Jadi Korban Bullying, Mata Gadis 7 Tahun Dimasuki Puluhan Gulungan Kertas

Reporter : Sugiono
Jumat, 15 November 2019 12:11
Jadi Korban Bullying, Mata Gadis 7 Tahun Dimasuki Puluhan Gulungan Kertas
Dua murid laki-laki memegang tangannya erat-erat. Sementara anak yang lain memasukkan potongan kertas itu ke dalam kelopak matanya.

Dream - Anak perempuan berusia tujuh tahun di China berteriak kesakitan ketika dokter mengeluarkan lusinan kertas kecil yang tersangkut di kelopak matanya.

Puluhan kertas kecil itu sepertinya dimasukkan secara sengaja. Anak perempuan itu kemungkinan jadi korban bully teman-teman sekelasnya.

Menurut korban yang tak disebutkan namanya, awalnya teman-teman sekelasnya memotong kertas menjadi kecil-kecil.

Dua murid laki-laki kemudian memegang tangannya erat-erat. Sementara anak yang lain memasukkan potongan kertas itu ke dalam kelopak matanya.

Orangtuanya baru mengetahui tentang kejadian itu ketika melihat potongan kertas keluar terus dari mata anak mereka selama dua bulan terakhir.

Masalah tersebut tentu saja membuat sang ibu merasa khawatir karena potongan kertas bisa saja merusak penglihatan anaknya.

Sayangnya, dokter yang memeriksa anak perempuan itu tidak dapat memastikan apakah semua potongan kertas itu bisa dikeluarkan.

Sementara itu, kepala guru Sekolah Dasar Dajian di Kota Yuzhou di Provinsi Henan mengatakan tidak ada guru saat insiden bullying itu terjadi.

Menyusul insiden itu, Biro Pendidikan dan Olahraga Yuzhou menginstruksikan sekolah untuk mengatur sesi konseling bagi para korban.

Biro juga menyampaikan rasa penyesalan dan kritik terhadap aksi bullying yang terjadi di Sekolah Dasar tersebut.

1 dari 5 halaman

Pesan Terakhir Murid SD Korban Bully: Tuhan, Tolong Cabut Nyawa Saya

Dream - Karena tidak tahan terus-terusan jadi korban perundungan, seorang anak SD kelas 2 di Sydney, Australia menulis pesan bunuh diri kepada gurunya.

" Tuhan, tolong cabut nyawa saya," itulah kata-kata pada pesan yang ditinggalkan oleh Jack Wilkinson.

Seminggu sebelum insiden, pesan bunuh diri itu ditinggalkan di atas meja gurunya. Jack mengaku dipukuli oleh teman-teman sekelas selama 10 menit.

Menurut ibunya, Kristy Sturgess, Jack memiliki masalah Anxiety Disoder atau gangguan kecemasan yang dialaminya sejak usia muda.

Karena itu, Jack terpaksa bertahan dengan segala kekejaman yang diterimanya di sekolahnya.

2 dari 5 halaman

Awalnya Hanya Dibully Secara Verbal

Menurut Kristy, awalnya Jack hanya menjadi korban perundungan verbal. Dia disebut gila oleh teman-temannya.

Namun semuanya berubah ketika dia masuk kelas 2. Jack mulai menerima perundungan secara fisik. " Selalu ada saja teman yang melihat Jack menjadi sasaran empuk bullying," kata ibunya.

Kata Kristy, ketika Jack berusia 6 dan 7 tahun, dia pulang dari sekolah sambil menangis dan memohon agar diizinkan tidak pergi ke sekolah lagi.

Jack sebenarnya telah menjadi korban bullying sejak hari pertama masuk kelas 2.

Pada awalnya, dia hanya dipukul di bagian kepala beberapa kali sebelum menjadi korban bullying yang lebih buruk.

Bullying fisik selama 10 menit itu terjadi di taman bermain dan dilaporkan oleh saudara kembar Jack, Hunter.

Seminggu kemudian, Jack menulis pesan bunuh diri di atas meja gurunya di sekolah.

3 dari 5 halaman

Menjalani Terapi Seni

Untungnya, kondisi Jack yang semakin buruk tersebut segera disadari oleh berbagai pihak.

Untuk mengatasi gangguan kecemasan dan menyelamatkan Jack dari menjadi korban bullying lagi, ibunya mengajak Jack untuk menjalani terapi seni.

Jack mulai menunjukkan perubahan positif. Jack memiliki bakat seni yang baik. Dengan bakat seni, Jack mampu mengatasi kecemasan dan trauma bullying yang dialaminya.

Tidak ingin berhenti di situ, Jack dengan bantuan ibunya membuat gambar pada kaos untuk dijual secara online.

Hasil penjualan kaos akan disumbangkan ke Kid's Hepline, sebuah badan amal yang akan memberikan bantuan kepada anak-anak yang mengalami nasib serupa dengan Jack.

Sumber: Siakapkeli.my

4 dari 5 halaman

Geger Korban Bullying Disuruh Jilat Aspal dan Menggonggong

Dream - Aksi bullying di kalangan pelajar seolah tak ada habisnya. Rekaman demi rekaman aksi pelecehan di antara para pelajar terus bermunculan. Mengundang keprihatinan banyak orang.

Video rekaman terbaru muncul di Malaysia. Sebuah video aksi bullying terhadap siswa sekolah menengah pertama beredar di jejaring sosial Facebook. Masyarakat negeri jiran menilai pelecehan itu sangat tak manusiawi.

Dalam video itu terlihat siswa yang masih berseragam sekolah dan menggendong tas disuruh bersujud. Sejumlah remaja yang mengelilinginya meminta korban untuk menjulurkan lidah dan menjilat aspal jalanan.

Tak hanya itu, dalam video berdurasi 35 detik ini korban bullying diminta menggonggong. Bak anjing. Banyak pengguna media sosial di Malaysia mengutuk aksi ini. Sungguh memprihatinkan.

Video itu mulai beredar sejak Sabtu pekan lalu. Aksi pelecehan ini diduga terjadi di Petaling Jaya. Polisi setempat sudah menangkap enam remaja pelaku pelecehan ini. Mereka berumur 18 hingga 20 tahun.

" Para tersangka ditahan pada hari Senin. Kami juga menyita enam Ponsel. Mereka ditahan hingga hari Kamis," tutur polisi setempat, Mohd Zani Che Din.

Dia menambahkan, penyidikan menunjukkan korban pelecehan ini berusia 14 tahun, siswa sekolah menengah di Sea Park. Dan pelecehan ini terjadi pada akhir bulan lalu.

" Para tersangka meminta korban menjilati jalan dan menggonggong seperti anjing setelah mereka dituduh memotret perempuan tanpa izin," tambah Mohd Zani.

Hentikan segala bentuk bullying!

5 dari 5 halaman

Di-bully 8 Tahun Lalu, Wanita Berhijab Ini Akhirnya Buka Suara

Dream - Fenomena bully di media sosial sudah lama terjadi. Siapa pun bisa mengalami cacian, makian, dan olok-olok, di jejaring sosial. Sebab, di sanalah orang bisa bebas berlaku apapun. Termasuk melakukan bully.

Dan cara setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menyikapi bully. Seperti wanita berhijab asal Malaysia ini. Perempuan yang tak disebut namanya itu di-bully 8 tahun silam. Pada 2007, fotonya beredar di Facebook. Dia tampil dengan baju merah dan hijab putih, tengah memegang babi.

Foto itu tersebar luas. Menjadi viral. Dan hasilnya bisa ditebak. Ribuan orang menghujat. Melontarkan segala caci maki. Sebagai wanita berhijab, dia dianggap tak pantas berpose dengan babi. Apalagi “ seolah” dengan bangga.

Dalam ajaran Islam, babi memang diharamkan. Namun, apakah dengan itu semua orang yang tak tahu latar belakang dari foto itu “ dihalalkan” melontarkan hujatan? Kala itu, wanita ini seolah mengalami “ pembunuhan karakter”.

Namun beberapa hari yang lalu, wanita itu buka suara atas apa yang dia alami 8 tahun silam. Dia menjelaskan bahwa gambar itu merupakan foto koleksi pribadi yang disebarkan oleh orang lain tanpa izin.

Perempuan itu mengaku sebagai dokter hewan. Dan foto itu diambil saat belajar di kampus. Sebagai mahasiswi kedokteran hewan, sudah tentu dia bersentuhan dengan hewan-hewan, baik sebagai pasien maupun objek penelitian.

Perempuan ini juga mengaku sengaja menahan diri saat mendapat bully 8 tahun silam. Dia tak bereaksi dengan berbagai tuduhan. Sebab, dia yakin semua orang yang mencemooh itu tak tahu-menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“ Selama 8 tahun saya berdiam diri dengan tuduhan, cacian, fitnah, seperti murtad, penghinaan kepada ibu dan ayah saya karena telambesarkan saya, gertakan, ancaman dan sebagainya.. karena saya menganggap kalian mungkin tak mengetahuinya,” demikian kata wanita itu, sebagaimana dikutip Dream dari Siakapkeli.my, Selasa 29 Desember 2015.

Dalam pengakuan itu, wanita ini menjelaskan bahwa sebagai mahasiswi kedokteran hewan dia wajib berinteraksi dengan hewan.

“ Harap maklum, Dokter Hewan meliputi segala jenis hewan untuk pembelajaran dan kajian seperti penyakit-penyakit yang mungkin menjangkiti hewan dan manusia,” tambah dia.

Memang, sejumlah penyakit manusia bisa ditularkan oleh hewan, seperti H1N1, Virus Nipah, Rabies atau anjing gila, Leptospirosis, Flu Burung, dan sebagainya.

Jadi.... jika melihat foto yang tidak diketahui asal usulnya, apakah kita harus melontarkan cacian dengan gampang? Ini perenungan bagi kita semua. (Ism) 

Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik