Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Direktur Utama Superbank Tigor M. (Foto: Dok Superbank)
Dream - PT Bank Fama International (Bank Fama) telah berganti nama menjadi PT Super Bank Indonesia (Superbank) pada 20 Februari 2023 lalu. Kini, bank digital milik PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK Group) itu terus berinovasi dengan berbagai strategi.
Salah satunya menyasar para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan nasabah ritel.
Chief Business Officer Superbank Sukiwan mengatakan segmen ritel dan UMKM mempunyai pasar yang besar. Saat ini jumlah UMKM bahkan menembus angka 63 juta.
Namun di sisi lain, populasi underbanked di Indonesia masih tinggi yakni 81 persen di tahun 2021. Segmen underbanked banyak berasal dari pelaku UMKM dan nasabah ritel.
“ Populasi underbanked masih sangat tinggi. Seperti punya rekening tapi nggak digunakan maksimal,” katanya di Jakarta, Rabu, 6 April 2023.
Oleh karena itu Superbank melihat peluang ini sebagai momen untuk menggandeng nasabah UMKM dan ritel go digital sekaligus memberikan solusi.
“ Bank konvensional biasanya fokus pada bank. Kami akan fokus ke hidup pribadi customer. Kami ciptakan ekosistem agar nasabah bisa lebih nyaman. Ini awal strategi, nantinya kami melakukan integrasi secara keseluruhan,” ungkap Sukiwan.
Salah satu solusi yang dilakukan Superbank adalah melihat calon nasabah dengan metode yang berbeda. Dengan ekosistem yang dimiliki Emtek Grup yang memiliki Bukalapak, Grab dan Singtel, Superbank dapat menelusuri rekam jejak calon nasabahnya terkait transaksi dari aktivitas penjualan yang mereka lakukan. Inilah yang ditekankan Sukiwan, bedanya bank digital dengan bank konvensional.
“ Kita hadir dengan metode yang berbeda, pendekatan yang berbeda agar kita bisa memberikan solusi. Contohnya penjual martabak, boleh sama-sama tukang martabak, tapi kita tahu martabak A kita harus kasih solusi yang lebih tinggi daripada martabak lain. Karena beda volume bisnis,” terangnya.

Jangkauan nasabah Superbank pun semakin luas, dari ekosistem bisnis Emtek Group yang terdiri media platform, digital media, healthcare, content hub hingga digital business.
Untuk diketahui, simpanan nasabah di bank umum di Indonesia terus meningkat, mencapai Rp8.203 triliun pada 2022, capaian ini tumbuh lebih dari 8 persen dibandingkan 2021.
Nilai transaksi perbankan digital pada 2022 juga meningkat sebesar 28,72 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp52.545,8 triliun dan diproyeksikan akan tumbuh 22,13 persen hingga mencapai Rp64.175,1 triliun pada 2023.
" Bank digital masih sekitar Rp50 triliun, kecil banget. Jadi memamg masih ada potensi dan kemungkinan kami tumbuh,” terang Sukiwan.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
