Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, Menerima GeNose C19. (Foto: Kantor Staf Presiden)
Dream – Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengapresiasi GeNose C19. Alat deteksi dini Covid-19 inovasi Universitas Gadjah Mada ini disebut sebagai implementasi revolusi indsutri 4.0 yang menggabungkan sektor kesehatan dan kecerdasan artifisial.
Dikutip dari keterangan tertulis Selasa 5 Januari 2021, Moeldoko siap menyosialiasikan penggunaan GeNose C19. Moeldoko juga berharap inovasi ini bisa menjadi garda terdepan dalam menanggulangi penyebaran Covid-19.
“ Inovasi yang paling mahal adalah inovasi yang menjadi solusi seperti GeNose C19,” kata dia saat menerima satu unit alat ini dari Menteri Riset dan Teknologi, Bambang P. S. Brodjonegoro, di Jakarta.
Selain itu, lanjut Moeldoko, kehadiran GeNose C19 telah melampaui negara-negara lain yang saat ini masih mengembangkan penelitian untuk mencegah penyebaran Covid-19.
“ Maka, akan saya dorong secara masif tidak hanya sebagai temuan, tapi untuk meyakinkan semua pihak bahwa GeNose C19 merupakan alat yang diperlukan,” kata dia.
Bambang menambahkan, satu unit alat yang dihibahkan ini digunakan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan istana. GeNose C19, kata dia, merupakan suatu terobosan teknologi yang bisa mendeteksi Covid-19 dengan pendekatan yang sederhana dan murah.
Bambang berharap, temuan ini bisa benar-benar dimanfaatkan berbagai pihak.
Terlebih, katanya, UGM dan perusahaan konsorsium siap memproduksi hingga 5 ribu GeNose C19 pada Februari 2021 mendatang. “ Nantinya kami juga akan mendorong berbagai pihak, terutama di pusat keramaian seperti bandara, stasiun kereta, terminal bus, kampus, pabrik, dan perkantoran untuk menggunakan alat ini,” kata mantan menteri keuangan ini.
Namun, lanjut Bambang, alat itu bukan alat diagnosis. GeNose C19 ini merupakan bagian dari penerapan program 3T (testing, tracing, treatment) yang mendeteksi senyawa pada pernafasan manusia.
Dengan begitu, kata Bambang, seluruh pihak semakin berhati-hati dengan penyebaran Covid-19 karena GeNose C19 menjadi upaya pencegahan, bukan pengobatan.
Rektor UGM, Panut Mulyono berharap, GeNose C19 menjadi kontribusi UGM dan bisa masuk ke dalam ekosistem penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Ke depannya, lanjut dia, GeNose C19 yang telah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 24 Desember 2020 ini bisa menjadi fungsi diagnostik karena berbiaya murah, memberikan hasil secara cepat, dan bisa dioperasiokan tenaga terampil non medis.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya