Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Ilustrasi
Dream - Kabar buruk bagi industri surat utang syariah dunia. Pertumbuhan produk syariah yang kerap disebut sukuk ini diperkirakan melambat pada tahun ini.
Padahal pada pertengahan tahun lalu, penerbitan sukuk mencapai rekor tertingginya.
Laporan lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poor's menyebutkan penerbitan sukuk pada 2014 mencapai US$ 116,4 miliar. Angka ini lebih baik dari tahun sebelumnya US$ 111,3 miliar.
Kendati ekonomi dunia masih dilanda guncangan, S&P yakin penerbitan surat utang syariah tahun ini bakal menyentuh di atas US$ 100 miliar.
" Pendorong utama pertumbuhan sukuk masih berasal dari relatif stabilnya kinerja negara kawasan Teluk dan Malaysia," ungkap Global Head fo Islamic Finance dari S&P, Mohamed Damak, seperti dikutip Dream dari laman Zawya, Senin, 26 Januari 2015 .
Menurut Damak, di tengah dukungan positif tersebut, industri sukuk di negara-negara berkembang justru akan menghadapi tantangan dibandingkan 2014.
" Kami melihat sejumlah goncangan yang bisa membuat volume penerbitan sukuk melambat di 2015," ujarnya.
Potensi tantangan terbesar berasal dari rencana pemerintah Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan pada kuartal kedua 2015. Kebijakan ini diyakini bakal mengurangi likuditas di pasar keuangan global termasuk negara berkembang.
Risiko serupa pernah terjadi pada 2013 dan berlanjut di 2014 ketika The Fed mengumumkan penghentian program stimulus. Beruntung negara berkembang mendapatkan keuntungan dari kebijakan serupa dari Bank Sentral Eropa yang mulai diimplementasikan pada 2015.
S&P memperkirakan penerbitan sukuk dari lembaga atau pemerintah baru kemungkinan terjadi pada 2015. Tren ini pernah terjadi di 2014 kala Inggris, Luxemburg, Afrika Selatan, dan Hong Kong menerbitkan sukuk pertamanya. (Ism)
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?