harapan bulan Juli 2020 sudah siap dipakai baik di MI, MTs, maupun MA," kata Fachrul, Jumat 29 November 2019.
Revisi dilakukan untuk buku amata pelajaran agama mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), hingga Madrasah Aliyah (MA). Fachrul mengatakan sebenarnya revisi sudah berjalan sebelum dia menjabat sebagai Menag.
" Sebetulnya pembetulan kurikulum bukan setelah saya masuk kita benahi, bukan, sudah berlangsung lama. Jadi mungkin di saya tinggal di ujung saja," ujar dia.
Fachrul merinci, buku pelajaran agama yang direvisi yaitu Akidah Akhlak, Alquran dan Hadis, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Bahasa Arab.
" Kebetulan yang membenahi bukan saya, memang ahli-ahlinya yang melihat ada hal yang masih perlu dibenahi," ucap dia.
Seklanjutnya, Fachrul mengungkapkan beberapa alasan revisi buku-buku pelajaran itu. Di antaranya, mengikuti perkembangan sains dan teknologi.
" Kemudian agar lebih kontekstual berbasis revolusi mental," kata dia.
Meski demikian, Fachrul mengakui materi khilafah seharusnya bisa disampaikan secara mudah. Hanya saja, ada beberapa penyampaian yang dianggap berlebihan sehingga menimbulkan pemahaman berbeda.
" Menurut saya dihilangkanlah. Karena memang niatnya baik, tapi karena pengajarnya mungkin memihak kepada itu, jadi akhirnya mengkapitalisasi," ujar dia.
Dream - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama berencana merombak buku ajaran agama yang mengandung unsur khilafah.
" Memang ada tim yang sudah membahas itu untuk melihat, mana yang perlu dihapus, mana yang enggak," ujar Menteri Agama, Fachrul Razi, di Jakarta, Selasa 12 November 2019.
Meski demikian, Fachrul belum dapat menjelaskan secara rinci mengenai bagian mana saja yang perlu dihapus di buku ajar agama. " Saya secara teknis belum sampai, ya," ucap dia.
Menurutnya, tim Kemenag sudah mulai membahas rencana perubahan tersebut sejak era Menteri Agama dijabat oleh Lukman Hakim Saifuddin.
" Kelompok kerja sudah disusun dan sudah mulai bekerja sebelum saya masuk," kata dia.
Dream - Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar, mengatakan, Kementerian Agama tidak akan menghilangkan materi perang dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).
" Perang adalah bagian dari fakta sejarah umat Islam. Tidak benar kalau itu akan dihapus," ujar Ahmad dalam keterangan tertulisnya, Senin 16 September 2019.
Menurut Ahmad Umar, dalam melakukan review kurikulum, Kemenag melakukan beberapa kajian, seperti pendidikan sejarah Islam itu harus membentuk karakter yang dapat membekali muatan kognitif dan psikomotorik siswa.
" Review lebih untuk menonjolkan bagaimana setiap fakta sejarah itu menjadi tonggak pembangunan peradaban," kata dia.

Buku Sejarah Kebudayaan Islam (Foto NU Online)
Selain itu, Kemenag juga harus memberikan fakta sejarah yang lengkap dalam rangka penguatan visi pendidikan. Dengan dasar itulah, materi perang dalam buku SKI tidak akan sepenuhnya dihapus.
" Kalau sebelumnya peperangannya yang dijadikan tonggak sejarah, ke depan, tonggak pendidikan sejarah kebudayaan Islam adalah lebih menitikberatkan pada pembangunan peradaban dan kebudayaan Islam," ucap dia.
Nantinya, buku SKI akan lebih menitikberatkan pada nilai-nilai kejayaan Islam dan cara Rasulullah SAW menyebarkan Islam dengan cara yang santun.
Dream - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama akan membuat buku sejarah kebudayaan Islam (SKI), tanpa memasukkan cerita peperangan yang dilakukan Rasullah SAW. Buku SKI tersebut rencananya akan mulai terbit tahun depan.
" Dilakukan untuk tahun yang akan datang. Sengaja dilakukan seperti itu agar Islam itu (dikenal) tidak hanya perang," ujar Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar di kantornya, Jakarta, Jumay 13 September 2019.
Dalam buku SKI itu, nantinya akan berisi pengajaran mengenai kejayaan Islam yang disebarkan oleh Rasullah SAW hanya dalam kurun waktu 22 tahun saja.
" Kita angkat bukan sisi perangnya tapi perjuangan-perjuangan Rasulullah dan sirah nabaiyah, dalam membawa Islam yang damai, Islam yang menyejukkan, Islam yang tidak keras. Intinya itu," kata dia.
Ahmad menjelaskan, Kemenag membuat perlombaan dalam menyusun materi buku SKI tanpa materi perang itu. Nantinya, Kemenag akan melakukan uji publik terlebih dahulu sebelum disebar ke madrasah-madrasah.
" Ini baru kita proses dan ini melalui lomba, kita lombakan supaya kompetitif, harus guru agama, harus guru umum karena konten science dan guru yang nanti membimbing. Ini upaya kami untuk menumbuhkan generasi yang humanis toleran yang bisa peduli terhadap lingkungan," ucap dia.
Buku SKI tanpa materi perang itu nantinya akan diterapkan di semua level yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
Dream - Negara sempalan Uni Soviet, Uzbekistan menyimpan daya tarik kesejarahan. Di negara ini, sejumlah ulama ahli bidang filsafat, kedokteran, dan matematika.
Kepala Bidang Bayt Al-Quran LPMQ Kementerian Agama (Kemenag) Nani Sutiati, Uzbekistan melahirkan ulama yang ahli di bidang ilmu pengetahuan, baik filsafat, kedokteran, maupun matematika. Nani menyebut sejumlah nama, antara lain, Ibnu Sina dan al-Khawarizmi.
Sementara dalam bidang tasawuf, Uzbekistan melahirkan al-Kalabazi, penulis kitab tasawuf terkenal. Negeri di kawasan Asia Tengah ini juga melahirkan banyak tarekat, yang paling terkenal adalah Tarekat an-Naqsyabandiyah.
“ Uzbekistan terkenal dengan kota-kota tuanya, di antaranya Samarkand, Tashkent, Tirmiz, Khiva dan lain-lain,” kata Nani, Rabu, 6 Februari 2019.

Di Nusantara, kata Nani, jejak ulama Uzbekistan juga terlihat pada masa islamisasi Nusantara, sekitar abad ke-14 Masehi. Di Jawa, tokoh islamisasi yang mahsyur berasal Samarkand, yaitu Syekh Asmorokondi (as-Samarqandi) yang dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.
Beberapa berita menyebutkan, Syekh Asmorokondi merupakan sesepuh para wali di Jawa, ayah dari Sunan Ampel.
Selain itu, diceritakan Syekh Jumadil Kubro, yang disebutkan sebagai ayahnya Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak, juga berasal dari Uzbekistan.
Tetapi, hingga saat ini, tidak banyak ditemukan sumber-sumber sejarah tentang kedua tokoh tersebut kecuali dari bukti arkeologis berupa nisan makamnya yang saat ini sangat ramai diziarahi.
Untuk menggali jejak sejarah Islam di Uzbekistan itu, Kemenag dan Kementerian Pariwisata Uzbekistan rencananya akan menggelar pameran foto bertajuk Uzbekistan Negeri Para Imam di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, 7 hingga 17 Februari 2019. Nani mengatakan, pameran digelar dalam rangka memperingati satu tahun bebas visa WNI ke Uzbekistan.
“ Pameran dibuka Kamis, 7 Februari 2019 pukul 09.00 WIB oleh Duta Besar Uzbekistan, Dr Ulugbek Rozukulov, bersama Prof Dr ES Margianti SE, MM, Rektor Universitas Gunadarma, dan Prof Abd Rahman Mas’ud, Ph.D., Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI,” kata dia.
Nani mengatakan, pameran dan seminar yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia ini diharapkan akan membuka wawasan masyarakat Indonesia tentang negeri di Asia Tengah dengan banyak peninggalan peradaban Islam.
Advertisement