Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula
Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A
Mengapa AC Mobil Listrik Tetap Bisa Aman Menyala Meski Mesin Mati?
Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya
Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan
Profesor Sejarah Pada University College London, Catherine Hall (arabnews.com)
Dream - Seorang akademisi Inggris menolak penghargaan akademis bergengsi dari Israel. Penolakan tersebut didasari pada sikap politik dari akademisi tersebut.
Profesor Sejarah University College London Catherine Halla menolak penghargaan dari The Dan David Foundation dan hadiah sebesar US$300.000, setara Rp4 miliar.
Langkah Catherine terinspirasi oleh gerakan BDS internasional yang menyerukan boikot dan sanksi kepada Israel.
Catherine terpilih mendapat penghargaan ini karena karyanya dinilai membawa dampak pada disiplin sejarah sosial serta menjadi pelopor pada sejarah gender, ras, dan perbudakan.
Tetapi, pakar sejarah beraliran feminis ini tidak mau hadir dalam acara penganugerahan yang dihelat di Universitas Tel Aviv.
Dalam pernyataan resminya, Catherine mengatakan dia menolak penghargaan tersebut setelah berdiskusi dengan sejumlah pihak yang terlibat dalam isu politik Israel-Palestina. " Tapi dengan pandangan yang berbeda ketika menentukan sikap," ucap dia.
Catherine mengikuti langkah David Shulman, Profesor Kajian Humanistik Renee Lang di Universitas Hebrew Jerusalem, yang memilih menyumbangkan Penghargaan untuk Kajian Agama Israel yang dia raih kepada Ta'ayush, komunitas Israel yang membantu warga Palestina di Bukit Hebron Selatan.
Dia menyebar sebuah video yang mendokumentasikan serangan kepada warga Palestina oleh warga pendudukan.
Profesor Emeritus Kajian Klasik pada Universitas Exeter Richard Seaford, yang juga merupakan anggota kelompok pro-Palestina, Komite Inggris untuk Universitas-universitas Palestina mengatakan langkah Israel merupakan bentuk penjajahan ilegal.
" Tindakan represif pemerintah Israel menodai penghargaan yang mewah," kata dia.
" Untuk akademisi di luar Israel, boikot seluruh aktivitas yang berhubungan dengan negara Israel," lanjut dia.
Sumber: arabnews.com
Advertisement

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan

Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya


Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran

Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah