Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Meteor Jatuh Di Permukaan Bumi. (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebuah meteor yang melintas di langit negara bagian Vermont, Amerika Serikat, meledak saat terbakar di atmosfer pada Minggu malam, 7 Maret 2021.
Ketika meledak di atmosfer, meteor itu menciptakan pertunjukan cahaya yang sangat indah, berupa bola api raksasa. Momen tersebut muncul di sebelah utara Vermont, sekitar pukul 17.38 waktu setempat.
Meteor yang tidak memiliki nama itu diperkirakan memiliki berat 4,5 kg dengan diameter 15 sentimeter. Diperkirakan setara dengan ukuran bola bowling.
Namun, menurut laman Facebook NASA Meteor Watch, ketika meteor itu meledak di atas langit Vermont, kekuatannya setara dengan ledakan 200 kg TNT.
Menurut NASA, batu angkasa tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 68.000 km/jam dan terlihat seperti bola api raksasa ketika muncul di utara Vermont.
Sementara itu, stasiun berita lokal WCAX3 melaporkan saksi mata di Vermont mendengarkan suara ledakan yang keras dan getaran yang cukup kencang saat meteor melintas.
Seorang warga Vermont di Swanson mengaku beruntung bisa mendengar dan melihat peristiwa langka itu dari Sungai Missisquoi di Missisquoi Wildlife Refuge sesaat sebelum matahari terbenam.
" Tidak ada suara ledakan keras seperti yang dilaporkan orang lain, tapi suara sesuatu yang melintas dengan cepat hingga membuat saya melihat ke atas di momen yang tepat. Itu sangat cerah dan benar-benar spektakuler," tulis Chris Hrotic di kolom komentar Facebook NASA Meteor Watch.
Berdasarkan kesaksian beberapa warga, NASA memperkirakan bola api pertama muncul di ketinggian 84 km di atas hutan lindung Gunung Mansfield di timur Burlington.
Meteor kemudian bergerak 53 km ke timur laut menuju perbatasan Kanada, sebelum menghilang di atas ketinggian 53 km di selatan kota Newport.
NASA menjelaskan meteor ini merupakan pecahan dari asteroid yang lebih besar. Gelombang kejut yang dirasakan saksi mata merupakan hasil dari pecahnya meteor akibat tekanan atmosfer.
" Saat meteor tersebut melintasi atmosfer hampir 55 kali lebih cepat dari kecepatan suara, terjadi tekanan di bagian depannya dan ruang hampa di bagian belakangnya.
" Akhirnya, tekanan dari perbedaan tersebut menyebabkan meteor meledak," jelas NASA di laman Facebook.
Sumber: Space.com
Dream - Para peneliti bidang studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang turun ke Desa Astomulyo Dusun 5, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, memastikan bahwa batu yang jatuh di desa itu adalah meteor.
" Kita telah melihat batu yang jatuh ke rumah warga dan benar adanya batu tersebut adalah batu meteor, sebab ada unsur logam di sana," ujar Dosen Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan (SAK) Itera, Robiatul Muztaba, di Bandarlampung, Jumat 29 Januari 2021.
Ia menjelaskan, diketahuinya unsur logam dalam batu tersebut setelah dilakukan uji dengan menggunakan magnet.
" Kita tadi sudah uji menggunakan magnet dan benar meteor, untuk mengetahui unsur dan partikel lebih mendalam dari batu tersebut kita telah ambil sampel untuk dibawa ke laboratorium dengan memakan waktu sekitar seminggu pengujian," katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, pengujian mendalam dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan radioaktif yang ada dalam batu.
" Kandungan radioaktif akan kita teliti jangan sampai ada penyalahgunaan salah satunya dikonsumsi oleh masyarakat, dan Desa Astomulyo ini sangat beruntung karena mengalami fenomena jatuhnya meteor," ujarnya seperti dikutip Antara.
Hal serupa juga dikatakan oleh salah seorang dosen teknik geologi yang tergabung dalam peneliti Itera, Danni Gathot Harbowo.
" Menurut penuturan warga batu sempat dalam keadaan panas 15 menit usai ditemukan, jadi imbauan bagi masyarakat bila mengalami fenomena tersebut diharapkan jangan panik dan segera melaporkan ke peneliti terdekat," ujar Danni.
Ia mengatakan hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya efek tertentu akibat radioaktif yang ada dalam batu meteor.
" Batu harus kita lihat ada radioaktif atau tidak agar nanti diberi penanganan khusus, untuk batu meteor tersebut terlihat ada sisi warna hitam akibat pembakaran dan ada kandungan hidrat yang teroksidasi," katanya.
Sumber: liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya