Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto:Pixabay)
Dream – Penelitian mengenai virus corona dan cara penyebarannya terus dilakukan para ahli. Berbagai penemuan terangkum lengkap dalam berbagai jurnal meski harus dibuktikan lagi agar lebih akurat. Termasuk soal penemuan enam virus corona baru di tubuh kelelawar.
Virus corona baru ini telah ditemukan para peneliti di Myanmar. Hasil sementara menunjukan virus itu merupakan keluarga yang sama dengan virus corona yang telah mengakibatkan covid-19 atau SARS-CoV-2.
Namun secara genetik, keenam virus corona baru tersebut tidak terikat secara erat dengan virus SARS dan MERS. Enam virus corona baru ini ditemukan pada kelelawar yang dianggap juga sebagai awal mula penyebaran virus covid-19.
Para peneliti masih terus melakukan identifikasi dini untuk dapat mengetahui penyebab serta mengetahui lebih cepat tentang cara mengatasinya.

Virus corona baru ditemukan pertama kali di Myanmar ketika para peneliti melakukan survei pada kelelawar. Survei yang dilakukan para peneliti ini disebut program PREDICT yaitu program untuk mengidentifikasi penyakit menular yang menyebar dari hewan ke manusia.
Para peneliti menemukan bahwa kelelawar adalah penyebab utama yang mampu menampung ribuan virus corona yang belum teridentifikasi. Seperti halnya covid-19, kelelawar juga diprediksi sebagai perantara utama penyebaran covid-19 sebelum akhirnya menginfeksi manusia.

Antara 2016 dan 2018, para peneliti mengumpulkan ratusan sampel air liur dan guano atau kotoran kelelawar dari 464 kelelawar serta dari 11 spesies kelelawar berbeda. Sampel diambil dari tiga lokasi di Myanmar.
Ketiga tempat tersebut dipilih karena menjadi tempat orang-orang yang melakukan kontak dekat dengan satwa liar.
" Dua dari situs ini juga menampilkan sistem yang popular. Dimana orang-orang secara rutin berinteraksi dengan kelelawar melalui panen guano, praktik keagamaan, dan ekowisata," tulis para peneliti dalam studi mereka.

Para peneliti menganalisis urutan genetik dari sampel ini dan membandingkannya dengan genom virus corona yang telah diketahui. Virus baru ditemukan pada tiga spesies kelelawar.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui potensi ke-enam virus corona baru tersebut dapat pindah ke spesies lain. Serta apakah ke-enam virus baru tersebut dapat berdampak pada kesehatan manusia.
Semakin dini diketahui penyebab dari virus corona baru ini maka akan semakin cepat pula tindakan yang dapat diambil untuk mencegahnya.
(Sumber: livescience.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam