Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Masalah makan pada balita jadi salah satu sumber frustasi para ibu. Biasanya si kecil selalu menolak makanan yang diberikan, berganti menu pun akhirnya dilakukan.
Tapi mulutnya tetap terkunci rapat. Aksi balita tersebut sering diistilahkan Gerakan Tutup Mulut (GTM).
Pada usia satu tahun anak mulai mengenal ragam rasa. Apalagi jika dikenalkan dengan banyak macam makanan dan minuman.
Biasanya GTM ini muncul ketika anak bosan dengan makanan yang diberikan, sakit, trauma, atau memang sebenarnya belum lapar. Banyak orangtua takut anaknya kelaparan, padahal kadang menu sarapan yang cukup padat masih membuat perutnya terasa kenyang.
" Anak mungkin makan dengan baik pada hari ini, tapi keesokannya, bisa saja hanya makan satu atau dua kali saja, tak masalah. Anak akan makan kalau lapar, banyak orangtua yang lupa itu," kata William Sears, seorang dokter anak yang juga penulis buku The Family Nutrition Book.
Dari penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri GTM ini sebagian besar dipicu oleh inappropiate feeding practice (IFP). IFP ini mengacu pada aktivitas makan yang tidak benar atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia.
Seringkali, hal ini terjadi sejak fase penyapihan atau waktu dimulainya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian makan yang benar harus memperhatikan beberapa hal seperti tepat waktu, kuantitas dan kualitas makanan, kebersihan penyiapan dan penyajian makanan serta disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.
Pemberian makanan sesuai tahapan perkembangan anak mencakup tekstur makanan dan perbandingan makanan padat serta cair. Lalu apa yang harus dilakukan saat buah hati mogok makan? Jawabannya adalah dengan melatih perilaku makan yang benar (feeding rules) pada anak.
Dengan membuat kebiasaan makan yang baik, anak jadi makan teratur, lebih menghargai makanan yang disediakan, berat badannya pun naik stabil. Coba terapkan cara-cara ini yang merupakan rekomendasi IDAI agar anak tak melakukan GTM.
(Ism, Sumber: IDAI/ Parents)
Baca Juga: Berinteraksi di Taman Membuat Anak Lebih Cerdas Memberikan Vitamin pada Si Kecil, Perlukah? Bekali Kemampuan Ini Sebelum Anak Masuk TK Dipukuli Anak, Ini Sikap yang Harus Dilakukan Bunda Lakukan Cara Ini Agar Usus Anak Lebih Sehat Trik Dekorasi Kamar Mandi Seru untuk Si Kecil
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya