Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Tangkapan Layar Kanal YouTube Kawan Dapur
Dream - Basreng alias baso goreng ternyata tidak hanya dimitani masyarakat Indonesia. Buktinya, produk camilan ini telah diekspor ke luar negeri dan laku keras.
Nadine Fatia adalah salah satu pengekspor basreng. Wanita asal Bandung, Jawa Barat, ini telah mengirim basreng ke berbagai negara, mulai Taiwan, Malaysia, China, dan Jepang. Dia mengirim basreng dengan merek Raja Ngemil.
Tak tanggung-tanggung, Nadine Fatia bisa menjual basreng hingga 1 ton perhari. Kini omzetnya perharinya sudah mencapai Rp100 juta. Padahal, modal awalnya Rp300 ribu.
" Waktu itu dengan modal sisa gaji aku cuma Rp300 ribu. Aku belanja ke pasar ternyata banyak yang suka dan akhirnya alhamdulillah bisa kayak gini," ujar Nadine dalam video yang diunggah di kanal YouTube Kawan Dapur.
Ia tidak menyangka usahanya itu meledak di pasaran. Kini dia menjual basreng-basreng tersebut secara online melalui beberapa platform media, seperti Instagram, Shopee, dan TikTok.
Namun tak mudah bagi Nadine merintis bisnis ini. Dia harus melalui jalan berliku. Saat memulai bisnis tersebut di rumah, dia bahkan sempat diusir oleh para tetangga yang mengeluhkan bau menyengat.
Harga basrengnya bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp100 ribu. Kini ia sudah memiliki tempat sendiri dan tumbuh menjadi pengusaha sukses di usia 21 tahun.
" Omzet perhari kalau misalkan sekarang itu bisa nyampai Rp100 juta perhari," ungkap Nadine.
Dia mengakui, dalam sehari bisa memproduksi basreng satu sampai dua ton. Semua dagangannya langsung habis di hari yang sama.
" Kita jarang banget nge-stock, biasanya produksi berapa ya udah langsung habis," jelas Nadine.
Bisnis basreng yang ia jalani ini juga membantu memberikan penghasilan untuk warga sekitar. Sebab Nadine mempekerjakan mereka yang di PHK karena pandemi Covid-19.
" Kita ngebantu warga ya, jadi warga dapat penghasilan juga dari motongin. Iya warga sekitar," tuturnya.
Setiap harinya, Nadine mampu menjual 2.000 paket basreng. Tak heran jika omzet yang diraup mencapai ratusan juta. Paket-paket tersebut dikirim ke seluruh pelosok negeri hingga luar negeri.
Menurut Nadine, yang memesan basreng dari luar negeri adalah orang Indonesia yang menjadi pekerja migram.
Nadine pun memberikan pesan pada anak muda yang ingin memulai bisnis seperti dirinya.
" Kalau nonton tentang motivasi, langsung ada aksinya. Langsung diterapkan aja mau apapun usaha kalian. Sekarang bisnis online itu mudah banget. Nggak perlu mikirin modal segala macem. Dengan modal kecil aja kita bisa sukses. Minim modal, minim resiko," pesan Nadine.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya