Bupati Banyumas Tenangkan Warga (YouTube)
Dream - Bupati Banyumas, Achmad Husein, terjun langsung menangani pemakaman jenazah positif terjangkit virus corona. Dia turut menggali liang untuk jenazah tersebut.
Husein sempat berseteru dengan warga akibat tidak ada yang mau memakamkan jenazah itu. Bahkan warga juga menolak jenazah tersebut dimakamkan di lingkungan mereka di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekucen.
Mobil ambulans yang membawa jenazah tersebut sempat dihadang warga. Mengetahui hal itu, Husein turun tangan didampingi Kapolresta Banyumas, Komisaris Besar Wishnu Caraka untuk menenangkan warga.
" Saya aja nggak takut," ujar Husein di depan warga yang menghadang ambulans, dikutip dari Pojoksatu.
Aksi Husein sempat terekam kamera dan diunggah di channel Youtube Kancamu. Dalam video tersebut, Bupati Banyumas tersebut mengatakan warga salah pengertian.
Warga setempat ketakutan tertular virus corona. Husein berusaha menjelaskan bahwa virus corona hanya dapat bertahan di tubuh orang hidup.
" Virus itu adanya di orang hidup, bukan di orang mati," terang Husein.
Setelah mendengar penjelasan Husein, warga akhirnya mengizinkan jenazah dimakamkan di TPU tersebut.
Laporan: Razdkanya Ramadhanty
Dream - Majelis Ulama Indonesia meminta masyarakat tidak menolak pemakaman jenazah yang meninggal akibat virus corona. Imbauan ini disampaikan MUI lantaran mulai muncul penolakan dari masyarakat ketika jenazah hendak dimakamkan.
" Masyarakat tidak boleh menolak pemakaman korban wabah corona atau wabah penyakit apapun karena proses pemakaman korban wabah penyakit ditangani oleh petugas medis yang sangat profesional, tidak oleh masyarakat umum," ujar Wakil Ketua Komisi Hukum MUI, Anton Tabah, dikutip dari Merdeka.com.
Anton mengatakan sudah ada prosedur yang jelas terkait pemakaman jenazah Covid-19. Sehingga, masyarakat tidak perlu takut tertular karena semua prosedur dijalankan oleh petugas khusus.
" Jangan takut tertular karena setelah dikuburkan masih disemprot cairan disinfektan pembasmi kuman virus coronanya yang langsung hilang dalam hitungan menit," kata dia.
Anton juga menyesalkan adanya perspektif warga yang menganggap buruk kematian orang terkena virus corona. Sehingga muncul larangan untuk mendekati jenazah.
" Berarti akan sedikit yang melayat yang menyolatkan jenazahnya bahkan keluarganya pun tak boleh dekat mayat tak boleh ikut menguburkan kecuali melihat dari jauh karena semua prosesi jenazah harus dilakukan tim medis pemerintah yang terlatih," kata dia.
Anton pun menegaskan mereka yang mati karena virus corona maupun wabah lainnya adalah syahid. Berarti, mereka akan masuk surga tanpa hisab.
Dia mendasarkan pendapatnya pada tiga hadis, masing-masing diriwayatkan Imam Bukhari, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai. Tiga hadis itu menyebut tujuh penyebab kematian syahid selain perang yaitu karena tha'un (wabah) tenggelam, sakit radang selaput dada, sakit perut, terbakar, tertimpa reruntuhan, muslimat yang sedang hamil atau ketika melahirkan, juga meninggal ketika Sholat Isya' dan Subuh.
" Namun tidak termasuk mati syahid jika sengaja ingin mati dalam wabah penyakit tersebut. Ini artinya kita harus ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan mentaati aturan dari ulama dan pemerintah yang otoritatif tentang masalah ini," kata Anton.
Lebih lanjut, Anton meminta semua pihak memberikan penjelasan pada masyarakat tentang proses pemakaman jenazah Muslim akibat Covid-19. Apalagi, MUI telah menerbitkan fatwa mengenai tata cara pengurusan jenazah positif corona hingga memakamkannya.
" Terjadinya penolakan tersebut akibat kurangnya komunikasi dan informasi pada masyarakat," kata dia.
Sumber: Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu