Dream - Film bertema Islam masih mewarnai layar lebar Tanah Air. Dari 130 film nasional yang dirilis tahun ini, 9 di antaranya adalah film dengan nuansa Islami.
Hebatnya lagi, salah satu film bertema Islam itu menjadi " Raja Bioskop" di antara film-film nasional itu. Film " Surga yang Tak Dirindukan" mampu menarik 1.523.570 penonton datang ke bioskop.
Angka itu menjadi yang terbanyak di antara film-film produksi dalam negeri yang diputar di bioskop tahun ini. Memang, tak semua film dengan tema Islam berkibar. Beberapa di antaranya biasa-biasa saja. Hanya ditonton ribuan orang saja.
Meski demikian, di tengah kelesuan gairah penonton tahun ini, ternyata film-film bernuansa Islami masih mendapat tempat di hati penikmat film di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Berikut film-film bertema Islam yang tayang di bioskop pada tahun 2015:
© Dream
Film ini berkisah tentang kesederhanaan dan kesahajaan lima anak desa: Sabar, Wahyu, Slamet, Sugeng, dan Rahayu. Mereka hidup penuh keprihatinan, tapi memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu, baik di sekolah maupun di pesantren.
Lima sekawan itu tinggal di Selopamioro, desa yang terletak 40 kilometer di selatan Yogyakarta. Di wilayah pelosok ini, mereka hidup apa adanya. Saat senja, mereka mengaji di pondok pesantren yang dipimpin oleh Kiai Landung yang diperankan D. Zawawi Imron (penyair dan budayawan) dan Gus Pras, yang diperankan Rendy Bragi.
Suatu saat, lima sekawan itu tak sengaja menemukan sebuah gubuk di tengah hutan jati. Mereka melaporkan gubuk itu kepada Kiai Landungdan kepala desa setempat. Ternyata gubuk itu merupakan sarang gerombolan penjmeninggal. Sabar yang sebatangkara kemudian tinggal bersama Kiai Landung.
Jenis Film : Drama
Produser : Poedji Churniawan
Sutradara : Wimbadi JP
Produksi : Cahaya Alam Film
Rilis: 29 Januari 2015
Pemeran: Risqullah Dafa, Nocky Ezra, Audrick Ardian Pratama, Nurul Shanty, Bowie Putra Mukti.
Penonton: 9.625 (data 9 Fabruari 2015)
© Dream
Dream - Film yang dirilis 2 April 2015 ini berkisah tentang kehidupan Ramadhan yang terpaksa berpisah dengan kedua orangtuanya. Sang ayah (Budi Khairul) dan bunda (Elma Theana) mengirimnya ke pesantren yang dipimpin oleh Ustaz Athar (Ustadz Ahmad Alhabsyi).
Ramadhan kecil sangat bandel. Hidup jauh dari orangtua tak membuat kenakalan Ramadhan berkurang. Akibatnya dia sering dihukum Ustaz Athar. Hukuman itu antara lain berdakwah di kuburan dan tempat-tempat yang ramai. Hukuman ini terpaksa dijalani meski harus mendapat celaan dan bahkan ancaman.
Ramadhan dewasa –yang diperankan Husein Alatas– berubah saat Ustaz Athar menyampaikan kabar haru. Ternyata biaya pendidikan Ramadhan di pesantren itu dibayar oleh sang ayah dengan mendonorkan ginjal pada Ustaz Athar. Dia bertemu Kirana –yang diperankan Zee Zee Shahab. Hubungan mereka semakin dekat. Hubungan ini membuat cemburu Nayla –diperankan Nina Septiani. Nayla merupakan teman kecil Ramadhan.
Keinginan lama Ramadhan untuk menjadi artis kembali bangkit. Dia mencoba merantau ke Jakarta. Sementara, sang bunda yang sakit-sakitan harus dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya kehilangan kemampuan bicara. Sedangkan sang ayah sudah kehilangan satu ginjalnya demi masa depan Ramadhan.
Ramadhan kemudian terbentur dalam kenyataan hidup itu. Dia sadar, tak perlu jauh-jauh untuk mencari surga. Sebab, di rumah telah tersedia surga itu. Yaitu kedua orangtua.
Jenis Film: Drama
Produser: Avesina Soebli, Nadjmi Zen
Sutradara: Aditya Gumay
Pemeran: Husein Al Atas, Zee Zee Shahab, Nina Septiani, Elma Theana, Khairul Budi, Qya Gus Ditra, Hendra Wirajaya, Ahmad Al-Habsyi
Rilis: 2 April 2015
Penonton: 72.826 (data 19 April 2015)
© Dream
Dream - Film ini berkisah tentang perjalanan hidup tokoh nasional, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro). Sebagai orang yang lahir dari kaum bangsawan Jawa, Tjokoro terbiasa hidup nyaman. Berpakaian beskap dan kain sarung batik, semua kebutuhan serba kecukupan.
Namun, Tjokro kecil pernah melihat seorang pekerja pribumi disiksa oleh orang Belanda, hanya karena kesalahan kecil. Benaknya merekam kekejaman penjajah yang menyiksa pekerja itu, hingga darahnya tumpah berhambur ke hamparan kapas. Peristiwa itu terus melekat di kepala dan hati Tjokro yang diperankan Reza Rahardian.
Tjokro kemudian menikah dengan Suharsikin yang diperankan Putri Ayudya. Dia kemudian bekerja pada orang Belanda. Di sinilah dia diperlakukan tak adil. Perlawanan yang dilakukan Tjokro membawa masalah untuk keluarganya, termasuk keluarga mertuanya.
Tjokro pun hijrah. Di sinilah nafas perjuangan Tjokro. Dalam perjalanan ini, Tjokro bertemu sejumlah tokoh yang kemudian membentuk karakternya. Dia kemudian berjuang bersama Hadji Samanhudi, mengubah Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam (SI).
Tjokro yang cerdas, pandai dalam menyusun strategi, dan orator ulung, disegani kawan dan lawan. SI yang dia gawangi berkembang menjadi organisasi dengan anggota dua juta orang dari berbagai kelas sosial. Semboyan “ sama rata, sama rasa” menjadi kunci perjuangan.
Tjokro menjadi tokoh terkemuka. Rumah Tjokro, yang dikenal dengan sebutan Rumah Peneleh, menjadi tempat kost banyak pemuda yang nantinya juga menjadi tokoh bangsa. Mulai Agus Salim, Semaoen, Musso, hingga Kusno atau Soekarno. Rumah Tjokro menjadi rumah bagi banyak ideologi dan nilai. Tjokro terbuka untuk semua, dengan catatan tak ada kekerasan.
Oktober silam, film ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’ –dengan judul internasional: The Hijra– ikut serta dalam Tokyo International Film Festival. Film besutan Garin Nugroho ini masuk World Focus, program non-kompetisi yang khusus menampilkan sejumlah film keluaran terbaru, namun belum ditayangkan di Jepang.
Film-film kategori ini merupakan karya para sineas ternama di dunia dengan kredibilitas sudah diakui. Lebih dari setengah film yang tampil dalam World Focus nantinya akan dirilis di bioskop-bioskop Jepang.
Jenis Film: Drama, biografi
Produser: Christine Hakim, Didi Petet, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Nayaka Untara, Ari Syarif
Sutradara: Garin Nugroho
Pemeran: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Maia Estianty, Christine Hakim
Rilis: 9 April 2015
Penonton: 130.558 (data 4 Mei 2015)
© Dream
Dream - Film ini berkisah tentang anak bernama Adinda, yang diperankan Tissa Biani Az Zahra. Adinda lahir dari keluarga yang dikucilkan, bahkan terusir, tak pernah menetap lama di satu tempat. Ayah Adinda, Faisal yang diperankan Surya Saputra, digambarkan sebagai sosok penganut ajaran yang dianggap sesat oleh masyarakat.
Adinda mulai paham dengan kondisi keluarganya, yang dikucilkan karena dianggap sesat oleh masyarakat. Meski, Adinda tak tahu apa artinya sesat. Kondisi itu mendorong Adinda untuk menjadikan keluarganya dihormati orang lain. Adinda yang memiliki suara merdu pun berniat ikut lomba dan memenangkan MTQ.
Tapi keinginan Adinda terhambat. Sang ayah melarang. Sang ayah bahkan mengultimatum Adinda dan istrinya untuk tak macam-macam, yang bisa menjadi sorotan. Keluarga ini memang benar-benar dalam kondisi tertekan.
Larangan itu tak membuat Adinda menyerah. Tekadnya sudah bulat. Meski harus bohong pada sang ayah, dia tetap ikut lomba itu. Hanya satu tekadnya, membuat keluarganya terhormat dan tak lagi dianggap sesat.
Jenis Film: Drama
Produser: Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo
Sutradara: Hestu Saputra
Pemeran: Tissa Biani Azzahra, Surya Saputra, Cynthia Lamusu, Deddy Sutomo
Rilis: 11 Juni 2015
Penonton: 12.588 (medio Juni 2015)
© Dream
Dream - Sama dengan “ Guru Bangsa Tjokroaminoto”, film “ Mencari Hilal” dengan judul internasional “ The Cressent Moon” terpilih untuk mengikuti Tokyo International Film Festival pada Oktober silam. Bedanya, film yang dirilis 15 Juli 2015 ini masuk dalam kompetisi Asian Future. Bersaing ketat dengan sembilan film lainnya dari berbagai negara Asia.
Asian Future adalah program Tokyo International Film Festival yang khusus menampilkan film-film terbaik dari para sutradara debutan dari seluruh kawasan Asia. Lantas, film ini bercerita tentang apa?
Mencari Hilal berkisah tentang Mahmud, seorang alumni pesantren yang memegang teguh ajaran Islam. Mahmud, yang diperankan Deddy Sutomo, merasa terpukul setelah melihat berita sidang isbat yang yang digelar pemerintah menelan dana Rp9 miliar.
Berita itu membuat Mahmud teringat masa-masa di pesantren di mana proses pecarian hilal bisa dilakukan secara sederhana dan tak perlu biaya sampai miliaran rupiah. Dia pun ingin napak tilas untuk membuktikan bahwa proses melihat hilal, untuk menentukan awal dan akhir bulan –termasuk penentuan awal dan akhir Ramadan, tak perlu dana banyak.
Tapi niat itu dilarang sang putri, Halida –yang diperankan Erythrina Baskoro, karena kesehatan Mahmud sudah tak stabil. Mahmud tetap nekat. Akhirnya Halida setuju, asal pencarian hilal itu dilakukan bersama Heli, putra Mahmud yang diperankan Okta Antara.
Perjalanan Mahmud dan Heli untuk mencari hilal menyajikan berbagai konflik. Keduanya bertemu beragam perbedaan di masyarakat yang berujung pada konflik. Namun konflik-konflik itu membuat keduanya menemukan sejumlah kecocokan. Mahmud dan Heli yang sebelumnya memiliki banyak perbedaan menjadi akur.
Perjalanan panjang ke tempat melihat hilal akhirnya selesai. Keduanya tiba di tempat yang dulu biasa digunakan Mahmud melihat hilal, sewaktu masih di pesantren. Mahmud merasa puas karena bisa melihat hilal dengan metode yang sederhana, seperti yang dulu pernah dia lakukan saat masih menjadi santri. Film ini ditutup dengan wafatnya Mahmud setelah melihat hilal.
Jenis Film: Drama
Produser: Raam Punjabi, Putut Widjanarko, Salman Aristo
Sutradara: Ismail Basbeth
Pemeran: Deddy Sutomo, Torro Margens, Erythrina Baskoro, Oka Antara
Rilis: 15 Juli 2015
Penonton: 10.358 (data 3 Agustus 2015)
© Dream
Dream - Film ini diangkat dari novel berjudul sama. Menceritakan Pras, yang diperankan Fedi Nuril, yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu Arini, yang diperankan Laudya Cynthia Bella. Keduanya bertemu secara tidak sengaja, saat Pras datang untuk mengantar seorang anak yang mengalami kecelakaan ke tempat Arini. Sementara, saat itu Arini sedang mendongeng untuk anak-anak dengan boneka tangan.
Gayung bersambut. Arini juga suka dengan Pras. Tak lama kemudian, keduanya menikah. Sosok Pras yang baik dan setia menenangkan Arini. Kisah perselingkuhan yang dialami perempuan di sekelilingnya, tidak mengusik kepercayaan Arini terhadap Pras. Untuk mewujudkan rumah agar tetap menjadi surga cintanya dengan Pras, Arini berusaha mengabdikan diri sepenuh hati sebagai ibu dan istri.
Namun, datanglah ujian dari Allah. Dalam perjalanan menuju tempat proyek, Pras yang sudah dianugerahi puteri, menemukan mobil yang dikemudikan oleh Meirose nyaris terperosok ke jurang. Pras yang pada dasarnya baik hati dan suka menolong menolong Meirose. Pras juga menungguinya di rumah sakit.
Dokter memberitahu Pras bahwa wanita yang dia tolong itu tengah hamil 7 bulan dan harus segera menjalani operasi Caesar. Pras tak tahu siapa keluarga Meirose. Sehingga dia harus bertahan lebih lama di rumah sakit, sebab tak ada kerabat Meirose.
Setelah operasi, Meirose siuman. Inilah awal mula konflik dalam kehidupan Pras. Meirose ternyata depresi berat. Ditinggal mati ibunya, sang ayah pergi saat usianya 12 tahun, dan baru saja dibohongi oleh kekasih, membuat Meirose memutuskan untuk bunuh diri. Hanya satu yang bisa menyelamatkan Meirose, Pras menikahinya. Pras berniat agar dunia di sekitarnya menjadi lebih baik. Dan juga membuat anak Meirose tak menjadi anak yatim yang malang.
Pras menikah diam-diam. Namun pernikahan itu akhirnya terbongkar juga, saat pembantu Pras menemukan bon apotek untuk biaya imunisasi dan obat dalam saku celana Pras saat hendak dicuci. Hati Arini yang mengetahui pernikahan suaminya itu menjadi hancur. Rumah tangga idaman yang selama ini dia rasakan rusak oleh kehadiran Meirose.
Arini merasa rumah tangga bersama Pras bukan lagi surga yang dia rindukan. Namun kedua Pras dan Arini berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Di akhir cerita, Meirose merantau ke Jakarta untuk meraih karier yang diimpikan. Sementara sang bayi dititipkan kepada Arini dan Pras.
Jenis Film: Drama
Produksi : MD Picture
Produser: Manoj Punjabi
Sutradara: Kuntz Agus
Pemeran: Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella, Raline Shah
Rilis: 15 Juli 2015
Penonton: 1.523.570 (data 4 November 2015)
© Dream
Dream - Film “ Air Mata Fatimah” yang dirilis 1 Oktober 2015 ini berkisah tentang perjuangan hidup Hamda (Anindika Widya) yang ditinggal pergi suaminya. Hamda hidup bersama putrinya, Fatimah yang diperankan oleh Reyhanna Alhabsy. Sejak kecil, Fatimah tak tahu siapa ayahnya.
Hamda menghidupi Fatimah dengan melacur. Karena sang bunda menjadi pelacur, Fatimah “ dipaksa” menanggung aib. Dia mendapat cemoohan dari warga di desanya. Niatnya untuk mengaji dan belajar selalu ditolak masyarakat. Di bawah tekanan itu, datanglah Ikhsannudin (Dwi Andhika), yang dengan ikhlas mengajari Fatimah mengaji.
Ikhsannudin adalah putra Guru Ali Daud, tokoh agama yang disegani di kampung itu. Saat muda, Ali Daud merupakan saingan seorang tokoh bernama Harunsyah dalam memperebutkan Hamda. Karena tahu Ali Daud mengutus Ikhsannudin mengajar Fatimah mengaji, Harunsyah menghasut penduduk bahwa Ali Daud ada hubungan khusus dengan Hamda. Dia juga memfitnah Ichsanudin, dengan tuduhan berbuat asusila dengan Fatimah.
Untuk meyakinkan penduduk bahwa tuduhan itu tidak benar, Fatimah diuji membaca Alquran di hadapan warga dan ahli kitab di desa tersebut. Jika Fatimah tidak bisa membaca Alquran, maka Fatimah, Hamda, Ikhsannudin, dan Ali Daud akan dianiaya. Warga desa akan mengubur mereka hingga sebatas leher, dilempar batu, serta diusir dari desa.
Jenis Film: Drama
Produser: Oon Aunuroup
Sutradara: OK Mahadi, Bayu P Atmodjo
Pemeran: Reyhanna Alhabsyi, Anindika Widya, Reza Pahlevi, Dwi Andhika, IB Made Oka Sugawa
Rilis: 1 Oktober 2015
Penonton: 4.900 (data 4 Oktober 2015)
© Dream
Dream - Film ini mengangkat kisah perjuangan wanita yang mempertahankan cinta sampai akhir hayat. Kisah ini merupakan adaptasi dari berjudul Air Mata Tuhan karya Aguk Irawan.
Tokoh dalam film ini adalah Fisha, mahasiswi S2 dari Yogyakarta yang diperankan oleh Dewi Sandra. Fisha menikah dengan Fikri, dokter ahli disain yang diperankan oleh Richard Kevin. Meski baru kenal, Fikri merasa Fisha adalah perempuan yang tepat untuk menjadi istrinya.
Keduanya lantas menikah. Namun di sisi lain, pria bernama Hamzah –diperankan oleh Morgan Oey, yang merupakan teman kecil Fisha, masih menaruh hati. Bahkan, ibunda Fisha mendukung kedekatan putrinya dengan Hamzah.
Meski Hamzah selalu mendekatinya, Fisha hanya menganggapnya sebagai kakak. Tak lebih dari itu. Fisha juga mengalami masalah lain dalam rumah tangganya. Hubungan dengan ibu mertua tak harmonis. Karena sang ibu mertua ingin Fikri menikah dengan perempuan pilihan almarhum saminya.
Fisha memang mengalami masa sulit dalam rumah tangga. Dia mengalami keguguran sampai dua kali. Fisha terpukul. Ketika Fikri menjalani bisnis di luar kota, Fisha mengalami sakit luar biasa di bagian perut. Dokter mendiagnosa Fisha terkena kanker rahim stadium akhir. Penyakit ini yang selama ini membuat Fisha sulit hamil.
Diagnosa itu membuat Fisha sadar bahwa usianya tak akan lama lagi. Dan tak mungkin punya anak. Di sinilah Fisha mengambil melakukan pengorbanan luar biasa sebagai seorang istri, yang membuktikan cinta sejati hadir dalam hati seorang wanita.
Jenis Film: Drama
Produksi: Tujuh Bintang Sinema
Produser: Lela Tresna, Agung Saputra, Dave Gerald
Sutradara: Hestu Saputra
Pemeran: Dewi Sandra, Richard Kevin, Morgan Oey
Rilis: 22 Oktober 2015
Penonton: 212.828 (data 4 November 2015)
© Dream
Dream - Film ini berkisah tentang perjalanan Rommy, eksekutif muda yang mapan namun hidup penuh dengan kemaksiatan. Namun, Rommy mendapat hidayah setelah kepergian sang istri dan calon bayi mereka dalam sebuah kecelakaan.
Perjalanan spiritual Rommy dimulai dari desa kecil di pesisir pantai. Di desa itu, Rommy mengalami banyak peristiwa yang tak terbayangkan sebelumnya. Dia memulai hidup baru sebagai seorang nelayan sederhana, jauh dari segala kemewahan seperti yang dia rasakan saat masih hidup di kota.
Di desa itu, Rommy mulai menemukan jati diri. Dia mulai mempelajari dan menjalankan isi Alquran, hingga suatu saat Rommy terenyuh ketika melihat surau tua yang sepi dan tak terawat. Dengan sisa tabungan, dia tergugah membangun kembali surau itu dengan harapan akan ada banyak orang yang datang beribadah setelah diperbaiki.
Sampai waktu peresmian surau itu, Rommy yang tengah melaut tak kunjung kembali dari melaut. Dua nelayan mengabarkan kecelakaan kapal Rommy di tengah lautan. Rommy meninggalkan warisan niat, semangat, dan amanat yang tertanam kuat dalam surau yang dinamai Surau Alghazali.
Judul Film : Bait Surau
Genre : Religi
Sutradara: H Kuswara Sastra Permana
Produser : Aulia Anita
Pemain : Rio Dewanto, Ihsan Tarore, Cok Simbara, Astri Nurdin, Nadia Vella, Tahta Perlawanan, Taufan Purbo Rachel
Jenis Film: Drama
Produser: Anita Aulia
Produksi : Synergy Pictures
Sutradara: Kuswara Sastra Permana
Pemeran: Rio Dewanto, Nadia Vella, Ihsan Tarore, Astri Nurdin
Rilis: 22 Oktober 2015
Penonton: 4.544 (data 4 November 2015)