Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
(Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream - Seringkali para orang tua khawatir dengan energi si buah hati yang begitu besar. Mereka seperti tak kenal lelah bermain dan bisa aktif seharian. Selain kehabisan tenaga rasa cemas muncul jika si kecil luput dari pengawasan.
Ada saja tingkah laku yang kadang membuat kita sebagai orang tua kaget dan terheran-heran. Sehingga secara tak sadar, bisa juga sadar, kita sering melontarkan kata " jangan" atau " tidak boleh" kepada si kecil.
Padahal, kita sudah tahu jika terlalu sering melarang anak di usia balita, akan membuatnya menjadi pribadi yang penakut dan kurang kreatif. Dan kita juga paham jika si kecil belum bisa membedakan mana hal baik dan buruk untuk perkembangannya.

Foto: Ilustrasi/Shutterstock
Rasa geram dengan perilaku anak juga pernah dirasakan blogger hijab asal Pasuruan, Dewi Nadzifah.
Melalui situs pribadinya, ia menceritaka buah hatinya, Nisa, yang berusia di bawah tiga tahun, kerap tidak bisa diam.
" Sering sekali naik turun meja sendiri ataupun memanjat dan menaiki sepeda motor yang sedang parkir di dalam rumah," ujarnya.
" Awalnya sering sekali saya melarang anak saya untuk melakukan hal tersebut, tapi hal yang saya lakukan justru sia-sia saja. Nisa malah lebih sering memanjat meja dan sepeda tiap kali dia menemukan kesempatan, semakin dilarang semakin dia sering melakukannya, seakan apa yang dilakukannya memang sengaja untuk menarik perhatian kita," curhat Dewi soal Nisa, anak perempuannya.

Foto: Ilustrasi/Shutterstock
Melihat tingkah sang buah hati yang semakin 'menjadi' ketika dilarang, akhirnya Dewi pun memutuskan untuk menerapkan pola asuh yang demokratis.
Maksudnya di sini Dewi membiarkan Nisa melakukan apa yang ia inginkan namun masih dalam pengawasan sang ibu.
Rupanya cara ini juga jadi bahasan ketika Dewi menghadiri suatu pertemuan orang tua murid.
Dari hasil diskusi itu, Dewi pun menyimpulkan bahwa mengizinkan anak bereksplorasi dan menghindari kata 'jangan' memiliki banyak manfaat buat anak.
Apa saja manfaatnya? Sahabat Dream simak lengkapnya di sini.
Kirimkan tips parenting ala kamu ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin di-publish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res (tidak blur)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya