Festival Ekonomi Syariah 2019 Hasilkan Komitmen Transaksi Rp4,71 T

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 17 September 2019 17:48
Festival Ekonomi Syariah 2019 Hasilkan Komitmen Transaksi Rp4,71 T
Transaksi ini tercatat di Festival Ekonomi Syariah Sumatera dan Kawasan Timur Indonesia.

Dream Penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di Sumatera dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) pada Agustus dan September 2019 menunjukkan perkembangan positif.

Perkembangan itu tercermin dari tingginya komitmen transaksi melalui kegiatan temu bisnis (business matching) yang mencapai Rp4,71 triliun, jauh melonjak dari tahun lalu yang hanya sebsar Rp1,9 triliun.

Dikutip dari Bank Indonesia, Selasa 17 September 2019, FESyar Sumatera dan KTI 2019 juga mencatat transaksi penjualan UMKM produk kreatif senilai Rp11 miliar, baik yang melalui penjualan langsung (direct selling) maupun dalam bentuk akad kontrak. Dari sisi pengunjung, FESyar Sumatera dan KTI 2019 dihadiri sekitar 52 ribu orang selama pelaksanaan kegiatan.

Prestasi ini diharapkan dapat berulang dalam penyelenggaran Fesyar Regional Jawa di Surabaya pada November mendatang. Seluruh rangkaian FESyar di tiga wilayah merupakan langkah awal menuju suksesnya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, yang akan direfleksikan dalam pergelaran Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2019 yang berskala internasional pada November mendatang di Jakarta.

Sebagai FESyar pertama di tahun 2019, FESyar Sumatera yang mengangkat tema “ Penguatan Ekonomi Syariah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Regional”, membukukan jumlah pengunjung 11 ribu orang, komitmen transaksi melalui business matching senilai Rp2,11 triliun, dan transaksi penjualan UMKM kreatif Rp5,6 miliar yang berasal dari 84 booth.

Sementara itu, FESyar KTI mengantongi pengunjung sebanyak 41 ribu orang, komitmen transaksi melalui business matching senilai Rp2,6 triliun, transaksi penjualan UMKM produk kreatif melalui akad perbankan syariah sebesar Rp5,36 miliar dari 44 booth. Transaksi ini terdiri atas tunai Rp1,78 miliar, nontunai Rp1,68 miliar, dan akad kontrak Rp1,9 miliar.

Sekadar inforomasi, FESyar terdiri atas tiga acara, yaitu shari’a fair, shari’a forum, dan business matching, dengan turut menghadirkan tokoh/penggiat ekonomi syariah baik di tingkat lokal, regional maupun nasional.

FESyar merupakan kegiatan yang diinisiasi BI, melalui sinergi dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Pemerintah Daerah, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), Perguruan Tinggi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) dan pihak terkait lainnya.

FESyar yang diselenggarakan dan diisi dengan berbagai program edukasi dan sosialisasi merupakan wujud nyata Bank Indonesia beserta stakeholders terkait dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Melalui langkah tersebut, peran ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber baru dalam mendukung pertumbuhan serta ketahanan perekonomian daerah dan nasional diharapkan semakin meningkat.

1 dari 3 halaman

UMKM Syariah Didorong Pasarkan Produk Secara Online

Dream – Bank Indonesia mendorong pelaku usaha syariah dan UMKM syariah untuk memasarkan produknya melalui e-commerce. Cara ini bisa memperluas akses pasar.

“ Peluang pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran didukung oleh tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia,” kata Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi, dalam acara Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia di Banjarmasin, Kalimatan Selatan, sebagaimana dikutip laman Bank Indonesia, Jumat 13 September 2019.

Rosmaya mengatakan, Bank Indonesia turut melakukan program pemasaran online (on boarding) untuk mendorong perluasan akses pasar UMKM. Program ini meliputi pembinaan, pendampingan, capacity building, dan fasilitas UMKM sesuai dengan klasifikasi kelasnya.

Sekadar informasi, acara ini bertema “ Bergerak Bersama Ekonomi Syariah”. Acara ini digelar selama 3 hari, yaitu 12—14 September 2019. Acara FESYAR ini merupakan rangkaian menuju FESyar Indonesia 2019 yang akan diselenggarakan November di Surabaya, Jawa Timur.

2 dari 3 halaman

Bauran Kebijakan BI

Kebijakan ekonomi dan keuangan syariah menjadi salah satu bauran kebijakan BI. Kebijakan ini dibuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi nasional, yang diwujudkan dalam tiga program utama.

Pertama, pengembangan ekonomi syariah dengan mengembangkan ekosistem halal value chain pada industri halal nasional.

“ Hal ini untuk mendorong produk-produk halal seperti makanan halal, busana Muslim, maupun pariwisata halal dapat dipasarkan kepada konsumen luar negeri yang mendorong ekspor dan devisa,” kata dia.

Kedua, melakukan pendalaman pasar keuangan syariah melalui penerbitan instrumen Sukuk Bank Indonesia (SUKBI).

Ketiga, BI melakukan kampanye untuk mendorong halal life style (yang mendukung M) diantaranya dengan menyelenggarakan kegiatan FESyar dan Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF).

 Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia.

Penyelenggaraan FESyar KTI yang meliputi wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali dan Nusa Tenggara, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para UMKM maupun pelaku industri halal atau yang menerapkan prinsip syariah untuk terus berkembang. FESyar KTI terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu shari’a fair, shari’a forum, dan business matching, dengan turut menghadirkan tokoh/penggiat ekonomi syariah baik di tingkat lokal, regional maupun nasional.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat mempertemukan antara supplier dan produsen, produsen dan distributor, produsen dan konsumen, maupun inventor dan investor pada industri halal nasional dalam rangka mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. 

3 dari 3 halaman

Ada Potensi Rp39.527 T, Pebisnis Sedunia Berebut Masuk Pasar Halal

Dream – Ketua Komite Tetap Timur Tengah dan OKI Kadin Indonesia, Fachry Thaib mengimbau pengusaha tak takut takut dengan rencana kewajiban sertifikat halal. Sebaliknya, Kadin mendesak agar pelaku usaha segera mensertifikasi halal produknya sebelum disalip negara lain.

“ Persaingan ekspor produk halal dunia meningkat secara signifikan seiring dengan peningkatan pertumbuhan konsumen,” kata Fachry di Jakarta, Selasa 9 Juli 2019.

Mengutip data dari Sidang Tahunan Islamic Chamber of Commerce Industry and Agriculture (ICCIA) di Jakarta tahun lalu, Fachry mengatakan perdagangan produk halal di dunia mencapai US$ 2,8 triliun atau sekitar Rp39.527,04 triliun.

 

 

Nilai raksasa perdagangan produk halal itu terdiri dari US$1,4 triliun (Rp19.763,52 trilun) untuk perdagangan makanan dan minuman, US$506 miliar (Rp7.143,1 triliun) untuk obat dan farmasi, kosmetik US$230 miliar (Rp3.246,86 triliun) dan produk lain US$660 miliar (Rp9.317,09 triliun).

Kadin Indonesia juga mendorong para pengusaha untuk segera mensertifikasi produknya agar lebih mudah untuk ekspor. Sebab, negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mulai memperhatikan sertifikasi produk halal.

" Pernah ada yang ketahan karena tidak ada label halal, padahal itu sudah bertahun-tahun produk tersebut masuk," kata dia.(Sah)

Beri Komentar
Adu Akting dengan Betari Ayu, Alvin Faiz Ceritakan Respon Sang Istri