Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Eks Presiden Korsel, Roh Tae-woo (The Korean Herald)
Dream - Mantan Presiden Korea Selatan, Roh Tae-woo, meninggal dunia di usia 88 tahun. Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul menyatakan Ruh menghembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan karena sakit, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait penyakitnya.
Roh dikenal publik sebagai sosok presiden penuh kontroversi. Dia memegang peran kunci dalam kudeta militer 1979 yang menjadikan rekan tentaranya dan pemimpin gerakan kudeta, Chun Doo-hwan menjadi presiden. Chun mengambil alih kekuasaan setelah diktator Korsel, Park Chung-hee, dibunuh di tahun itu.
Roh memimpin divisi tentaranya bergerak menuju Seoul dan bergabung dengan pemimpin militer lain dalam operasi merebut Ibu Kota. Kudeta dan kekerasan militer dikendalikan Chun terhadap demonstran pro demokrasi di Gwangju pada 1980 merupakan dua babak tergelap dalam catatan sejarah modern Korsel.
Data Pemerintah mencatat sekitar 200 orang tewas akibat kekerasan yang dilancarkan militer di Gwangju.
Roh dipilih Chun untuk menggantikannya sebagai presiden dalam pemilihan tidak langsung secara mudah. Tetapi, harapan itu gagal setelah massa pro-demokrasi memaksa Roh dan Chun menerima pemilihan presiden langsung pada 1987, yang kemudian jadi tonggak transisi Korsel menuju demokrasi.
Meski berlatar belakang militer, Roh mencitrakan diri sebagai sosok moderat. Selama kampanye, dia berulang kali menyebut diri sebagai orang biasa.
Kemenangan Roh di pemilihan umum Desember 1987 lebih banyak disebabkan pecahnya suara dari calon posisi antara Kim Young-sam dan Kim Dae-jung. Pendukung masing-masing menginginkan jagonya menjadi presiden.
Selama lima tahun masa jabatannya, Roh secara agresif menjalin hubungan dengan negara-negara komunis di bawah misi “ Diplomasi Utara”-nya ketika komunisme sedang runtuh di Eropa Timur.
Roh menjalin hubungan diplomatik dengan Hongaria pada tahun 1989, tahun runtuhnya Tembok Berlin, Uni Soviet pada tahun 1990 dan China pada tahun 1992.
Hubungan dengan Korea Utara meningkat di bawah Roh, dengan kedua belah pihak mengadakan pembicaraan perdana menteri pertama mereka pada 1990. Kedua negara bergabung dengan PBB secara bersamaan pada 1991.
Hubungan antara kedua negara telah mengalami kemunduran besar. Kondisi itu semakin parah setelah Pyongyang mengenjot program senjata nuklir yang dilihat sebagai sarana untuk bertahan hidup.
Dalam masalah rumah tangga, Roh dipandang oleh banyak orang kurang karisma dan kepemimpinan yang tegas. Julukannya, " Mul (Air) Tae-woo," menyiratkan pemerintahannya tidak memiliki warna dan rasa.
Dia juga membawa lebih banyak keterbukaan dengan menerima banyak cercaan politik, berbeda dengan pendahulunya yang otoriter, Park dan Chun. Dua sosok presiden sebelum Roh itu dikenal sering menggunakan undang-undang keamanan untuk menyerang lawan politik dan membatasi pidato dengan dalih menjaga dari gangguan sipil dan ancaman Korea Utara.
Setelah masa jabatan selesai, penggantinya Roh, Kim Young-sam menyelidiki kudeta dan tindakan keras yang dipimpin militer. Roh ditangkap, dihukum karena pemberontakan, pengkhianatan dan korupsi dan divonis penjara 22,5 tahun. Sementara Chun dijatuhi hukuman mati.
Mahkamah Agung mengurangi hukuman tersebut menjadi penjara seumur hidup untuk Chun dan 17 tahun untuk Roh. Keduanya masih diperintahkan untuk membayar kembali ratusan juta dolar yang mereka kumpulkan secara ilegal.
Setelah menghabiskan sekitar dua tahun di penjara, baik Roh dan Chun dibebaskan di akhir 1997 di bawah pengampunan khusus yang diminta oleh Presiden terpilih Kim Dae-jung. Kim mengupayakan rekonsiliasi nasional di tengah gejolak krisis keuangan Asia.
Kim adalah mantan pembangkang yang dijatuhi hukuman mati ketika Korsel diperintah Chun dan Roh. Kim sendiri dijerat dengan tuduhan palsu mendalangi pemberontakan sipil 1980.
Roh sebagian besar tidak terlihat oleh publik setelah dibebaskan dari penjara. Dia menahan diri dari kegiatan politik dan pidato, dikutip dari Aljazeera.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya