6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi.
Dream - Cokelat adalah jenis makanan yang banyak disenangi orang. Banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan apakah cokelat berbahaya atau tidak.
Dilansir akun instagram, @indozonehealth, dilakukan penelitian terhadap kandungan cokelat yang melibatkan 18 ribu peserta dan menghabiskan dana lebih dari Rp 800 M.
Namun penelitiannya bukan ditujukan pada sampel cokelat yang diberikan secara gratis kepada peserta. Melainkan penelitian ini fokus kepada pengujian kandungan zat cokelat yang disebut Flavanols.
Tak hanya pada cokelat, Flavanols juga terdapat pada teh, buah-buahan dan sayuran.
Setelah diuji secara klinis di dalam laboratorium, tim peneliti menemukan bahwa Flavanols terbukti dapat membantu membuat bagian dalam jaringan pembuluh darah tetap fleksibel.
Hal ini tentunya merupakan suatu pertanda bahwa Flavanols berdampak baik pada kesehatan jantung dan otak.
Tetapi, ada penemuan yang mengejutkan, ternyata kandungan zat Flavanols berpotensi hilang saat proses fermentasi, pengeringan dan pemanggangan biji kakao yang mana nantinya berubah menjadi cokelat.
Jadi, bahwa cokelat itu sehat tidak sepenuhnya betul. Ini dikarenakan kandungan Flavanols yang ada di dalam biji Kakao itu, merupakan satu-satunya yang terbukti menyehatkan tubuh.
Cokelat dalam kemasan yang merupakan produk dari fermentasi dan segala bentuk proses lainnya sangat mungkin kehilangan esensi kandungan zat Flavanols dan yang tersisa kerap kali hanyalah kandungan lemak dari gulanya.
Jadi, bukan berarti cokelat itu tidak sehat, namun kadar Flavanols yang berperan untuk menyehatkan kamu sungguh minim apabila dikonsumsi dalam bentuk cokelat. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
