Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Foto: Pixabay.com)
Dream - Sahabat Dream mungkin pernah melihat seseorang yang sebelumnya sakit parah terlihat segar bugar seolah sudah sembuh. Namun selang beberapa hari atau hitungan jam, ajal menjemputnya.
Kejadian tersebut memang terdengar aneh. Bahkan banyak yang sering cemas manakala orang terdekat mendadak sehat bugar padahal baru menjalani sakit yang parah.
Gejala kematian ternyata hal awam dalam dunia medis. Kalangan peneliti menyebiut fenomena itu sebagai terminal lucidity.
Istilah itu pertama kali dipopulerkan oleh ilmuwan dan ahli biologi Jerman bernama Michael Nahm.
Terminal lucidity tidak sama dengan gejala kematian lainnya seperti terminal agitation, yang ditandai dengan mengigau, cemas, marah, atau penurunan kognitif.
Gejala kematian terminal lucidity ini tampak halus. Ketika seseorang akan meninggal, dia tiba-tiba tampak bugar, seolah sudah sembuh dari penyakitnya.
Yang sebelumnya tidak bisa berbicara atau beraktivitas, tiba-tiba bisa berbincang panjang lebar atau berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.
Biasanya, keluarga akan menganggap 'kesembuhan' yang tiba-tiba itu sebagai sebuah mukjizat dari Tuhan.
Penelitian ilmiah tentang fenomena terminal lucidity ini relatif masih sangat sedikit.
Tetapi, meski baru diberi istilah pada tahun 2009 oleh Nahm, ada laporan bahwa terminal lucidity ini sudah ada dalam literatur medis sejak 250 tahun yang lalu.
Hingga saat ini, penelitian ilmiah masih belum menemukan jawaban yang pasti mengapa fenomena terminal lucidity ini bisa terjadi.
Namun penelitian terbaru menyebutkan bahwa terminal lucidity ini ditemukan pada individu dengan demensia, tumor otak, stroke, dan penyakit mental, seperti skizofrenia.
Sebelumnya orang-orang dengan kondisi ini dianggap tidak mungkin mengalami terminal lucidity. Namun ternyata mereka mengalaminya juga.
Sekelompok kecil peneliti saat ini sedang mempelajari terminal lucidity. Selain Nahm, Alexander Betthyany dari Wina juga berusaha untuk mengumpulkan data tentang fenomena ini.
Meski hasilnya belum definitif, Betthyany memiliki penemuan yang cukup menarik. Dari 227 pasien demensia, sekira 10 persen mengalami terminal lucidity.
Sementara dari tinjauan literaturnya, Nahm melaporkan bahwa sekitar 84 persen orang yang mengalami terminal lucidity akan meninggal dalam waktu seminggu. Sedangkan 42 persen lainnya meninggal pada hari yang sama.
Temuan ini menunjukkan bahwa kognisi atau kesadaran normal tetap terjadi meskipun otak pasien mengalami kerusakan parah pada detik-detik terakhir hidup mereka.
Belum ada jawaban ilmiah yang logis untuk misteri medis ini. Tidak ada informasi yang cukup untuk mendalilkan mekanisme pasti bagaimana terminal lucidity terjadi.
Fenomena-fenomena aneh menjelang kematian seperti terminal lucidity, penampakan saat sakaratul maut, atau pengalaman mendekati kematian telah menimbulkan pertanyaan tentang apakah pikiran adalah produk dari otak.
Mereka yang mengalami fenomena-fenomena tersebut umumnya meninggal dalam kondisi yang tenang dan damai. Sementara keluarga yang ditinggalkan merasa senang karena masih bisa menghabiskan hari-hari terakhir pasien dengan bahagia.
(Sah, Sumber: Psychology Today)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya