Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Adu Gahar Kuda Besi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil Dan Cooper Presiden Jokowi (Foto Facebook Mochamadridwankamil Dan Jokowi)
Dream – Tak hanya Presiden Joko Widodo (Jokowi), sepeda motor Royal Enfield juga dilirik oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Kuda besi ini sering tampil di beberapa unggahan pria yang biasa disapa Kang Emil di akun media sosialnya.
Yang terbaru, Kang Emil menunggangi motor Royal Enfield ketika menghadiri acara Bikers Brotherhood 1% MC. Ketika itu, dia dinobatkan sebagai anggota kehormatan klub sepeda motor terlawas di Indonesia.
Kang Emil juga terlihat mengendarai Royal Enfield berwarna hijau ketika sedang mempromosikan pariwisata di Jawa Barat melalui akun Instagramnya, @ridwankamil.
Berbicara tentang Royal Enfield, kali ini Dream akan mengulas perbandingan Royal Enfield yang digunakan oleh Kang Emil dan Presiden Joko Widodo, mulai dari jenis, spesifikasi, sampai harga. Kira-kira Royal Enfield milik siapa yang paling gahar?
Berikut ini adalah rinciannya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekali dua kali terlihat menggeber sepeda motor ketika melakukan kunjungan kerja ke Pangandaran, Jawa Barat.
Saat touring bersama Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono. Touring ini juga diikuti oleh bikers.

Diketahui, sepeda motor yang digunakan oleh Jokowi adalah motor kustom Royal Enfield Bullet 350. Sepeda motor ini didandani oleh builder lokal, Kick Ass Chopper dan Elders Garage.

Sementara RK menggunakan Royal Enfield yang tipenya berbeda. Dikutip dari Liputan6.com, roda dua yang ditunggangi mantan walikota Bandung ini adalah Royal Enfield Classic 350.
Royal Enfield Bullet 350
Dilansir dari Royal Enfield, aslinya, sepeda motor Royal Enfield Bullet 350 ini memiliki mesin satu silinder 4 langkah dengan busi ganda. Mesin ini berkapasitas 346 cc.

Suspensi depan motor Bullet 350 ini memiliki teleskopis yang berjeruji 35 mm dan pergerakan poros rodanya mencapai 130 mm. Suspensi belakangnya dua sok breker yang diisi udara dan pergerakan poros rodanya 80 mm.
Sepeda motor ini memiliki dua rem tromol di bagian depan dan belakang.
Royal Enfield Classic 350
Royal Enfield Classic 350 ini memiliki mesin silinder tunggal 4 langkah dengan busi ganda. Mesin ini berkapasitas 346 cc.

Suspensi dan rem Classic 350 ini sama dengan Bullet 350. Classic 350 memiliki teleskopis yang berjeruji 35 mm dan pergerakan poros rodanya mencapai 130 mm. Suspensi belakangnya dua sok breker yang diisi udara dan pergerakan poros rodanya 80 mm.
Sepeda motor ini memiliki dua rem, yaitu rem cakram di bagian depan dan rem tromol di bagian belakang.
Bagaimana dengan harga?
Dikutip dari Liputan6.com, harga sepeda motor Bullet 350 “ Chopperland” Jokowi ini seharga Rp140 juta. Hal ini dikatakan oleh Deputi Protokol Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmuddin.
Dilansir dari berbagai sumber, harga Royal Enfield Classic 350 di Indonesia mencapai Rp72,9 juta. Harganya lebih dari separuh harga motor kustom Jokowi.
(Sumber: Liputan6.com/Septian Pamungkas, Yunizafira Putri Arifin Widjaja)
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha