Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan
Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah
9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Dream - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Firmanzah mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia berada di tengah suasana global yang tidak menguntungkan. Dua negara yang mempunyai pengaruh besar dalam ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini sedang dalam situasi yang tidak stabil.
“ Amerika Serikat sedang menuju perbaikan ekonomi yang sebenarnya menimbulkan masalah bagi kita,” seloroh Firmanzah dalam seminar Penguatan Ekonomi Nasional melalui Peningkatan Kualitas Manusia di Jakarta, Kamis 20 Agustus 2015.
Menurut Firmanzah, bila Negeri Paman Sam ini sudah membaik secara ekonomi, Bank Sentral-nya akan segera menaikkan suku bunga dan pada tingkatan selanjutnya, imbal hasil di negara itu akan naik pula.
Kekhawatiran ini yang menyebabkan kurs rupiah terdepresiasi dan pasar modal di Tanah Air semakin terperosok.
Sementara Tiongkok saat ini tengah berjuang mengatasi pertumbuhan ekonominya yang melambat hanya 6,9 persen. Sebagai rekan dagang utama Indonesia, melambatnya pertumbuhan ekonomi di Negeri Tirai Bambu ini menyebabkan turunnya permintaan komoditas.
Ekonom yang menjabat Rektor Universitas Paramadina ini juga menambahkan kondisi semakin berat seiring keputusan Bank Sentral Tiongkok mendevaluasi Yuan. Langkah ini kemudian diikuti oleh Vietnam. Alhasil, perekonomian global saat ini seolah tengah perang mata uang.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Firmanzah menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua kuartal di 2015 mengalami perlambatan. Yaitu 4,71 persen pada kuartal I dan 4,67 persen pada kuartal II. Dia pun pesimis memandang pertumbuhan ekonomi di kuartal selanjutnya.
“ Kita harus realistis karena target pertumbuhan ekonomi kita menurut saya tidak akan mencapai yang ditargetkan APBNP. Perkiraan saya, kalau Bank Sentral Amerika menaikkan suku bunga pada September 2015, pertumbuhan kita hanya mencapai 4,8 persen,” tutup Firmanzah.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan

Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes