Zakatnesia, Gaya Hidup Baru Muslim Indonesia

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 10 Mei 2016 11:02
Zakatnesia, Gaya Hidup Baru Muslim Indonesia
Mengentaskan kemiskinan bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga masyarakat.

Dream - Mengentaskan kemiskinan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaannya. Ada puluhan juta rakyat miskin yang harus dientaskan.

Namun, tugas ini bukanlah tugas pemerintah semata. Masyarakat pun bisa turut berpartisipasi.

" Bagi seorang miskin, kontribusi yang bisa diberikan adalah mengeluarkan kewajiban 2,5 persen dari penghasilannya setiap bulan, yaitu zakat," kata Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, di Jakarta, dikutip dalam keterangannya kepada Dream, Selasa 10 Mei 2016.

Ahmad mengatakan zakat memang merupakan kewajiban setiap muslim. Selain bisa membersihkan hartanya, zakat jug bermanfaat bagi para penerimanya. Dengan berzakat, masyarakat bisa belajar tentang nilai-bilai kepedulian dan empati terhadap sesamanya yang membutuhkan.

" Dengan berzakat, kita bisa berkontribusi menurunkan angka kemiskinan di negeri ini karena dananya disalurkan lewat lembaga zakat, lalu disalurkan lewat berbagai program pengentasan kemiskinan," kata dia.

Dengan semangat itu pula, Dompet Dhuafa mengusung tema kampanye Zakatnesia. Melalui kampanye Zakatnesia, Dompet Dhuafa berupaya mensyiarkan dan mengedukasi masyarakat terkait kekuatan zakat bagi pengentasan kemiskinan di Indonesia.

" Sebagai lembaga zakat, kami terus berupaya mengajak publik untuk bersama-sama berkontribusi terhadap Indonesia dengan zakat," ujar Ahmad yang juga merupakan Sekretaris Jenderal Forum Zakat Dunia (World Zakat Forum) ini.

Dia memaparkan Zakatnesia adalah gaya hidup berzakat yang telah membudaya di Indonesia, di mana zakat telah menjadi kebiasaan untuk ditunaikan umat Islam di Indonesia. Zakatnesia juga memiliki semangat bahwa zakat jika dioptimalkan dan dikelola dengan baik akan terasa manfaatnya dalam membantu mengatasi kemiskinan di Indonesia.

" Dengan Zakatnesia telah terbukti zakat membawa berkah bagi bangsa Indonesia," kata dia.

Ahmad mengatakan, selama 22 tahun (1993-2015), penerima manfaat berbagai program sosial dan pengentasan kemiskinan lembaga ini mencapai 12,66 juta jiwa. Penerimanya tersebar di 34 provinsi dan 17 negara.

Ahmad memaparkan hasil riset keberhasilan pengurangan kemiskinan para penerima manfaat program cukup menggembirakan. Riset yang dilakukan lembaga Social Investment Indonesia (SII) dan Divisi Penelitian dan Pengembagan Dompet Dhuafa ini melaporkan, dari 100 persen jumlah penerima manfaat miskin pada tahun 2012, mampu terkurangi 44 persen pada tahun 2015.

" Riset ini dilakukan terhadap 420 responden penerima manfaat program ekonomi Dompet Dhuafa di lima daerah. Dari jumlah responden tersebut, sebanyak 78 persen berstatus miskin dan 16 persen berstatus rawan miskin," kata dia.

Sekadar informasi, pada tahun 2015 Dompet Dhuafa menghimpun dana umat sebesar Rp263,68 miliar. Zakat masih menjadi sumber pendanaan tertinggi, selain infak, sedekah, dan wakaf, dengan presentasi 54,73 persen. Sedangkan untuk penyaluran di 2015, Dompet Dhuafa mendayagunakan dana umat sebesar Rp195,48 miliar.

" Dana tersebut telah disalurkan sesuai peruntukannya," kata dia.

Beri Komentar