Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kondisi ekonomi dunia yang masih belum stabil memberikan dampak hampir di semua negara. Neraca perdagangan goyah, industri di setiap negara hampir tak begerak.
Beragam cara ditempuh untuk memperbaiki kembali neraca perdagangan yaitu dengan kebijakan devaluasi (penurunan) mata uang dan proteksionisme. Cara ini dianggap relatif mudah untuk menggeliatkan kembali perekonomian negara di tengah daya beli masyarakat yang menurun dan menjaga industri dalam negeri.
Sayangnya, kebijakan ini justru memberikan dampak yang luas terhadap negara lain. Apalagi jika dilakukan oleh negara-negara besar, tentu bisa memporak-porandakan banyak negara.
Menyadari potensi bahaya yang mengancam, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara G-20, bersepakat tidak akan melakukan kebijakan devaluasi mata uang dan proteksionisme.
Keputusan ini dituangkan dalam Komunike KTT di Ankara, Turki, pekan lalu. Pertemuan ini ditujukan untuk saling tinjau perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, saling tukar pikiran mengenai prospek pertumbuhan, serta update mengenai volatilitas di pasar keuangan dan kondisi ekonomi yang mendasarinya.
Salah satunya adalah kebijakan devaluasi mata uang yang dilakukan oleh Tiongkok baru-baru ini, telah membuat gejolak dalam pasar keuangan dunia. Negara-negara berkembang diingatkan untuk tidak melakukan langkah serupa untuk melindungi mata uang mereka.
Kegiatan ekonomi yang lebih kuat di beberapa negara sangat disambut baik, namun di sisi lain pertumbuhan global masih terpuruk. Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral berjanji untuk mengambil tindakan tegas untuk menjaga pemulihan ekonomi tetap berada pada trek, dan juga pulih dengan cepat.
“ Kami akan terus memantau perkembangan, mengkaji dampak lanjutan dan mengatasi risiko yang muncul, jika diperlukan, untuk menumbuhkan kepercayaan dan stabilitas keuangan,” seperti dilansir melalui komunike tersebut.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya