Donald Trump Buat Angkatan Perang Luar Angkasa

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 22 Januari 2020 07:01
Donald Trump Buat Angkatan Perang Luar Angkasa
Warganet mengejek desain seragamnya.

Dream - Presiden Amerika Serikat(AS), Donald Trump telah menandatangani Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional 2020. Dalam dokumen tersebut, Trump menyetujui pembentukan angkatan perang keenam AS, Angkatan Luar Angkasa AS (USSF).

Angkatan Luar Angkasa merupakan bagian dari Angkatan Udara AS, sama seperti halnya Korps Marinir AS di Angkatan Laut.

Seorang pejabar militer AS mengatakan angkatan perang baru itu direncanakan mulai beroperasi sekitar 18 bulan ke depan.

" Sudah hampir setengah abad dari Kitty Hawk ke penciptaan Angkatan Udara. Dan sekarang 50 tahun setelah Apollo 11 kita menciptakan Angkatan Antariksa," kata Trump dilaporkan Space.com.

" Ini momen besar. Itu momen besar, dan kita semua di sini untuk itu," kata dia.

1 dari 4 halaman

Seragamnya

Trump mengatkan, luar angkasa akan menjadi domain pertarungan baru. Dia menyebut, superioritas AS di bidang keamanan diperlukan.

" Dan kita memimpin, tetapi kita tidak memimpin dengan cukup. Tapi tidak lama lagi, kita akan memimpin sangat jauh. Angkatan Luar Angkasa akan membantu kita mencegah agresi dan mengendalikan tempat tertinggi," ujar dia.

Trump akan menunjuk Jenderal Jay Raymond untuk menjadi Kepala Operasi Antariksa pertama.

Pasca diresmikan, seragam pasukan Angkatan Luar Angkasa AS menjadi pembicaraan warganet. Dilaporkan CNN seragam pasukan Angkatan Luar Angkasa AS dinilai tidak sesuai dengan lingkungan.

Seragam yang dipamerkan, mirip dengan seragam Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Artinya, sisi kamuflase dibicarakan warganet.

2 dari 4 halaman

Badan Antariksa Eropa Akan 'Serbu' Asteroid yang Ancam Bumi

Dream - Eropa mengonfirmasi berpartisipasi pada program pertama yang dilakukan manusia dalam upaya melindungi planet. Badan Antariksa Eropa (ESA) telah menyetujui Hera, sebuah misi kerja sama dengan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Menurut laman space.com, misi itu akan menilai hasil program Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA. DART merupakan program pembelokan asteroid yang berpotensi menabrak Bumi.

DART bakal diluncurkan dengan roket SpaceX Falcon pada Juli 2021 dan mencapai Didymos, salah satu dari asteroid kembar yang berukuran 775 meter, pada Oktober 2022. Penyelidikan NASA kemudian akan dihunjamkan ke Didymoon --berukuran 165 meter, asteroid yang lebih kecil dari Didymos.

Proses itu akan diamati melalui teleskop dari Bumi. Teleskop akan mendokumentasikan bagaimana dampak Didymoon dan orbitnya di sekitar Didymos. Data ini nantinya membantu para ilmuwan mengukur efektifitas strategi penabrakan kinetik dalam strategi pembelokan asteroid.

Misi Hera bakal diluncurkan pada 2023 atau 2024 dan mencapai sistem asteroid Didymos dua tahun berikutnya. Menurut pejabat ESA, pesawat ruang angkasa Eropa akan mengumpulkan berbagai jenis data tentang batuan ruang angkasa dengan bantuan dua kubus kecil, yang keduanya akan melakukan pendaratan di asteroid.

Keputusan ESA menyetujui misi Hera, yang diumumkan pada pertemuan para kepala badan ruang angkasa Eropa di Seville, Spanyol, memastikan AS tidak akan sendirian dalam uji coba pertahanan planet ini.

" Kami sangat senang dengan keputusan Badan Antariksa Eropa untuk mendanai misi Hera, bagian penting dari upaya pertama manusia dalam membelokkan asteroid," demikian pernyataan kampanye #SupportHera.

" Suatu hari, misi Hera bisa menjadi sangat penting untuk melindungi planet kita dari asteroid."

Asteroid Prospection Explorer (APEX), yang dibuat konsorsium Swedia-Finlandia-Ceko-Jerman, akan menyelidiki struktur interior dan komposisi permukaan kedua asteroid dalam sistem itu. Sementara itu Juventas, yang dibangun oleh perusahaan Denmark, GomSpace dan perusahaan Rumania, GMV, akan mempelajari struktur dan medan gravitasi Didymoon.

3 dari 4 halaman

NASA & ESA Akan Belokkan Asteroid yang Berpotensi Tabrak Bumi

Dream - Skenario menyelamatkan Bumi dari tabrakan asteroid di film Armageddon yang dibintangi Liv Tyler, Bruce Willis, dan Ben Affleck, menempel dalam ingatan manusia.

Kini, dan ini bukan kejadian di film, ancaman asteroid yang menabrak Bumi sedang terjadi. Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) dan Badan Antariksa Eropa (ESA) bertemu di Roma pekan depan untuk membahas penyelamatan Bumi dari ancaman tabrakan ini.

Proyek ini bertujuan untuk membelokkan orbit salah satu dari dua asteroid yang mengancam Bumi dan Mars, Didymos.

Menurut laman Engadget, NASA dan ESA akan mengukur terlebih dahulu mengukur dampak dan kondisi penyelamatan yang efektif.

NASA Akan memberikan akselerator Uji Dampak Asteroid Ganda (DART) yang diluncurkan pada musim panas 2021. Akselelator itu akan menabrak Didymos yang berukuran lebih kecil.

Setelah tabrakan, Cubesat Italia, LICIACUbe, akan mempelajari dampak kerusakan. ESA kemudian akan meluncurkan satelit Hera pada 2024 untuk mempelajari asteroid Didymos yang lebih besar.

4 dari 4 halaman

Hera Tiba 2026

ESA akan mempelajari kawah, massa, dan satelit radar. Hera dijadwalkan akan tiba di asteroid raksasa itu pada 2026.

Para ilmuwan memilih asteroid Didymos karena orbitnya yang cukup lambat. Dengan kondisi itu, NASA berasumsi, cukup realistis untuk mengubah orbitnya.

Sebelumnya, pada 26 Maret lalu para astronom NASA menemukan asteroid saat malam hari yang jauh lebih gelap dibanding Pluto. Kala itu mereka menyebut asteroid itu dengan PDC 2019.

Asteroid itu memiliki orbit yang melewati 0,05 unit astronomi. Lalu NASA dan Badan Antariksa Eropa berspekulasi asteroid itu akan menghantam Bumi pada 29 April 2027.

Beri Komentar