Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Nakes (Foto: Liputan6.com)
Dream - Virus corona merupakan penyakit yang dapat menyerang semua orang tanpa memandang usia maupun latar belakangnya. Meski demikian, tingkat keparahan penyakit akibat Covid-19, dapat berbeda-beda tergantung pada faktor-faktor tingkat kekebalan dan jenis kelamin seseorang.
Dari sekian banyak penelitian selama beberapa bulan terakhir, studi menemukan bahwa wanita cenderung menderita kasus virus Corona relatif tidak terlalu parah dengan tingkat kemungkinan kematian cenderung lebih rendah.
Berkat penemuan baru, para ilmuwan medis baru-baru ini mengidentifikasi jejak protein yang memiliki kemampuan untuk melindungi wanita lebih baik daripada pria dalam kasus Covid-19.
Reseptor ACE2 adalah sejenis enzim manusia yang diikat oleh SARS COV-2 dan kemudian bereplikasi. Enzim ini juga menawarkan perlindungan kunci terhadap beberapa jenis komplikasi kardiovaskuar dan paru.
Faktanya, berkat campuran unik kromosom dan hormon yang ada di tubuh wanita, penelitian menunjukkan bahwa wanita mungkin memiliki dua kali lipat jumlah reseptor ACE2 di tubuh yang memberi mereka peluang lebih kecil tertular Covid-19.
Studi yang dipimpin oleh peneliti utama dari University of Alberta menemukan bahwa reseptor ACE2 yang lebih tinggi memungkinkan sistem untuk menyaring virus dan memanipulasi hingga ke level yang melindungi tubuh hingga batas tertentu.

Menariknya, beberapa penelitian juga menemukan bahwa pria tak hanya memiliki lebih sedikit, tetapi juga reseptor ACE2 yang lebih rentan. Ini membuat pria lebih rentan terhadap risiko infeksi.
Fakta menarik lainnya, pria memiliki banyak reseptor ACE2 yang berkumpul di dekat sistem reproduksi mereka. Sayangnya, ini justru membuat pria juga rentan terhadap disfungsi ereksi dan masalah kesuburan lainnya yang dapat terpengaruh setelah gejala pasca Covid.

Studi independen yang dilakukan di AS menemukan bahwa keuntungan memiliki tambahan kromosom 'X' membuat wanita tak terlalu berisiko terhadap dampak Covid-19. Temuan penelitian juga mendorong para peneliti untuk memulai uji klinis di mana pria diberi estrogen untuk melihat apakah itu memberi mereka manfaat yang menjanjikan dalam mencegah Covid-19.
Faktanya, sebuah studi yang dilakukan oleh Wake Forest Baptist Medical Center di AS menemukan bahwa kadar estrogen yang tinggi mampu menurunkan kerja reseptor ACE2 dan mencegah Covid dari replikasi di dalam tubuh.

Faktor non-fisiologis juga dapat memengaruhi kemungkinan Anda jatuh sakit. Di banyak tempat, pria lebih mungkin terpapar pekerjaan luar ruangan daripada wanita, yang juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan terkait polusi.
Alasan lain bisa jadi karena perilaku mereka sendiri. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa pria lebih cenderung terlibat dalam pertemuan sosial, pergi ke tempat-tempat dengan risiko penyakit yang lebih tinggi.

Pria juga lebih cenderung menunda mendapatkan perawatan kesehatan yang tepat atau mengabaikan gejala awal, yang dapat menyebabkan keparahan dan komplikasi di masa depan.
Statistik menunjukkan bahwa wanita, lebih daripada pria, cenderung lebih berhati-hati tentang peringatan dan strategi pengujian, memperhatikan gejala dan tidak menganggap enteng tanda-tanda keparahan penyakit.
Meskipun penyakit dan komorbiditas yang sudah ada sebelumnya merupakan faktor penentu besar dalam kasus Covid, ini juga bisa menjadi salah satu alasan mengapa wanita memiliki kasus yang tidak terlalu parah.
Tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit jantung, beberapa faktor paling umum yang membuat Covid lebih berisiko lebih umum terjadi pada pria. Faktor penyebab seperti merokok, minum minuman keras dan penggunaan tembakau juga lebih marak di kalangan pria.
Meskipun tidak ada bukti konklusif yang menunjukkan hal ini, ini pasti bisa menjadi salah satu faktor yang terkait dengan tingkat keparahan Covid.
(Sumber: Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya