Alumni Bidikmisi, Hikayat Ahmad Fadhil Lulusan UT Peraih IPK 4.00

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 20 Juni 2022 18:19
Alumni Bidikmisi, Hikayat Ahmad Fadhil Lulusan UT Peraih IPK 4.00
Ia sendiri sempat pesimis bisa kuliah.

Dream – Pemuda bertubuh tinggi itu duduk terpaku. Ia tengah merasa bimbang dengan masa depannya. Pada tahun 2013, dia masih duduk di bangku kelas III SMA di sebuah sekolah menengah atas di Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Teka-teki kehidupan terasa terlalu sulit dia pecahkan.

Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dia dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah atau tidak. Misalnya beban orang tuanya dalam membiayai kuliah, biaya hidup, biaya tempat tinggal, transportasi, dan biaya-biaya lainnya.

“ Oleh karenanya, pada saat duduk di bangku kelas III SMA, perasaan galau makin merasuki saya,” ujar pemuda itu, Ahmad Fadhil, seperti dikutip dari laman Universitas Terbuka Jambi.

Banyak sekali pertanyaan yang terus mengganggu benak Fadhil. “ Bagaimana masa depan saya nanti?... Apakah saya mampu melanjutkan studi ke perguruan tinggi tanpa membebani kedua orang tua? Ahh… seandainya saya anak orang mampu, mungkin tidak serumit ini,” keluhnya.

Mendekati hari kelulusan SMA, Fadhil mendengar perihal beasiswa Bidikmisi di Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Dengan dibantu oleh guru-guru dan pengurus kelompok belajar Tanjung Jabung Barat, Fadhil lalu direkomendasikan untuk mendaftar program Bidikmisi yang ada di Universitas Terbuka (UT) Jambi.

Modal utama Fadhil adalah gelar siswa teladan, dan penghargaan sebagai siswa terbaik karena keaktifan dan prestasinya dalam menjuarai beberapa lomba ketangkasan.

Saat mempersiapkan berkas-berkas persyaratan untuk mendapatkan jalur undangan tersebut itu, dia melakukannya dengan penuh suka cita dan semangat yang berkobar.

“ Inilah saat yang paling saya tunggu…,” kenangnya.

***

Ahmad Fadhil lahir tanggal 15 Desember 1995 di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Usianya kini 27 tahun.

Ia merupakan anak pertama. Ayahnya bernama Syamsu sementara ibunya bernama Siti Hamimah.

Ia berasal  dari keluarga sederhana. Ia adalah anak yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga dengan riwayat pendidikan seadanya. Ayahnya adalah seorang pedagang, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

Setelah menamatkan pendidikan SMA, awalnya bagi Fadhil melanjutkan kuliah di perguruan tinggi merupakan impian semata. Ia sadar perguruan tinggi merupakan institusi pendidikan yang tidak murah, menuntut biaya besar, dan relatif hanya bisa dijangkau oleh masyarakat golongan menengah ke atas.

Tapi harapannya tumbuh ketika mendapat informasi tentang beasiswa Bidikmisi. Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan dari Pemerintah Republik Indonesia yang ditujukan untuk mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi di bidang akademik. Program ini diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Bagi Fadhil, beasiswa Bidikmisi merupakan program yang amat membantu generasi penerus bangsa khususnya generasi milenial yang mempunyai semangat belajar tinggi, tetapi memiliki keterbatasan ekonomi.

Maka, setelah mendapat informasi itu dari gurunya, dia pun mendaftar Bidikmisi di Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT) Jambi.

Alhamdulillah, setelah melewati beberapa rangkaian tes mulai dari tahap administrasi hingga wawancara, saya dinyatakan lulus dan diterima menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi jurusan Managemen UT,” tuturnya.

Universitas Terbuka Jambi© UT Jambi

(Universitas Terbuka Jambi/UT Jambi)

Ia merasa bersyukur karena mendapat kenikmatan luar biasa bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun, mendapatkan Bidikmisi di Universitas Terbuka (UT) tidak lantas membuat dia terlena, melainkan memacunya untuk terus berjuang dan berprestasi.

Tahun 2013, adalah tahun awal dimulainya kisah hidup baru Ahmad Fadhil yang begitu panjang dalam menggapai masa depan. Ia mulai kuliah di UT Jambi.

“ Sebagai anak yang baru tamat SMA, pertama kali mengikuti perkuliahan di UT saya merasa heran, canggung, dan tidak nyaman. Betapa tidak, UT yang merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang besar,  menerapkan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh yang tujuannya meningkatkan daya jangkau dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara Indonesia. Termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil, baik di seluruh Nusantara maupun di berbagai belahan dunia,” akunya jujur.

Kelebihan UT yang lain, katanya, adalah sosok “ dosen”-nya. Selama ini yang dia tahu yang mengajar mahasiswa namanya dosen, seorang manusia.

Tetapi sistem belajar di UT mengganti dosen dengan buku yang disebut “ modul”. “ Bagaimana kita menciptakan sebuah pembelajaran yang komunikatif kalau dosennya adalah sebuah benda (buku)?” pikir dia.

Dari sinilah Fadhil paham sebagai mahasiswa UT dituntut sebuah kemandirian.

Kemauan yang keras untuk menggapai cita-cita selalu tertancap dibenak Fadhil pada saat itu. Sistem pembelajaran UT telah mengubah prinsip pola pikir Fadhil untuk belajar secara mandiri, tekun dan maksimal.

“ Alhasil, pada semester pertama, alhamdulillah saya berhasil meraih Indeks Prestasi (IP) tertinggi dengan nilai sempurna 4,00. Ini merupakan thunder power bagi saya untuk semakin bersemangat dan percaya diri dalam menghadapi perkuliahan,” terangnya.

Semester demi semester pun dilalui Fadhil. Suka maupun duka selama masa perkuliahan telah dia lewati. Ternyata, ujarnya, untuk mendapatkan nilai di UT sangat mudah apabila setiap mahasiswa menjadikan dosen (modul) itu sebagai teman.

Prinsip belajar yang dia terapkan ketika itu adalah tiada hari tanpa membaca modul. Setiap malam sebelum tidur setidaknya minimal satu halaman modul selalu dia baca.

Di sela-sela kesibukan pun, dia sempatkan untuk membaca modul UT, karena kunci sukses belajar di UT itu adalah modul. “ Bagaimana kita ingin belajar kalau kita tidak punya pedoman (modul)?.” tanyanya.

Adakalanya dia mengaku merasa bosan membaca modul. Tapi menurutnya itu manusiawi sekali. Apalagi modul yang dirancang UT cukup padat. Tetapi itu tidak membuat Fadhil  jenuh saat belajar.

Sistem belajar di UT yang fleksibel juga membuat hobi jalan-jalan Fadhil tidak  terganggu. Ia masih bisa mengunjungi tempat-tempat yang dia inginkan, langsung berinteraksi dengan alam untuk membayar rasa kejenuhan belajar yang dia alami.

Menurut Fadhil, nilai satu mata kuliah di UT ditentukan oleh nilai Ujian Akhir Semester (UAS) dan nilai Tutorial Tatap Muka (TTM) atau nilai Tutorial Online (Tuton).

Sebagai mahasiswa Bidikmisi, dia  wajib mengikuti TTM. Prosentase kedua nilai tersebut pada saat dia kuliah adalah masing-masing 50 persen. Intinya bila mengikuti dengan benar sistem perkuliahan di UT dengan cara membaca modul dengan cermat, mengikuti tutorial baik online maupun tatap muka, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik, menurutnya setiap mahasiswa bisa meraih nilai bagus.

Universitas Terbuka Jambi© UT

(Universitas Terbuka Jambi/UT)

Ia juga mengaku ada perasaan damai yang datang setelah dia  menyelesaikan soal-soal ujian yang  menguras otak dan tenaga saat UAS. Saat menunggu nilai keluar selama dua bulan, Fadhil tetap melakukan rutinitas yang sama, yaitu membaca modul-modul yang ada untuk mengevaluasi hasil ujian yang telah lewat, sambil menunggu modul-modul semester depan tiba di sekretariat Pokjar Tanjung Jabung Barat.

Setelah modul baru datang untuk semester depan, dengan girang Fadhil langsung membaca dan menelaah tinjauan mata kuliah di setiap modul. Jadi, pada saat tutorial dimulai, Fadhil rata-rata telah menguasai 30 persen materi pada setiap mata kuliah. “ Hari-hari penuh dengan bacaan, itulah hari-hari saya yang dijalani ketika menjadi mahasiswa UT,” jelasnya.

Dengan manajemen waktu yang baik, Fadhil juga bisa kuliah sambil bekerja. Karena dia  sadar ilmu yang didapat tidak ada apa-apanya apabila tidak dipraktikkan langsung ke dunia kerja.

***

Mengikuti perkuliahan di UT benar-benar suatu anugerah bagi Fadhil. UT seolah sangat mengerti keinginan dia, yaitu memiliki waktu yang fleksibel.

“ Dengan sistem belajar yang dinamis, saya bisa belajar kapanpun, dengan cara apapun, dan lewat media apapun tanpa mengganggu aktivitas yang lainnya termasuk karir,” ujarnya.

Inilah yang menyebabkan pola pikir kemandirian Fadhil terasah sejak mengikuti perkuliahan di UT. Dengan adanya model kuliah di UT, dia bisa mengembangkan karakter mandiri yang kuat sebagai generasi milenial.

“ Saya menjadi lebih yakin dan percaya akan kemampuan diri sendiri untuk menatap masa depan yang lebih cerah,” paparnya.

Pada bulan Agustus 2016, merupakan momen bersejarah dalam hidup Fadhil. Saat itu ada Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke XXI diadakan acara Temu Nasional Mahasiswa Bidikmisi se-Indonesia di Solo, Jawa Tengah, yang dihadiri kurang lebih 1.500 mahasiswa. Pada saat itu Fadhil diberikan kepercayaan mewakili mahasiswa UPBJJ-Universitas Terbuka Jambi.

Jadi acara itu adalah ajang berkumpulnya mahasiswa berprestasi dari perguruan tinggi seluruh Indonesia. “ Saya sedikit minder pada waktu itu, karena bisa dibilang saya adalah mahasiswa dari kampung di pulau Sumatera. Malah sebagian besar dari mereka tidak mengenal kota saya. “ Kuala Tungkal, dimana itu?” tanya mereka,” kenangnya.

Selain itu di acara itu dia juga bertemu dengan mahasiswa UT dari berbagai provinsi lain. Seperti Ni Komang Juni Andani program studi Manajemen (UPBJJ-UT Denpasar), Mela Maryani program studi Sosiologi (UPBJJ-UT Bandar Lumpur), Melani program studi Ilmu Komunikasi (UPBJJ-UT Surakarta), Ririn Rismawati program studi Ilmu Pemerintahan (UPBJJ-UT Bogor), Jayadi program studi Agri Bisnis (UPBJJ-UT Pontianak), Dian Ekawati program studi manajemen (UPBJJ-UT Majene) dan Meylany Perpetua Konyanan program studi Ilmu Pemerintahan (UPBJJ-UT Jayapura).

Ia pun saling bertukar wawasan tentang bagaimana strategi belajar di UT. Dari kedelapan mahasiswa UT yang menjadi perwakilan masing-masing provinsi, ternyata ada empat orang yang memiliki IPK 4,00 pada saat itu, yakni Mela Meryani, Melani, Ni Komang Juni Andani, dan Fadhil sendiri.

Di dalam acara bergengsi tersebut, ada dua mahasiswa dari UT yang dinobatkan menerima anugerah sebagai penerima beasiswa Bidikmisi peraih IPK tertinggi, yaitu Fadhil dan Mela Meryani.

“ Kami mendapatkan hadiah, sebuah laptop, yang diserahkan secara langsung oleh Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir dan Menko PMK Puan Maharani,” terangnya bangga.

Ia sendiri tidak menyangka dan nyaris tidak bisa berkata apa-apa. Ia bangga karena terpilih menerima penghargaan dari sekian ribu mahasiswa penerima Bidikmisi lainnya yang hadir pada acara tersebut.

“ Tak pernah terlintas sebelumnya mendapatkan penghargaan itu dari sekian banyak mahasiswa berprestasi di Indonesia dan bisa berjabat tangan secara langsung dengan Menristekditi dan Menko PMK yang selama ini hanya bisa saya saksikan lewat televisi,” ujarnya mengenang.

***

Usai acara itu, Fadhil pun terus membuktikan dirinya. Dari semester satu hingga akhir semester, ia pun selalu menerima indeks prestasi sempurna.

Akibatnya, dia menjadi menerima predikat sebagai lulusan terbaik atau cumlaude. “ Dalam perhelatan wisuda UT Periode I Tahun Akademik 2017/2018, alhamdulillah saya menjadi lulusan terbaik dengan IPK 4,00,” ujarnya..

Wisuda UT Jambi© UT Jambi

(Wisuda di UT Jambi/UT Jambi)

Ia pun hanya bisa berterimakasih atas segala nikmat Tuhan. Sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya. Ketika dia bisa mendapatkan penghargaan sebagai lulusan terbaik dengan predikat pujian.

Tentu, terangnya, semua itu tidak didapat dengan usaha yang biasa-biasa saja. Menurutnya dibutuhkan perjuangan keras agar dapat membagi waktu untuk kuliah dan bekerja.

“ Saya tidak ingin mengambinghitamkan pekerjaan jika suatu ketika nilai akademik saya menurun. Saya sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT, atas prestasi-prestasi yang saya capai. Terimakasih kepada kedua orang tua yang telah membimbing dan memberikan saya semangat dalam setiap untaian doa yang mereka panjatkan,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih juga untuk pemerintah dan Universitas Terbuka khususnya UPBJJ-UT Jambi Pokjar Tanjung Jabung Barat atas program Bidikmisi yang disediakan.

Dalam agama yang dia yakini, Islam, menurutnya Tuhan telah memperlihatkan bagaimana kebanyakan manusia adalah makhluk yang merugi, kecuali mereka yang memanfaatkan waktunya dengan optimal, saling tolong-menolong dan saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

“ Itulah sebabnya, saya percaya bahwa waktu hidup yang terbatas ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan memikirkan masa lalu yang tak dapat diulang, tapi jadikan sebuah motivasi untuk kedepan dan jangan khawatirkan masa depan karena apa yang kita perbuat hari ini adalah cerminan untuk masa depan yang dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal dan berguna. Baik bagi diri sendiri, keluarga, teman-teman maupun orang-orang yang di sekitar kita,” pungkasnya,

Dari sebuah keluarga sederhana di pelosok Jambi, Ahmad Fadhil telah membuktikan tidak ada yang tidak mungkin. Dengan bantuan beasiswa Bidikmisi dia sudah membuktikan sebagai mahasiswa lulusan Universitas Terbuka peraih nilai indeks pretasi kumulatif sempurna: 4,00. Sebuah prestasi yang sulit dicapai oleh kebanyakan orang, Hebat! (eha)

Sumber: Universitas Terbuka Jambi

Beri Komentar