Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream – Indeks acuan saham syariah menguat tajam di sesi penutupan perdagangan Rabu 16 November 2016. Sentimen positif dari dalam dan luar negeri membuat laju seluruh indeks sektoral bergerak positif.
Investor sepertinya sudah melupakan sentimen Trump Effect yang dikhawatirkan mengguncang ekonomi dunia. Hal ini terlihat dari bursa regional yang sebagian mulai bergerak menguat.
Dari dalam negeri, investor sedikit tenang dengan kinerja perdagangan Indonesia yang mencetak surplus. Adanya penjelasan JP Morgan soal prediksinya yang sempat mencemaskan ikut menenangkan pasar.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melompat 4,127 poin (2,47%) ke level 171,121. Indeks acuan saham bluechip syariah, Jakarta Islamic Index (JII), juga turut melesat ke level 694,271 atau naik 20,511 poin (3,04%).
Hingga sesi paska-penutupan perdagangan, sebanyak 47,35 miliar lembar saham syariah telah diperdagangkan pelaku pasar. Aksi jual beli saham pemodal membuat nilai transaksi naik menjadi Rp6,5 triliun.
Aksi beli investor mendorong 149 saham syariah kembali ke jalur hijau. Namun masih ada 43 saham syariah yang bergerak melemah dan 75 lainnya bertahan stagnan.
Seluruh emiten sektoral menjadi motor penggerak perdagangan. Emiten sektor pertambangan, yang sempat ambles, kini justru berbalik menjadi teratas penggerak perdagangan usai naik 3,21 persen. Diikuti sektor industri dasar yang indeksnya naik 3,06 persen, sektor infrastruktur 2,93 persen, serta sektor perdagangan dan properti yang naik 2,73 persen.
Selama perdagangan, nyaris semua emiten keping biru syariah, atau 27 emiten, mencetak kenaikan harga. Emiten-emiten top syariah yang menjadi top gainer adalah UNTR yang harganya naik Rp2.200 per lembar saham, PTBA Rp1.050, INTP Rp500, SILO Rp425, dan AKRA Rp325.
Sementara dua emiten syariah yang menjadi top losser, yaitu emiten LPPF yang harga sahamnya turun Rp300 dan LPKR sebesar Rp5.
Kabar baik pun juga datang dari pasar uang. Berkurangnya dampak kemenangan Donald Trump ini membawa angin segar bagi rupiah. Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 13 poin atau 0,10 persen di level Rp13.337 per dolar AS. Rupiah sempat menyentuh di level terendah di level Rp13.390 per dolar AS.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya