6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Suasana Kampung Dolanan Yogyakarta (Foto:protravelista.blogspot.co.id)
Dream - Demam game online yang melanda sebagian besar anak muda, tak membuat sekumpulan Lansia di Yogyakarta patah semangat. Di saat para cucu gencar bermain Pokemon Go, mereka tetap teguh mempertahankan permainan tradisional. Apalagi jika bukan karena tidak ingin permainan ini punah tergerus perkembangan teknologi.
Sejumlah orang di Dusun Pandes, Yogyakarta membuat Kampung Dolanan untuk melestarikan permainan tradisional. Sebagai pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Suradi memutuskan untuk banting setir menjadi pengrajin wayang kertas, kitiran, manukan, othok-othok dan angkrek.
Ia mulai merintis Kampung Dolanan sejak 2006 silam. Saat itu, Suradi tergugah karena melihat permainan tradisional sudah tidak populer lagi. Ia berusaha untuk meneruskan usaha kakek-buyutnya yang membuat mainan dari kertas bungkus makanan yang disebut kertas maga.
Lelaki berusia 65 tahun ini mulia tertarik pada kesenian wayang kulit sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, ia gemar sekali bermain angkrek, boneka kertas bergambar prajurit yang bisa ditarik dengan seutas tali untuk menggerakannya.
Tak sekadar berkarya dengan potongan kertas dan pewarna buatan, kini Suradi ikut aktif mengisi workshop wayang pada anak-anak usia TK, SD hingga mahasiswa.
Selain Suradi, masih ada lagi sesepuh kampung bernama Mbah Atemo, Wiyar, Wardi, Buang dan Nenek Aminah yang tutur peduli. Bahkan Kepada Desa Panggungharjo, Wahyudi ikut menggagas dan mendukung pelestarian maianan-maianan tradisional itu.
Untuk menuju ke Kampung Dolanan cukup mudah, karena berlokasi di dekat objek wisata Parangtritis, Bantul. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati banyak atraksi lainnya seperti
latihan gamelan, menari, outbond, dan lain-lain.
(Sumber:visitingjogja.com)
Baca Juga: Pantai Geger, Destinasi Tersembunyi untuk Bulan Madu Festival Yadnya Kasada Bromo Bikin Media Asing Terpesona Terkuak, Rahasia Danau Aspal Terbesar di Dunia Perbandingan Mekah 131 Tahun Lalu dan Sekarang, Ternyata... Mengapa Jet Lag Lebih Buruk Jika Terbang ke Arah Timur?
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
