Jika Indonesia Resesi, Jangan Panik!

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 6 Agustus 2020 09:13
Jika Indonesia Resesi, Jangan Panik!
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II negatif 5,32 persen.

Dream - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 sebesar -5,32 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi merupakan kontraksi terdalam sejak kuartal I-1999 yang tercatat sebesar -6,13 persen.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, mengatakan, wabah pandemi Covid-19 membatasi aliran manusia, barang, juga uang, dampaknya sangat luar biasa.

Dengan keterbatasan aktivitas sosial ekonomi, maka kegiatan konsumsi, investasi dan juga ekspor impor di semua negara mengalami penurunan yang sangat tajam.

" Semua negara diyakini tinggal menunggu waktunya saja untuk menyatakan secara resmi sudah mengalami resesi. Proses resesinya sendiri sudah berlangsung sejak awal tahun ketika wabah Covid mulai melanda China dan menyebar ke berbagai negara," ujar Piter, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 6 Juli 2020.

1 dari 3 halaman

Indonesia, sebagaimana negara lain, diperkirakan juga akan mengalami resesi. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II negatif 5,32 persen.

Hal yang sama juga diprediksi akan terjadi pada kuartal III dan IV. Apabila perkiraan ini benar-benar terjadi, maka Indonesia pada bulan Oktober nanti akan secara resmi dinyatakan resesi.

" Meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, masyarakat tidak perlu panik. Sekali lagi resesi sudah menjadi sebuah kenormalan baru di tengah wabah. Hampir semua negara mengalami resesi. Yang lebih penting adalah bagaimana dunia usaha bisa bertahan di tengah resesi," paparnya.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Resesi Berpotensi Dialami Semua Negara

Ilustrasi Resesi© Shutterstock

Jika dunia usaha terus ditopang dan bisa bertahan, tidak mengalami kebangkrutan, maka Indonesia akan bisa bangkit Kembali dengan cepat ketika wabah sudah berlalu.

" Kita optimis dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah melalui program PEN, kita akan bisa meningkatkan daya tahan dunia usaha kita, dan kita akan recovery pada tahun 2021," kata Piter.

3 dari 3 halaman

Piter menambahkan, semua negara berpotensi mengalami resesi. Perbedaannya hanya masalah kedalaman dan kecepatan pulih atau recovery.

Negara-negara yang bergantung kepada ekspor atau kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi sangat tinggi akan mengalami double hit.

" Sehingga kontraksi ekonominya akan jauh lebih dalam. Misalnya saja Singapura yang mengalami kontraksi ekonomi pada triwulan 2 hingga minus 41 persen. Disisi lain, negara-negara yang tidak secara cepat merespons dampak wabah Covid, menyelamatkan perekonomiannya, berpotensi jatuh ke jurang krisis, yang artinya proses recovery akan berjalan lambat," tandasnya.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar