Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Menikah. (Foto: Shutterstock)
Dream - Beberapa pasangan ingin mengakhiri masa lajang di usia yang lebih muda. Salah satu penyebab utamanya adalah agar perbedaan usia dengan anak tidak terlalu jauh.
Namun, menikah terlalu muda juga tidak disarankan karena bisa berdampak buruk bagi keturunan.
Kamu perlu mematangkan mental dan fisik untuk bisa menjalani hubungan ke tahap yang lebih serius. Lantas, pada usia berapakah seseorang sudah bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan?
Psikolog Klinis Pingkan Rumondor, menyebut usia ideal menikah adalah di atas 25 tahun-30 tahun.
" Kalau menurut riset yang saya baca, usia idealnya di atas 25-30. Sudah melewati masa dewasa awal," klata Pingkan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis 5 Maret 2020.
Kesiapan fisik maupun psikis dibutuhkan agar bisa mengambil keputusan jangka panjang lebih matang. Usia 25 tahun pun sudah dinilai cukup matang untuk menikah.
Pada usia ini, seseorang kemungkinan besar sudah melewati masa remaja dan telah menyelesaikan pendidikan.
Pingkan kurang merekomendasikan usia menikah pada 19 tahun. Dikatakan bahwa usia ini masih masuk tahap remaja akhir.
" Saya lebih pro nikah di usia di atas 20-an. Kalau bisa, sudah melanjutkan pendidikan dulu. Dari siai psikologis usia 19 kan masih masuk usia remaja akhir, jadi baru mau bisa berfikir jangka panjang,” kata dia.
Tidak hanya matang secara psikis atau pola pikir, kesiapan fisik juga dibutuhkan agar organ reproduksi lebih sehat ketika ingin memiliki calon buah hati.
Dream - Hubungan anak dengan ibu akan selalu menjadi hubungan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Meski begitu, cinta seorang ayah juga tidak boleh dilupakan.
Kasih sayang seorang ayah mungkin tidak tampak di depan mata. Tetapi akan selalu ada doa tulus dan hadiah kecil yang penuh kenangan dari ayah.
Hal itulah yang dialami oleh Farah Syaza yang berbagi tentang hadiah pernikahan yang paling berkesan baginya.

Pada Desember 2012 lalu, setelah akad nikah pernikahan Farah, acara dilanjutkan dengan membuka hadiah.
Salah satu hadiah yang diterima Farah adalah kotak kecil yang dibungkus kertas A4. Sebuah hadiah tak bernama.
Farah pun menyobek pembungkus kotak hadiah tersebut. Ternyata kotak yang digunakan adalah kota kamera digital.
Saat itu Farah sudah senang membayangkan akan memiliki sebuah kamera digital yang baru.
Saat membuka kotak itu, bukan kamera digital isinya. Tapi sepasang sepatu bayi.

Setelah mengamati, Farah mengenal sepatu bayi itu. Rupanya itu adalah sepatunya saat dia masih kecil.
Keluarganya tertawa melihat Farah mendapat hadiah yang tidak biasa, sepatu bayi.
Tapi Farah sudah berlinang air mata. Dia jadi emosional melihat sepatu masa kecilnya.
Di bawah sepatu itu ada kertas dengan tulisan di atasnya. Tulisan yang sangat dikenal Farah, tulisan ayahnya.
Di kertas tersebut, ayahnya menulis pesan yang sangat menyentuh perasaan Farah.
" Dari sekecil tapak kakimu, anakku, Ayah dan Ibu mendidik, mengasuh dan memanjakanmu.
" Kini ayah ibu serta adik-adik menyerahkan tanggungjawab kepada suamimu. Didiklah wahai F**z supaya berbahagia dan diberkati Allah"
Di postingan tersebut, Farah menulis ingin mewariskan sepatu masa kecilnya itu untuk anak-anaknya kelak.
" Hadiah ini akan aku simpan sampai kapan pun. Aku bahkan berniat memberikannya kepada anakku kelak. InsyaAllah, jika Allah berkehendak," katanya.
Di akhir postingannya, Farah mengatakan bahwa dia menulis kisahnya ini karena ingin berbagi betapa beratnya orangtua melepaskan anak-anaknya saat mereka menikah.
" Tapi mereka tak ada pilihan. Anak hanyalah titipan, keluarga itu juga titipan. Yang pemilik utamanya adalah Allah," katanya.
Sumber: Siakapkeli.my
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya