Jadi Viral, Begini Sejarah Gang Kondom di Jombang

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 15 Agustus 2019 09:00
Jadi Viral, Begini Sejarah Gang Kondom di Jombang
Unik bagi netizen, risih bagi warga setempat.

Dream - Gang Kondom. Mungkin Anda merasa aneh mendengar nama itu. Pasti banyak tanya di benak, tentang asal-usul maupun isi gang tersebut.

Nama gang di Dusun Sumberwinong, Banjardowo, Jombang, Jawa Timur, itu memang tengah viral. Gang itu kini didatangi banyak orang. Banyak di antara mereka berswafoto di bawah plang.

" Kata mereka nama gangnya unik," kata Tulus, warga setempat, dikutip Liputan6.com dari Jawapos.com, Rabu 14 Agustus 2019.

Nama Gang Kondom digunakan setelah pelaksanaan program Kampung Keluarga Berencana yang dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Jombang.

Nama itu memicu kontroversi di kalangan masyarakat. " Dulu nama Gang Kondom ini diresmikan Pak Camat. Tapi, sayangnya pakai nama kondom, orang yang tidak mengerti pasti menilai nama ini jorok," kata Parti, salah seorang warga.

1 dari 8 halaman

Sempat Diprotes

Sebelum polemik penamaan gang muncul, pegiat budaya Jombang, Dian Sukarno, telah mengajukan protes. Dia menolak penamaan Gang Kondom karena menganggapnya kurang tepat.

" Pilihan kata kondom bagi kami memiliki makna negatif jika digunakan sebagai nama sebuah tempat. Apalagi kalau yang bermukim ada anak di bawah umur," kata Dian.

Selain perkara etik, disematkannya kata kondom, kata Dian, juga kurang tepat menurut aspek budaya. Sebab, Desa Banjardowo masih berkaitan dengan kisah sejarah kerajaan Majapahit.

Dian mengusulkan penamaan gang itu diganti.

2 dari 8 halaman

Diusulkan Masyarakat Setempat?

Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Jombang, Nur Kamalia, menjelaskan, pemilihan nama ‘Gang Kondom’ dilakukan sendiri oleh masyarakat setempat.

Meski begitu, dia tak menampik munculnya polemik penamaan ini. Nur bahkan mempertimbangkan masukan dan merumuskan nama baru untuk gang itu.

" Dalam program Kampung KB, ada kegiatan yang namanya rembung warga. Dari kegiatan itu, masyarakat yang menentukan sendiri nama untuk jalan permukiman. Jadi pemberian nama itu bukan kami atau provinsi, tapi masyarakat sendiri," kata Nur.

3 dari 8 halaman

Jakarta Hari Ini Ultah, Ini Sejarah Nama Jalan di Ibukota

Dream - Jakarta merayakan hari jadinya ke-492 pada hari ini, Sabtu, 22 Juni 2019. Selama hampir setengah abad, kota yg pernah memiliki nama Batavia ini telah menjadi saksi bisu sejarah bangsa ini dan dunia.

Jakarta pernah jadi tempat tinggal bocah kecil bernama Barrack Obama. Pria yang kelak menjadi Presiden Amerika Serikat.

Di kota ini pula, bangsa Indonesia menyuarakan kemerdekaannya.

Dilansir Liputan6.com, berikut lokasi-lokasi ikonik yang sejarah di Jakarta,

1. Senayan

Salah satu lokasi terkenal di ibu kota yaitu Senayan. Di kawasan ini terdapat pusat politk dan olahraga.

Gelanggang Bung Karno (GBK) dibangun pada 1960-an atas bantuan pemerintah Uni Soviet era kepemimpinan Nikita Sergeiwitsj Kruschev. Tak jauh dari GBK terdapat gedung DPR, MPR, dan DPD.

Zaenuddin HM mengatakan, nama Senayan berasal dari keadaan wilayah masa lampau. Pada peta Topographische Bureau Batavia pada 1902, kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan atau Wangsanayan.

Kata Wangsanayan berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik seseorang yang bernama Wangsanayan.

 

4 dari 8 halaman

2. Menteng

Sejak zaman kolonial Belanda, Menteng merupaka salah satu kawasan elite di Jakarta. Tapi, sebelum menjadi lokasi pemukiman elite, kawasan ini dikenal sebagai hutan yang ditinggali binatang buas.

Pada 1912, Gubernur Jenderal Wilem Herman Daendels menjadikan Menteng sebagai perumahan untuk pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Menteng merupakan perumahan villa pertama di Batavia yang dikembangkan antara 1910 dan 1918. Perancangnya adalah tim arsitek yang dipimpin PAJ Mooijen, arsitek asal Belanda yang merupakan anggota tim pengembang yang dibentuk Pemerintah Kota Batavia.

Dalam perkembangannya, Menteng terbagi menjadi beberapa nama lainnya. Sehingga terdapat kampung kecil di dalamnya seperti Menteng Atas, Menteng Dalam, dan Menteng Pulo.

 

5 dari 8 halaman

3. Ragunan

Taman Margasatwa Ragunan menjadi salah satu kebun binatang yang terdapat DKI Jakarta. Tapi, dalam sejarahnya, kebun binatang Ragunan merupakan kebun binatang kedua yang didirakan di Jakarta.

Awalnya, DKI Jakarta punya kebun binatang yang berlokasi Cikini Raya, Menteng. Kebun binatang itu dibangun oleh pelukis Raden Saleh di atas tanah seluas 10 hektare miliknya.

Tapi, pada 1964, Pemprov DKI Jakarta memindahkan koleksi Kebun Binatang Cikini ke Ragunan. Pada 22 Desember 1966, Kebun Binatang Ragunan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan.

Lalu, darimana asal nama Ragunan? Nama Ragunan konon berasal dari nama Pangeran Wiraguna, yaitu gelar yang disandang tuan tanah pertama di kawasan itu, Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar atau yang dikenal dengan Sultan Haji.

Atas jasanya kepada Sultan Haji, Cardeel pun diangkat menjadi Pangeran Wiraguna dan berhak atas sejumlah hektare tanah.

 

 

6 dari 8 halaman

3. Kebayoran

Berbeda dengan kondisinya yang sekarang, Kemayoran tempo dulu adalah sawah-sawah. Seperti dilansir jakarta.go.id, nama daerah yang terletak di Jakarta Pusat ini berasal dari kata mayor, yang merupakan jabatan atau pangkat yang diberikan pemerintah Belanda kepada orang-orang yang dinilai berjasa kepada kompeni.

Saat itu, jabatan mayor tak hanya diberikan kepada orang Belanda, tapi juga diberikan kepada orang-orang China. Mereka diberi tugas untuk menarik pajak dari penduduk yang wajib dibayarkan dari tanggal 1 hingga 10 setiap bulannya. Pajak yang ditarik ada dua macam, yaitu pajak tempat tinggal dan pajak penggarap sawah hasil bumi.

Untuk pajak tempat tinggal tiap bulannya ditarik sebesar satu picis. Sementara untuk pajak penggarap sawah hasil bumi dibagi tiga dengan perincian petani penggarap mendapat 25 persen, tuan tanah 45 persen dan mandor 30 persen.

 

7 dari 8 halaman

4. Gondangdia

Thomas Karsten, seorang pakar tata lingkungan pada masanya menilai, Menteng memenuhi semua kebutuhan perumahan untuk kehidupan yang layak.

Proyek Menteng dinamakan Nieuw Gondangdia dan menempati lahan seluas 73 hektare. Pada 1890 kawasan ini dimiliki 3.562 pemilik tanah. Batas selatan kawasan ini Banjir Kanal Barat yang selesai dibangun 1919.

Rancangan Mooijen kemudian dimodifikasi FJ Kubatz dengan mengubah tata jalan dan penambahan taman-taman, hingga mencapai bentuk yang tetap antara 1920 dan 1930.

Menteng dibangun mengikuti tata cara Eropa. Namun, arsitekturnya dibuat mengikuti cita rasa lokal agar sesuai dengan iklim tropis.

Rumah-rumah dibangun dengan tiang-tiang yang tinggi, jendela yang besar, taman yang luas, dan sistem ventilasi yang baik, sehingga nyaman ditempati walau tanpa penyejuk ruangan.

Saluran air dan jalan-jalan dibangun, begitu juga sekolah dan bioskop. Sekolah yang dibangun adalah Sekolah Dasar Theresia yang dibuka pada 1927.

Bioskop Menteng dibangun dalam gaya Indo-Eropa pada 1950, tapi kini telah berubah menjadi Plaza Menteng. Selain itu, dibangun pula sarana ibadah seperti Gereja Paulus.

 

8 dari 8 halaman

5. Matraman

Nama Matraman terrekam jelas di lagu grup band The Uptstair. Nama wilayah di Jakarta Timur itu punya sejarah yang unik.

Berdasarkan penelusuran Liputan6.com dari berbagai literatur, ditemukan beberapa versi sejarah tentang asal-usul Kampung Matraman.

Kampung ini diperkirakan menjadi kawasan pertahanan pasukan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung ketika menyerang Kota Batavia melalui darat untuk kedua kalinya, yakni pada 1629. Rachmat Ruhiat dalam Asal Usul Nama Tempat di Jakarta menyebut tidak mustahil kalau di kawasan itu dibangun kubu-kubu pasukan Mataram, termasuk pasukan-pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung).

Menurut dia, ketika Mataram menyerang Batavia, Ukur serta Sumedang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram dan memang diberitakan ikut berpartisipasi.

Sementara itu,  Djoko Soekirman dalam buku berjudul Kebudayaan Indis menyatakan, di Jakarta Matraman merupakan tempat tinggal Tuan Matterman. Namun, ia tidak menyebaut keterangan lebih lanjut sumbernya.

Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar
Summer Style 2019