Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Bahaya Donald Trump, Wajah Skandal Trump dalam Film Dokumenter

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 5 September 2022 20:38
Bahaya Donald Trump, Wajah Skandal Trump dalam Film Dokumenter
Ia menipu tanpa malu-malu.

Dream – Pria itu masih muda. Ia tampan dengan rambut pirang tersisir rapi ke samping. Pada pertengahan 1980-an,  dia ditanya pewawancara apa cita-citanya setelah berhasil menjadi pengusaha sukses.

Ia pun  menjawab ringan: “ Mungkin saya akan menjadi Presiden,” kata pria yang saat itu masih berumur menjelang 30 tahun itu.

Pria muda itu adalah Donald Trump. Puluhan tahun kemudian dia berhasil mewujudkan kata-kata itu menjadi kenyataan: menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45.

Donald Trump saat wawancara tahun 1980

(Donald Trump saat diwawancara pada tahun 1980-an/Youtube)

Namun, ia mungkin sosok Presiden Amerika Serikat paling kontroversial dalam sejarah Amerika. Karena itu perjalanan hidupnya selalu menjadi subyek menarik untuk dibuat menjadi film dokumenter. Seperti juga film dokumenter yang memuat wawancaranya saat dia berusia muda di awal tulisan ini.

Berbeda dengan film biasa yang unsur fiksinya lebih kuat, film dokumenter  seperti halnya karya jurnalistik. Film dokumenter dibuat dengan kecermatan dan kehati-hatian. Yang mereka tuangkan hanya fakta. Sekali lagi fakta. Bukan fiksi.

Setidaknya ada dua film dokumenter yang mengabadikan berbagai skandal Trump. Yang pertama berjudul “ The Great Hack.” Dan yang kedua salah satu edisi “ Dirty Money” berjudul " The Confidence Man." Dan semuanya bisa ditonton secara online di Netflix.

Film " The Great Hack." berangkat dari kisah nyata. Film ini produksi  Netflix tahun 2019.

Film dokumenter The Great Hack

(Film dokumenter The Great Hack keluaran Netflix/Spotify)

Film ini adalah sebuah film dokumenter tentang skandal perusahaan konsultan politik Cambridge Analityca yang pernah ramai diberitakan di media massa dunia.

Perusahaan Cambridge Analityca  yang berbasis di Inggris ini berperan penting untuk membuat kampanye " Brexit" alias British Exit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa menang dalam referendum Inggris di tahun 2016, dan memuluskan kemenangan Donald Trump dalam Pmeilu Presiden AS di tahun 2016.

Bila perusahaan ini masih hidup dan skandal ini tidak terkuak ke publik, barangkali Donald Trump yang sudah terbukti menjadi Presiden AS terburuk di abad 21 ini, boleh jadi akan terpilih lagi dalam Pilpres AS tahun 2020 kemarin.

Cambridge Analityca memang piawai melakukan metode militer berupa perang urat syaraf atau " psyops" di media sosial khususnya Facebook. Dengan berpura-pura mengadakan riset tes kepribadian yang disebar melalui iklan di Facebook, Cambridge Analityca dengan mudah memperoleh data pengguna Facebook dan memiliki akses kepada semua jaring pertemanannya di Facebook.

Sehingga tak heran mereka kemudian memiliki data 87 juta pengguna Facebook yang kemudian dimanipulasi kesadarannya untuk memenangkan kubu Trump dalam Pilpres AS.

Dengan mengetahui kecendrungan pengguna di Facebook, perusahaan ini membombardir lewat meme, video, iklan, dan berita palsu yang memojokkan kubu lawan Trump. Sehingga pengguna Facebook yang kesadarannya dimanipulasi lewat Facebook dan media sosial lain akhirnya memilih Donald Trump.

Dalam Pilpres AS tahun 2016 misalnya, perusahaan ini membuat penggalan video pidato Michelle Obama, istri Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat tentang perlunya seseorang bisa mengurus rumah tangganya sebelum mengurus negara.

" Bagaimana mau mengurus negara jika mengurus rumah tangga saja tidak bisa?," kata Michelle yang menjadi Ibu negara AS kala itu.

Pidato itu seolah mengritik calon presiden AS dari Demokrat, Hillary Clinton, yang rumah tangganya berantakan saat suaminya Bill Clinton terlibat skandal seks dengan Monica Lewinsky. Video pidato itu pun kemudian viral di Facebook dan efektif untuk memukul kredibilitas Hillary Clinton.

Padahal, faktanya Michelle Obama saat berpidato tidak bermaksud menyindir Hillary Clinton. Video itu sebetulnya pidato biasa dan tak ada hubungannya dengan Hillary, tapi diplesetkan sebagai berita palsu bahwa Michelle Obama yang berasal dari Partai Demokrat mengecam Hillary sebagai Capres AS yang diusung Partai Demokrat tahun 2016.

Dengan memanipulasi data puluhan juta pengguna di Facebook, Cambridge Analityca terbukti sukses menaikkan Donald Trump ke kursi Presiden AS pada tahun 2016.

Apalagi, Wakil Tim Kampanye Trump, Steve Bannon, yang juga menjabat sebagai salah satu Direktur Cambridge Analityca, memasang 5,9 juta iklan di Facebook. Bandingkan dengan tim kampanye Hillary yang cuma memasang 66.000 iklan di Facebook.

Cambridge Analityca melalui Proyek Alamo tercatat menghabiskan U$ 1 juta atau Rp 14,8 miliar perhari untuk iklan di Facebook. Dan pada saat itu iklan politik di Facebook belum dibatasi, sehingga 'fake news' atau berita palsu bisa melenggang mulus sehingga efektif memanipulasi kesadaran pengguna Facebook yang datanya sudah dipegang Cambridge Analtyca.

Skandal ini mulai terkuak saat seorang dosen di AS usai Pilpres AS meminta data pribadinya yang dipegang Cambridge Analityca dikembalikan. Ia pun kemudian menggugat Cambridge Analityca di pengadilan Inggris.

Dari situ cerita mulai berkelindan. Seorang karyawan pria pendiri Cambridge Analityca akhirnya membuka suara ke pers tentang praktek kotor cara perusahaan itu memperoleh data pengguna Facebook. Caranya dengan berpura-pura memasang iklan tes kepribadian. Setelah pengguna Facebook tertarik, maka data dia dan jaringan pertemanannya bisa dikuasai Cambrige Analityca.

Brittany Kaiser, sang pembongkar rahasia Cambridge Analityca,

( Brittany Kaiser, sang pembongkar rahasia Cambridge Analityca/PBS)

Lalu, seorang wanita salah satu Direktur Cambridge Analityca, Brittany Kaiser, juga buka suara. Ia menjadi " whistleblower" atau orang dalam yang membuka rahasia perusahaan. Bagaimana Brittany melobi Trump setelah perusahaan itu sukses menaikkan Senator Ted Cruz. kandidat peringkat terbawah ke posisi kedua terkuat di konvensi Capres Partai Republik. Setelah Ted Cruz kalah oleh Trump dalam Konvensi Partai Republik, Cambridge Analityca direkrut oleh Trump.

Carole Jane Cadwalladr, seorang wartawan investigasi wanita dari Harian " The Guardian" di Inggris adalah wartawan pertama yang awalnya mencium ketidakberesan Cambridge Analityca.

Karena menulis berita tentang ketidakberesan perusahaan itu, ia pun secara pribadi sempat diserang dan dijadikan meme berisi pelecehan atas dirinya di video yang viral di media sosial. Tapi praktik " doxing" dan pelecehan itu tak membuatnya mundur.

Carole Jane Cadwalladr, wartawan harian The Guardian

(Carole Jane Cadwalladr, wartawan harian The Guardian/CJR)

Akhirnya Parlemen Inggris dan Senat di Amerika Serikat mulai melakukan penyelidikan parlemen atas skandal manipulasi data pengguna Facebook oleh Cambridge Analityca. Hingga kemudian penyelidikan itu berubah menjadi tuntutan serius yakni tuduhan pidana.

Pintarnya, saat terpojok hebat di Inggris dan Amerika, perusahaan konsultan Cambridge Analtica itu memilih menutup kantor dan mengajukan pailit guna membendung tuntutan pidana.

Tapi kisah ini adalah sebuah krisis tentang kerahasiaan data pribadi di media sosial. Selama ini data pengguna yang disimpan oleh perusahaan macam Google dan Facebook awalnya digunakan untuk kepentingan komersial macam iklan.

Misalnya seorang pengguna Facebook menjelajah situs belanja online untuk melihat jam Seiko. Maka ketika dia mengunjung situs lain, misalnya situs berita, iklan jam Seiko akan muncul di situs lain yang dia kunjungi. Iklan pintar ini karena Facebook dan Google merekam dan menyimpan data kebiasaan kita sehingga kemanapun setiap kita pergi ke dunia maya, " iklan pintar" itu akan mengikuti.

Tapi apa jadinya bila kecendrungan dan data di media sosial kita digunakan untuk kepentingan politik? Yang ada adalah propaganda sesat. Publik akan dijejali berita palsu, meme, dan video sesat. Tujuannya agar pilihan kita berubah.

Dan ini menyebabkan " chaos" atau kekacauan luar biasa. Masyarakat terpecah belah dan saling baku hantam karena pilihan politik yang dipicu berita palsu.

Ini juga mengancam demokrasi. Karena sebuah kompetisi tidak lagi dilakukan secara rasional oleh masyarakat pemilih, tapi oleh emosi yang dimanipulasi lewat penyebaran berita palsu di media sosial macam Facebook.

Cara manipulasi Cambridge Analtica ini terbukti amat berjasa menaikkan Donald Trump ke kursi presiden AS pada tahun 2016. Memanipulasi data pengguna Facebook lalu membombardirnya dengan meme, video dan berita palsu tentang lawan politiknya, membuat Trump mulus terpilih sebagai Presiden AS.

Film “ The Great Hack” adalah dokumentasi terang benderang untuk menjelaskan mengapa Trump bisa memenangkan Pilpres AS tahun 2016.

***

Ketika Trump akan mengikuti kampanye Pilpres tahun 2020, Cambridge Analtica sudah bubar. Dan hasilnya bisa ditebak: Trump kalah. Ia kalah karena tak punya alat lagi untuk memanipulasi pemilih.

Namun Trump tak terima. Ia malah menyerukan massa pendukungnya untuk mengepung US Capitol, untuk mengagalkan pengesahan Joe Biden dari kursi presiden AS.

Massa pendukung Trump menyerbu US Capitol

(Massa pendukung Trump menyerbu US Capitol/CNN)

Akibatnya segerombolan massa pendukung Presiden Trump menyerbu dan menerobos masuk US Capitol, markas parlemen Amerika Serikat yang tengah melakukan proses terakhir sertifikasi atau pengesahan kemenangan Joe Biden atas Pemilu Presiden AS.

Jelas gerombolan massa itu di bawah komando orang-orang Trump. Tujuannya untuk menggagalkan kemenangan Biden,. Terbukti Trump mendukung gerakan itu melalui Twitter sebelum Twitter menghapus twett-nya dan memblok akun Presiden AS itu selama 12 jam.

Pimpinan Partai Republik di Senat yang merupakan partai pengusung Trump, Mitt Romney, bahkan secara terang-terangan  menyebut pernyebuan massa ke Capitol Hill  itu " sebuah pemberontakan yang dihasut oleh Presiden Amerika Serikat." Seorang polisi dan seorang demonstran tewas akibat insiden kerusuhan itu.

Mengapa Donald Trump begitu nekat untuk mengkudeta hasil demokrasi? Film dokumenter Netflix berikutnya berjudul " Dirty Money" keluaran tahun 2018 khususnya edisi tentang bisnis Trump, menjelaskan mengapa Trump tega melakukan hal itu.

Pada session 1 episode 6 “ Dirty Money”, ada film dokumenter yang secara khusus mengupas tentang sejarah bisnis Trump berjudul " The Confidence Man" alias The Con Man alias manusia penipu.

Film dokumenter Dirty Money

(Film dokumenter Dirty Money/Googler)

Film dokumenter ini menunjukkan bagaimana seorang pengusaha macam Trump telah lama menipu dan memanipulasi publik AS dan dunia dalam kiprahnya di dunia bisnis melalui pencitraan diri berlebihan di media massa.

Dalam film dokumenter Netflix Dirty Money" edisi " The Confidence Man" itu diceritakan awalnya Donald muda mewarisi puluhan juta dolar dari ayahnya, Fred Trump, seorang pengembang real estate yang sukses, saat memulai bisnisnya.

Pada tahun 1980-an, Donald belajar bagaimana nama Trump bernilai. Bisnisnya sukses ketika Donald Trump mulai membangun Trump Tower di Manhatann. Apalagi dia berhasil mengaet grup hotel Hyatt. Lalu dia membangun Trump Castle dan Plaza Hotel.

Trump muda tahu dan paham bagaimana dia harus mencitrakan diri sebagai pengusaha sukses. Ia pun rajin menelepon wartawan untuk memberi kisi-kisi gosip gaya hidup orang kaya Amerika. Dan sebagai imbal baliknya, namanya dengan demikian selalu masuk pemberitaan. Dengan demikian dia selalu menjadi sorotan media massa pada tahun 1980-an.  

Zaman itu ketika internet belum ada  di tahun 1980-an, pemberitaan media massa cetak dan TV jadi penting. Dan Trump selalu masuk pemberitaan meski itu cuma kolom berita gosip.

Ia kerap mengaku sebagai " orang perwakilan Trump" saat menghubungi wartawan.  Sebagai imbalannya dia selalu mendapat julukan " miliarder" secara cuma-cuma di media massa, walau faktanya dia hanya pebisnis menengah.

Akibat pencitraan sebagai pengusaha sukses dan miliarder, Trump mulai kebanjiran kredit ratusan juta dolar dari hampir semua bank besar di Amerika untuk mendukung invasi bisnisnya. Ia mendapat kepercayaan dari semua bank berkat peran media.

Tapi dengan pundi-pundi utang begitu banyak, dia jadi lengah dan eskpansif. Ia memutuskan membangun Trump Taj Mahal Casino, sebuah rumah judi terbesar di dunia yang ada di kota Atlantik. Di sinilah ia tersandung.

Trump Taj Mahal Casino

(Trump Taj Mahal Casino/ABC News)

Investasinya macet sementara bunga utang sudah semakin tinggi. Ia tak mampu membayar utang dan bunganya walau semua asetnya dijual. Alhasil semua bank di Amerika mulai kehilangan kepercayaan pada dia dan tak mau lagi memberi kredit atau pinjaman. Ia benar-benar habis di mata semua bank di Amerika. Ia masuk daftar hitam bank di Amerika sebagai pengemplang utang.

Pada awal 1990,  utangnya pada bank mencapai U$ 3 miliar atau Rp 42 triliun. Trump Tower, Castle Trump,  Plaza Hotel, dan Trump Taj Mahal Casino secara teknis sudah bangkrut.

Trump Taj Mahal Casino dijual

(Trump Taj Mahal Casino dijual karena bangkrut/Casino.org)

Ketika terpuruk di awal tahun 1990-an, Trump  masih tetap aktif tampil di media. Ia selalu tampil karena dia narasumber yang gampang dihubungi.

Saat usahanya terpuruk dan pihak bank menolak memberikan pinjaman kredit, Trump mulai menjadikan organisasinya The Trump Organizaniton sebagai bisnis waralaba.  

Caranya dengan menjual nama " Trump" sebagai nama bermerek dan berkelas seperti merek Levi's dan Coca Cola. Dengan cara itu, meski dia tak lagi mendapat kredit atau utang dari seluruh bank di Amerika, dia masih bisa bermanuver di luar negeri yang masih terpesona dengan pemberitaan bahwa Trump adalah seorang miliarder sejati.

Maka, dia mulai membangun hotel dan gedung di luar negeri dengan rekanan lokal yang dibolehkan menggunakan nama Trump pada hotel atau gedung itu setelah mereka membayar lisensi penggunaan nama Trump yang terhitung mahal.

Dengan cara inilah dia bertahan hidup sebagai pebisnis gagal, dan terus-menerus mempertahankan citra dia sebagai pebisnis sukses dan miliarder. Apalagi nama Trump muncul di negara-negara lain di sekujur dunia dalam bentuk hotel dan resort. Dengan cara itu dia masih bisa mendapat kepercayaan dan pinjaman dari bank, terutama bank luar negeri semisal bank Arab Saudi yang ia gunakan untuk membangun resor Mar-e-Lago di Florida.

Dengan demikian dari ratusan nama hotel, gedung, kasino dengan nama Trump di sekujur dunia, dia faktanya hanya memiliki beberapa saja.

Citra Donald Trump sebagai pria pebisnis sukses dan miliarder semakin terbangun saat dia memproduseri dan menjadi host acara reality show " The Apprentice" dari tahun 2004 sampai 2015.

Donald Trump dan acara The Apperitence

(Donald Trump dan serial The Apprentice" /BBC)

Padahal, seorang sutradara saat berkunjung ke kantor Trump di Trump Tower yang menjadi lokasi pengambilan gambar mengaku sempat melihat ujung meja Trump sudah terkelupas dan kondisinya suram. Tapi inilah reality show, semua tempat diubah jadi mengkilat,

Akhirnya berkat serial reality show " The Apprentice,"   nama Donald Trump semakin berkibar sebagai pengusaha sukses dan miliarder. Bukan sebagai pengusaha bangkrut. Tak hanya di seantero Amerika, tapi juga di seluruh dunia.

Berkat popularitasnya di serial itu dan bantuan Cambridge Analitica yang memanipulasi kampanye Trump di era media sosial terutama Facebook  (lihat film " Great Hack" ),  Trump akhirnya berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat ke 45.

Karena kepandaian memanipulasi citra, warga AS lupa pada fakta bahwa saat dia hendak menduduki Presiden AS dia tengah menghadapi 4.000 gugatan hukum atas bisnisnya, termasuk enam gugatan kebangkrutan.

Salah satu gugatan itu datang dari peserta Trump University, universitas yang didirikan Trump pada tahun 2004. Ia mengenakan biaya kursus, bukan kuliah, sebesar U$ 35.000 atau Rp 497 juta per orang.

Donald Trump di Trump University

(Donald Trump di Trump University/Newsweek)

Banyak peminat yang merupakan orang-orang kelas menengah yang terpesona oleh kesuksesan citra Trump sebagai pebisnis sukses, didorong untuk meminjam ke bank, atau menjual tanah serta apartemen yang mereka miliki, untuk membayar biaya kursus. Mereka dijanjikan akan menjadi pengusaha sukses seperti Trump.

Akibatnya ribuan orang tertipu.  Maka, setelah janji itu tak terbukti, mereka pun menggugat Trump karena dirugikan oleh janji manis Trump University.  Mereka menggugat sebesar U$ 40 juta atau Rp 563 miliar.

Akhirnya, saat menjadi Presiden AS, Trump setuju untuk berdamai dengan membayar uang perdamaian sebesar U$ 25 juta atau Rp 352 miliar. Trump memilih berdamai sebab bila kalah dia harus membayar U$ 200 juta atau Rp 2,8 triliun.

Dengan latar belakang bisnis yang remuk, tapi kepandaian dia memanipulasi citra diri di media dan televisi, itulah modal dasar Trump menduduki kursi Presiden AS.

Maka tak heran dia tak mengindahkan etika antara bisnis dan politik. Ia tak malu-malu menghabiskan waktunya sebagai Presiden AS di  lapangan golf  atau resor Mar-e-Lago miliknya.  Dan tentunya itu tidak dengan gratis. Tapi harus dibayar pemerintah AS yang dikumpulkan dari uang pajak rakyat Amerika.

Donald Trump saat menjamu PM Jepang di Mar-a-Lago, kediaman pribadinya

(Donald Trump saat menjamu PM Jepang di Mar-a-Lago, kediaman pribadinya/TWC)

Bahkan, harian The New York Times pernah mencatat grup Trump Organization menagih ke pemerintah AS sebesar U$ 2,5 juta atau Rp 35 miliar untuk melayani kunjungan Trump sebagai Presiden AS ke resor atau lapangan golf milik pribadinya.

Trump sadar bagaimana memanfaatkan posisinya sebagai Presiden AS untuk menaikkan kembali bisnis-bisnisnya yang remuk sejak awal tahun 1990. Sampai-sampai seorang Direktur Kode Etik Gedung Putih  yang sudah menjabat di era tiga presiden AS, mengundurkan diri karena muak melihat Trump mencampurkan urusan negara dengan bisnisnya.

Maka, tak heran jika Trump nekat melakukan manuver politik putus asa di hari-hari terakhir kekuasaannya. Termasuk melakukan kudeta melalui gerombolan massa. Tak heran ada usul dari Partai Republik guna menggunakan Amandemen Konstitusi AS ke-25 untuk melengserkan Trump 13 hari sebelum dia diganti.

Karena faktanya Trump adalah manusia pencitraan. Penipu dan sudah terbiasa dalam bisnis manipulasi sejak muda.  Dan itu dilakukan untuk kepentingan koceknya pribadi. Tak peduli dia menjadi Presiden AS terburuk di abad 21. Sungguh mengerikan. (eha)

Sumber: Netflix

Beri Komentar