UKM (4): Dluwang Art, Mendulang Untung dari Koran Bekas

Reporter : Ramdania
Rabu, 2 September 2015 19:09
UKM (4): Dluwang Art, Mendulang Untung dari Koran Bekas
Dari barang bekas lahirlah aneka tas, sendal, dan miniatur unik. Salah satu industri rumahan yang bertahan di tengah ambruknya rupiah. Tersohor sampai mancanegara.

Dream - Siang itu matahari masih membakar Jalan Malioboro, Yogyakarta. Cuaca panas tak menghalangi pedagang suvernir memenuhi ruas jalan di depan ruas pertokoan jalan tersohor itu. Tak  seberapa jauh dari situ, tepatnya di Jalan Ledok Tukangan D2/257, Danurejan, sebuah galeri kecil tegak berdiri.

Masuk ke dalam ruangan galeri, almari kayu terbuka berwarna putih langsung menyambut. Keberadaannya hampir memenuhi separuh dinding ruangan yang dicat hijau muda itu. Di dalam almari, belasan tas terlihat terpajang. Juga sandal, miniatur Tugu Yogya, miniatur Menara Eiffel, vespa dan sepeda onthel.

Di lantai berubin keramik putih, setumpuk barang kerajinan juga berserak. Tumpukan koran bekas juga memenuhi sudut lantai. Di lantai itu, dua perajin, tengah melipat kertas koran bekas itu menjadi lintingan panjang kecil. Terus begitu. Sampai jumlahnya ribuan.

Sekilas, tak ada yang menyolok. Di kota seni itu, galeri sejenis selalu ada dan menyemut.

Tapi, inilah yang berbeda dengan galeri Dluwang Art. Cobalah ketik kata itu di Google. Jangan kaget, di peringkat pertama anda akan masuk ke alibaba.com, sebuah situs jual beli terbesar dunia yang digagas pengusaha tajir China.

Ya, Dluwang Art adalah sebuah galeri yang menjual produk suvernir, tas dan sandal dari bahan baku kertas koran bekas. Namun, inilah yang membedakannya dengan pedagang suvenir di Jalan Maliboro. Mereka amat sadar dengan kekuatan internet dan media sosial sebagai sarana pemasaran.

Tak heran, jika galeri yang dijalankan wanita berhijab ini begitu aktif mempromosikan produknya di media sosial. Entah itu lewat dluwangart.blogspot.com, facebook, twitter, instagram, sampai situs jual beli internasional macam alibaba.com.

Memang, kini bukan zamannya lagi menunggu pekerjaan untuk menghasilkan uang. Hanya bermodalkan niat dan ide kreatif, tangan-tangan terampil pun bisa mendulang uang. Inilah yang terjadi pada Briane Novianti Syukmita saat mengawali usaha kecilnya, Dluwang Art.

Meski bergelar sarjana filsafat, Novi, sapaan akrabnya, tak mau berpangku tangan menunggu gaji bulanan sebagai pekerja kantoran. Dia memilih menggunakan kreativitasnya untuk menciptakan barang-barang yang berguna dengan bentuk unik.

Berawal dari kejengahannya melihat tumpukan koran, Novi terinspirasi untuk mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat. Itulah awal terbentuknya Dluwang Art, salah satu usaha kreatif milik anak bangsa.

" Mulainya dari melihat buku sama lihat tumpukan koran," kenang perempuan berkacamata minus kelahiran 6 November 1989 itu.

Dluwang, dalam bahasa Jawa berarti kertas. Kertas adalah bahan yang mudah robek, dan jika terkena air, langsung rusak. Apalagi kalau kertas ini adalah kertas koran yang tipis dan mudah rusak.

Namun, kreativitas dan ilmu menjadikan kertas koran ini tidak saja kuat, tetapi bisa menjadi bahan baku untuk berbagai produk sehari-hari, seperti produk-produk yang ditawarkan Dluwang Art berupa sandal, tas, dan suvenir cantik pernikahan.

Dan, setelah menceburkan diri ke dalam bisnis ini bertahun-tahun, Dluwang Art tetap selamat. Begitu juga ketika rupiah ambruk. Dengan memanfaatkan kekuatan internet dan sosial media secara maksimal, Novi bisa menangguk untung puluhan juta rupiah dalam sebulan.


  

1 dari 2 halaman

Dari Kertas Bekas, Jadi Barang Nan Cantik

Dari Kertas Bekas, Jadi Barang Nan Cantik

Awalnya Novi tidak melangkah sendirian. Bersama tiga rekannya dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dia membangun Dluwang Art. Hanya bermodal awal sekitar Rp 500 ribu, Novi memulai dari awal menciptakan produk dari koran perdananya, yaitu tas. Di tangan ketiga anak kreatif ini, koran lusuh menjadi tas yang cantik dan modis.

" Kita mahasiswa iseng bikin usaha. Modalnya dulu itu dari mengumpulkan uang, kecil kok, hanya sekitar Rp 500 ribuan. Kan hanya bermodal tabloid, majalah, atau koran bekas yang dilinting, kemudian ditenun," ungkap perempuan asli Yogyakarta itu.

Tas hasil kerajinan tangan itu ternyata mendapatkan respon positif dari teman-teman di lingkungan kampusnya. Hal inilah yang menjadi pemicu Novi dan teman-temannya berencana memproduksinya secara besar, bahkan ditambah dengan produk lain seperti sandal.

Kini, Dluwang Art telah memproduksi beberapa jenis produk yang harganya sangat terjangkau. Sandal, harganya dipatok hanya Rp 20.000, tas harganya dari Rp 35.000 hingga Rp 55.000, suvenir pernikahan harganya bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000, produk miniatur harganya dari Rp 50.000 hingga Rp 105.000. 

Tidak hanya cantik dan unik, kerajinan tangan ini pun juga cukup awet jika digunakan dengan baik.

" Prinsipnya kan koran, meski sudah diberi lapisan tahan air, tetapi rentan juga. Intinya produk-produk ini digunakan untuk di dalam ruangan. Pembeli ada yang bilang tahan 6 bulan, tetapi ada juga yang testimoni tahan bisa 2 tahun. Yang jelas ini produk untuk dipakai di dalam rumah," jelasnya.

Untuk mengerjakan pesanan, yang sewaktu-waktu bisa sangat membludak, kini Novi mempekerjakan 2 pengrajin di rumahnya. Namun, begitu mendapatkan pesanan dalam jumlah yang sangat besar, dirinya meminta bantuan sekitar 30 pengrajin di sekitar Sleman.

" Sekarang pekerja di rumah ada 2 orang, yang lepas ada sekitar 30 orang pengrajin di sekitar Sleman," ujar mahasiswi UGM angkatan 2007 itu.

Novi mengaku sangat bersyukur karena bisa memberdayakan masyarakat sekitar untuk berbisnis. Dia pun mengaku banyak belajar dari para pengrajin untuk menciptakan produk kerajinan tangan yang menarik.

" Ini kita sama-sama belajar karena mereka kan memang pengrajin, jadi sudah tahu cara menenun, jadi tidak perlu diajarkan lagi. Hanya saja biasanya kan buat kerajinan dari lidi, sekarang lintingan koran," ujarnya.

2 dari 2 halaman

Bisnis Kreatif Bertumpu Pada Kualitas

Bisnis Kreatif Bertumpu Pada Kualitas

Kini, bisnis dengan modal yang kecil itu sudah memberikan untung besar. Dari hanya bertiga, kini dirinya telah memiliki 2 pengrajin, bahkan menyewa banyak pengrajin jika terdapat borongan pesanan. 

Namun, hal ini tentunya tidak dicapai dengan mudah. Jatuh bangun telah dirasakan Novi dalam mengembangkan usahanya. Suka duka dia lewati agar bisnisnya tetap berjalan.

" Dulu pernah ditipu distributor beberapa kali. Jadi dia bawa barang tetapi tidak bayar terus menghilang. Dulu kan sistemnya ambil dulu, baru nanti kalau laku baru bayar. Ya yang ditipu-ditipu begini memang bikin goyah usaha," kenangnya.

" Kalau sudah begitu, paling kita minta maaf ke para pengrajin ada penundaan pembayaran sampai kita punya duit lagi. Tapi gak boleh sih dalam berbisnis kayak begitu. Cuma,  Alhamdulillah mereka memaklumi, dan begitu ada uang langsung yang kita bayarkan upah pengrajin ini," cerita Novi.

Bisnis boleh goyah, tetapi tekad tetap kokoh berdiri. Novi tidak pantang menyerah. " Harus tahan banting," tegasnya.

Selain menjual produk kerajinan koran ini di rumahnya, Novi juga menjajakan dagangannya di tempat-tempat wisata di YogYakarta.

Tidak hanya itu, merebaknya media sosial pun menjadi lahan bagi Novi untuk memperkenalkan produk kreasinya itu.

" Tokopedia kita ikut, bukalapak juga, facebook, instagram, twitter, semuanya kita masuk," papar Novi.

Tidak heran, pesanan pun mulai berdatangan. Novi mengaku hampir setiap daerah di Indonesia pernah memesan kerajinan koran ini darinya. 

" Pesanan cukup banyak, hampir setiap daerah pernah pesan, dari Sabang sampai Merauke. Produk paling laku itu sandal, bisa dalam sebulan itu 100 sandal laku terjual, miniatur juga lumayan banyak. Apalagi saat ini, musim kawin, banyak pesanan suvenir," ungkapnya.

Novi menilai tantangan dalam berjualan produk kreatif itu sangat berat. Meski didukung dengan bantuan teknologi sehingga bisa berdagang secara luas tanpa infrastruktur toko, tetapi pesaingnya pun semakin banyak.

Untuk mampu bersaing dengan para pedagang lainnya, Novi memiliki tips bagi para pengusaha muda yang berencana mengawali bisnisnya. Hal yang dia lakukan adalah menjaga dan mempertahankan kualitas barang.

" Biasanya para pengusaha industri kreatif ini membuat produk, lalu mempromosikannya sangat kencang, tetapi begitu mendapatkan banyak pesanan, dia melupakan kualitas barangnya," jelasnya.

" Harus lihat kapasitas produksi yang kita miliki. Jadi kayak jual makanan, begitu sudah laku, eh bumbunya dikurangi. Jadi, jangan lupa menjaga kualitas," pungkasnya.

Begitulah cerita Novi. Walau harus jatuh-bangun sebagai pengusaha kecil menengah,  dia membuktikan tetap selamat  walau rupiah melemah. Apalagi bahan bakunya cuma koran bekas yang tak tergantung pada dolar AS. Terlebih, kekuatan teknologi internet dan media sosial, terbukti ampuh membantu Novi untuk terus bertahan dan tumbuh… (eh)

Beri Komentar