Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Lembaga riset konsumen, Nielsen Company Indonesia, mencatat melemahnya pendapatan dari tiga industri yaitu minuman berkarbonasi, rokok, dan minuman energi. Ini terjadi seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan gaya hidup yang sehat.
" Yang paling parah itu carbonated soft drink. Mungkin karena belum menemukan insight yang penting untuk konsumen atau konsumennya makin sadar what is the best for them," tutur Managing Director Nielsen Company Indonesia, Agus Nurudin, di Sasana Budaya Ganesa ITB, Bandung, Jawa Barat pekan lalu.
Perkembangan teknologi informasi turut memberikan andil dalam lemahnya pendapatan ketiga industri itu. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku tiga industri ini untuk meyakinkan masyarakat.
" Jadi, yang bekerja di perusahaan penjual soft drink harus bisa meyakinkan masyarakat bagaimana cara mengonsumsi produknya, atau produknya pun baik untuk kesehatan," tambahnya.
Tetapi, Nielsen mencatatkan adanya peningkatan pendapatan pada industri lifestyle & leisure, edukasi, kesehatan, home related dan fresh food and staples. Bahkan saat ini industri-indutri tersebut justru sedang maju-majunya.
" Prioritas masyarakat sudah berubah. Sudah mulai menekan pengeluaran untuk hal-hal yang secara fungsional tidak terlalu bagus," kata Agus.
Menurut Agus, masyarakat kini mengatur keuangan mereka secara lebih baik. Alhasil, banyak masyarakat bisa berbelanja kosmetik atau liburan ke tempat wisata tanpa harus mengorbankan biaya sekolah, pengobatan, maupun kebutuhan rumah tangga.
" Penduduk Indonesia tidak ada yang satu tahun tidak rekreasi. Dan ini terjadi di semua kelas ekonomi. Yang kelas atas mungkin pergi ke Prancis. Yang menengah bisa ke Jogja atau Malang, Yang di bawah bisa nonton film dan sebagainya," ucap Agus.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya