Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Buaya Berkalung Ban Muncul Kembali, Ban Di Lehernya Makin Terasa Sesak. (Foto: Afandi Ibrahim/Liputan6.com)
Dream - Setelah muncul awal Desember tahun ini, buaya berkalung ban di Palu kembali menampakkan dirinya ke permukaan.
Buaya berkalung ban ini sempat muncul awal bulan ini ditemani seorang wanita berdaster di bantaran sungai Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Waktu itu, seorang wanita berdaster berdiri di bantaran sungai, sementara buaya berkalung ban itu berjemur di dekatnya.
Kali ini buaya yang telah viral sejak tahun 2016 ini kembali menampakkan diri di bawah Jembatan II, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kota Palu.
Tentu saja kemunculan buaya berkalung ban tersebut langsung menarik warga yang sedang melintas Jembatan II.

Mereka berhenti untuk melihat buaya berkalung ban itu berjemur di bantaran sungai Kota Palu yang saat ini seolah menjadi sarangnya.
Meski jadi sorotan warga yang mengabadikan kemunculannya, buaya berkalung ban itu seperti tidak terusik sama sekali.
Namun ada pemandangan yang mengharukan saat buaya berkalung muncul lagi ke permukaan sungai.

Ban yang mengalungi lehernya selama ini sudah terlihat makin mengecil. Artinya, buaya itu semakin besar hingga ban di lehernya makin terasa sesak.
Sudin, warga setempat yang sedang melihat buaya itu, mengatakan, hewan melata itu biasanya sangat takut dengan keramaian.
Dia pernah melihat ketika ada orang, buaya itu biasanya lari dan menyelam ke sungai. Tapi sekarang tidak.
" Apakah ini isyarat bahwa ia ingin kalung ban itu dikeluarkan? Ataukah buaya itu makin sesak?" kata Sudin dengan nada bertanya.
Selain buaya berkalung ban, Sudin juga sering melihat buaya-buaya lainnya berjemur di bantaran sungai.
Namun, kemunculan buaya-buaya itu tidak sampai mengganggu aktivitas warga sekitar sungai Kota Palu.
" Biasanya yang lain juga muncul, dengan buaya yang berbeda. Tapi tidak mengganggu orang," ujarnya.
Menurut catatan, buaya spesies asli Asia Tenggara ini tergolong langka karena hanya tinggal 1.000 ekor.
Sebelumnya, sudah banyak yang mencoba menyelamatkan buaya berkalung ban ini. Pemerintah setempat bahkan sampai membuat sayembara.
Namun semua usaha itu gagal. Panji Sang Petualang dan Chris Wilson dari Australia yang katanya jago menangkap reptil juga gagal menaklukkannya.
Sumber: Brilio.net
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya