Meyakini Larangan Nikah Saat Muharram, Bagaimana Hukumnya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 4 September 2019 06:02
Meyakini Larangan Nikah Saat Muharram, Bagaimana Hukumnya?
Sebagian masyarakat masih menganggap Muharram sebagai bulan keramat.

Dream - Muharram adalah bulan mulia dalam Islam. Bulan ini mengandung banyak rahmat sehingga dianjurkan untuk memperbanyak amalan sholeh.

Tetapi, ada sebagian masyarakat justru memandang Muharram sebagai bulan keramat. Bahkan sampai ada ritual khusus memperingati bulan ini.

Mereka memanfaatkan Muharram untuk melakukan ritual seperti mencuci pusaka atau larung sesaji. Ini dijalankan dengan alasan untuk menolak bala.

Mereka juga meyakini pesta pernikahan tidak boleh dilakukan pada bulan ini. Dalam pandangan mereka, jika tetap digelar dapat mendatangkan bahaya dan rumah tangga tak bakal langgeng.

Jika meyakini hal ini, bagaimana hukumnya dalam syariat Islam?

Dikutip dari Bincang Syariah, sebagian masyarakat tradisional meyakini Muharram sebagai bulan renungan, mengingat kembali status manusia sebagai hamba. Sehingga, tidak baik membuat perayaan penuh rasa suka di bulan ini.

Pandangan ini dikaitkan dengan kepercayaan lama terkait dewa-dewa. Tidak jarang hal ini menjadi dilema bagi masyarakat yang notabene beragama Islam.

Di satu sisi, ada dorongan untuk melestarikan budaya leluhur. Di sisi lain, ada kewajiban untuk mempertahankan akidah.

1 dari 6 halaman

Tetap Boleh Melangsungkan Pernikahan

Mengenai masalah ini, dalam syariat Islam terdapat konsep sebab akibat. Terkait sebab sendiri dibagi menjadi tiga yaitu bersifat syar'i, 'adiy, dan 'aqliy.

Pembahasan ini diarahkan kepada sebab bersifat 'adiy. Sebab 'adiy berkaitan dengan adat atau kebiasaan yang dapat menimbulkan akibat tertentu.

Kepercayaan mengenai larangan menikah di bulan Muharram masuk kategori ini. Sedangkan mengenai larangan tersebut, Ibnu Ziyad memberikan tanggapan dalam fatwanya yang terekam dalam Ghayah Talkhis Al Murad.

" Jika ada seseorang menanyakan 'Apakah malam ini/itu atau hari ini/itu bagus untuk melangsungkan akad, atau pindah rumah?' maka tidak perlu diberi jawaban. Karena Allah sangat melarang keyakinan seperti itu, tidak perlu menghiraukan orang yang mempercayainya. Syaikh Ibn Al Farkah menuturkan dari Imam As Syafi'i bahwa beliau berpendapat jika seorang ahli nujum berkata dan berkeyakinan bahwa tidak ada yang bisa membuat takdir selain Allah namun biasanya Allah mentakdirkan hal ini/itu terjadi jika seperti ini/itu, maka menurut saya hal ini tidak dilarang."

Pandangan ini menjelaskan larangan menikah di bulan Muharram tidaklah hal yang perlu diperhatikan. Orang yang ingin melaksanakan pernikahan saat Muharram dibolehkan untuk menjalankannya dan tidak perlu memperhatikan kepercayaan orang lain mengenai bala.

(ism, Sumber: Bincang Syariah)

2 dari 6 halaman

Mengisi Muharram dengan Amalan Utama Ini

Dream - Bulan Muharram telah hadir menyapa kita. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Kemuliaan dalam Muharram sangat penting untuk diraih. Ada amalan yang sangat dianjurkan untuk meraih keutamaan tersebut.

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, Abu Hurairah menyampaikan kisah pertemuan Rasulullah dengan seseorang.

" Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, 'Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal? Rasulullah menjawab, 'Puasa di bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram'."

3 dari 6 halaman

Puasa Muharram

Dikutip dari NU Online, hadis ini menyebutkan amalan utama di bulan Muharram. Amalan tersebut yaitu puasa sunah. Hal ini dikuatkan dengan hadis riwayat Imam Muslim.

" Puasa yang paling utama setelah Ramadan ialah puasa di bulan Allah, Muharram."

Imam An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan hadis di atas menjadi dalil keutamaan puasa Muharram. Dalam riwayat lain menyebutkan Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya'ban dapat dipahami dalam dua penafsiran.

Penafsiran pertama, ada kemungkinan Rasulullah baru mengetahui keutamaan puasa Muharram di akhir hayat. Sedangkan penafsiran kedua, Rasulullah mungkin sudah paham keutamaannya namun tidak memperbanyak puasa di bulan Muharram karena ada uzur seperti sakit dan lain sebagainya.

4 dari 6 halaman

Keutamaan Puasa Muharram

Al Qurthubi, seperti dikutip As Suyuti dalam Ad Dibaj 'ala Shahih Muslim memberikan penjelasan demikian.

" Puasa Muharram lebih utama disebabkan awal tahun. Alangkah baiknya mengawali tahun baru dengan berpuasa, sebab puasa termasuk amalan yang paling utama."

Membuka tahun dengan puasa sunah merupakan amalan yang tepat. Ini mengingat Muharram adalah bulan mulia dan kira bisa meraihnya dengan amalan sunah puasa.

Sumber: NU Online.

5 dari 6 halaman

Niat Puasa Sunah Awal Muharram, Boleh Diucapkan di Pagi Hari

Dream - Setiap kali memasuki awal bulan di tahun Hijriah, kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sholeh. Saat memasuki awal tahun penanggalan Islam ini, 10 hari pertama Muharam merupakan momen yang penuh keberkahan

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia di luar Ramadan selain Rajab, Dzulqaidah dan Dzulhijah. Bahkan Muharram dianggap memiliki derajat lebih tinggi setelah Ramadan.

Mengisi sepuluh hari awal hijriah dianjurkan dengan melaksanakan puasa sunah Muharam. Tetapi, patut diingat sunah ini berlaku umum. Artinya, amalan puasa sunah di 10 pertama berlaku untuk semua bulan.

Seperti di bulan lainnya, kita juga dianjurkan memulai ibadah ini dengan membaca niat puasa sunah Muharam. Namun begitu, niatnya bisa diucapkan di malam hari sebelumnya atau setelah matahari terbit.

Inilah yang membedakan puasa sunah dengan puasa wajib Ramadan. Pada Puasa Ramadan, niat dilakukan pada malam hari sebelumnya dan tidak sah pada siang hari.

 

6 dari 6 halaman

Niat Puasa Sunah Awal Muharram

 Niat Puasa Awal Muharram

Nawaitu shouma muharramin sunnatal lillahi ta'ala

Artinya,

" Saya niat puasa Muharram sunah karena Allah Ta'ala."

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting