Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Grande Hotel Beira Yang Sekarang Terbengkalai Kondisinya (Foto: Lisa King)
Dream - Mozambik merupakan salah satu negara dengan perkembangan pariwisata yang pesat di dunia. Kecantikan alamnya telah menarik perhatian wisatawan, bahkan sejak masa-masa pra-kemerdekaan.
Saat itu, Mozambik masih berada di bawah pemerintahan Portugis, dengan iklim Mediterania yang membuat area pesisirnya menarik bagi kalangan turis Zimbabwe, Afrika Selatan, Portugis, dan koloni-koloninya.

Dulunya, Beira yang menjadi kota pelabuhan penting dan merupakan kota ketiga terbesar di Mozambik tidak mendapat perhatian wisatawan. Untuk itu, orang Portugis membangun destinasi wisata di Sungai Buzi untuk menarik perhatian turis.
Di tahun 1953, perusahaan asal Portugis, Companhia de Mocambique membuka hotel megah bernama Grande Hotel Beira di sana. Hotel tersebut dulunya merupakan hotel terbesar dan termewah di kawasan benua Afrika dengan kolam standar olimpiade, bioskop, serta ballroom.


Dekorasi bangunannya dirancang dengan beragam tekstur serta memiliki panel kaca besar dengan tangga spiral. Namun tetap saja, hotel tersebut tidak bisa menarik perhatian para turis. Akhirnya, karena biaya pajak yang terlalu tinggi, kurang dari satu dekade kemudian hotel ini ditutup. Selama 8 tahun berdiri, hotel ini tidak memberikan profit apapun.
Setelah Mozambik mencapai kemerdekaan di tahun 1975, hotel ini tidak pernah juga dipakai. Di kala perang, hotel ini bahkan dijadikan tempat pangkalan militer. Hotel ini menyediakan keamanan bagi para pengungsi Beira yang menuju pelabuhan.


© Dream
Perang berakhir lebih dari 25 tahun yang lalu, namun masih banyak pengungsi yang tidak berpindah dari hotel tersebut. Kini, hotel hanya menyisakan bangunan polos, tanpa furnitur karena sudah dijual. Kabel dan pipa dari tembok juga banyak yang sudah dicabut untuk dibongkar.
Banyak pintu yang terlepas, lantai kayu yang mencuat, serta elevator yang sudah diambil hingga menyisakan ruang kosong. Kolam renangnya pun kini digunakan sebagai tempat mandi, dan bar digunakan sebagai tempat buang air kecil.

Lebih dari ribuan penduduk liar yang menempati bangunan itu sekarang. Orang-orang sekitar menyebut mereka dengan julukan Watha Muno, yang berarti 'bukan berasal dari sini'.
Sebagian besar dari mereka tidak memiliki pekerjaan, dan beberapa diantaranya bekerja sebagai pelayan rumah tangga di kota. Beberapa orang bahkan membuka toko di hotel untuk menjual kue kering, pisang, kondom, serta minuman alkohol ilegal.

Dulunya, pemerintah masih menetapkan aturan dan kebijakan untuk area ini. Namun setelah beberapa tahun terakhir, tempat ini semakin terbengkalai dengan meningkatnya angka kriminalitas serta menjadi sarang sampah dan penyakit.
(Sumber: amusingplanet.com/Annisa Mutiara Asharini)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang