Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak Remaja Tertidur
Dream - Melihat anak tidur mengigau mungkin sudah sering dialami. Tapi ada hal yang membuat panik orangtua terkait kebiasaan tidur anak, yaitu tidur tapi berjalan ke luar kamar. Sleepwalking atau tidur sambil berjalan ini memiliki istilah medis somnambulism.
Kondisi tersebut biasanya terjadi pada anak yang memasuki masa praremaja. Gangguan ini juga cenderung bersifat genetik, bisa jadi orangtua, kakek atau nenek juga mengalami sleepwalking. Bisa juga dipicu kandung kemih yang penuh, kecemasan dan stres, atau suasana bising di rumah.
Pemicu lainnya adalah masalah kesehatan yaitu pembesaran tonsil atau adenoid atau terganggunya pernapasan karena dinding tenggorokan menyempit (obstructive sleep apnea/OSA) dan penggunaan obat tertentu.
Saat anak tidur lalu berjalan biasanya ia tiba-tiba bangun dari tidurnya, kemudian ia duduk di atas tempat tidur dan mulai berjalan. Situasi ini bisa terjadi beberapa jam setelah anak mulai tertidur.
Anak juga akan menunjukan wajah kebingungan dengan mata yang bisa saja terbuka atau tertutup. Dalam beberapa kasus, saat anak sleepwalking ia bisa saja melakukan hal-hal tertentu seperti makan atau bahkan mengenakan pakaian.
Anak yang memiliki tingkat emosional tinggi akan lebih berisiko mengalami sleepwalking. Jika kondisi ini terjadi hanya sesekali, Anda tidak perlu khawatir. Biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan anak.
Tetapi jika terus-menerus terjadi dan semakin parah, hingga keluar rumah, segera kosultasikan dengan dokter anak. Bisa juga berkonsutasi dengan dokter spesialis saraf anak atau psikolog anak untuk mencari terapi yang tepat.
(Sumber: Momjunction)
(Sah/Laporan Sartika Septiana)
Baca Juga: 4 Reaksi Bijak Hadapi Keluhan Anak di Sekolah Jadwal Kegiatan Bikin Anak Jadi Lebih Disiplin Geger Bocah 9 Tahun Dipaksa Ibu Belajar 18 Jam Sehari Atasi Kecemasan Anak di Hari Pertama Sekolah Trik Mudah Membangunkan Anak di Pagi Hari Riset: Bersepeda Membuat Anak Lebih Cerdas
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya