4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Menteri Keuangan Sri Mulyani Mewanti-wanti Kondisi Ekonomi Global Yang Masih Dalam Tekanan
Dream - Menteri Keuangan Sri Mulyani (Menkeu) mengingatkan kondisi perekonomian dunia akan gelap gulita di tahun 2023. Meski ada perbaikan di pertengahan tahun, Menkeu menyatakan bakal banyak negara masuk ke jurang resesi.
Prediksi tersebut merujuk proyeksi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2023 hanya mencapai 2,1 persen. Proyeksi ini turun drastis dibandingkan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2022 yang bsa tumbuh 6,3 persen.
" Kondisi ekonomi global sekarang ini di dunia akan gelap gulita tahun 2023 karena pertumbuhan (ekonomi) dunia hanya 2,1 persen. Ini turun drastis dari pertumbuhan tahun sebelumnya 6,3 persen. Jadi diperkirakan banyak negara akan mengalami resesi," ungkapnya dalam Penyerahan Insentif Fiskal Kategori Kinerja Pengendalian Inflasi di Daerah, Senin, 31 Juli 2023.
Meski mewanti-wanti proyeksi dari IMF tersebut, Menkeu mengungkapkan kondisi perekonomian global ternyata berjalan lebih baik dari perkiraan semula.
" Sekarang situasi sudah tengah tahun dan kondisinya ternyata agak lebih baik dari yang diperkirakan semula," katanya.
Selain proyeksi pertumbuhan ekonomi yang turun tajam, Bendahara negara ini juga memaparkan volume perdagangan global sempat berada di level terendah dengan pencapaian mencapai 2,0 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun 2021 yang mencapai 10,7 persen.
Menurunnya volume perdagangan berdampak pada terbatasnya stok barang dan jasa yang akhirnya akan mendorong harga-harga menjadi naik dan inflasi.
" Inilah kenapa kemudian disrupsi yang terjadi, baik dari sisi supply maupun dari sisi perdagangan serta dari sisi distribusi itu akan sangat menentukan inflasi," lanjutnya.
Lebih lanjut, mantan Direktur Bank Dunia ini juga menyebut tahun 2022 menjadi tahun dengan inflasi tertinggi yakni 8,7 persen, dari yang tadinya hanya 0 persen atau mendekati nol.
" Negara maju bahkan beberapa negara mengalami deflasi kemudian melonjak menjadi 7,3 persen, relatif tinggi. Jadi menjadi turun, dan kalau permintaan turun maka kegiatan produksi akan mulai turun," katanya.
Sementara itu dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur per Juni 2023, mayoritas negara mengalami kontraksi mencapai 61,9 persen.

Data yang disampaikan Sri Mulyani kali ini merupakan data diantara negara G20 dan ASEAN-6 (tidak termasuk Arab Saudi, Argentina, Kanada dan Australia).
Dalam data tersebut, negara-negara besar bahkan masuk dalam kategori kontraksi diantaranya Amerika Serikat (AS), Eropa, Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Korsel, Malaysia, Vietnam, Italia, Brasil, Afrika Selatan, Singapura.
Sementara itu, negara yang bertahan di zona ekspansi dan akselerasi mencapai 14,3 persen. Kabar baiknya Indonesia masuk di zona ini bersama Turki dan Meksiko.
" Hanya 14,3 persen negara-negara yang mengalami ekspansi dan akselerasi, itu termasuk indonesia bersama Turki dan Meksiko," terangnya.
Adapun negara ekspansi melambat mencapai 23,8 persen, termasuk Tiongkok, Filipina, Thailand, India, Rusia.
" Ini yang menggambarkan bahwa dampak global perlemahan ekonomi akibat salah satunya inflasi yang menggerus daya beli sangat besar," imbuhnya.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
