6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
�© MEN
Dream - Warga Bali akrab dengan tradisi ngaben, atau kreamasi jenazah. Tapi, prosesi sakral itu berubah jadi kehebohan lantaran jenazah di RSUD Mangusada Kapal, Bajar Babakan Kangin, Gulingan, Kabupaten Badung, Bali, tertukar.
Saat prosesi kremasi sudah disiapkan di krematorium, Ceomaria, Denpasar, identitas jenazah baru ketahuan. Warga melihat jasad yang hendak dikremasi bukan anggota keluarganya.
Mendapati temuan ini, pihak keluarga segera menghubungi rumah sakit yang akhirnya mengantar jenazah yang benar.
Tak disebut siapa nama jenazah yang salah antar tersebut.
Direktur RSUD Mangunsada Kapal, dr I Nyoman Gunarta, membenarkan peristiwa ini. " Ya betul, peristiwanya terjadi pagi tadi (Selasa, 27 Agustus 2019)" kata Nyoman, diakses Liputan6.com, Kamis, 29 Agustus 2019.
Salah antar jenazah itu berawal dari petugas kamar jenazah yang hanya melihat nama yang tertera di mesin pendingin jenazah. Petugas itu tak membuka dan memperlihatkan wajah jenazah ke pihak keluarga.
Pihak keluarga juga tak melihat jenazah yang dibawanya. Tak dinyana, jenazah tersebut tertukar karena kesamaan nama.
“ Kedua jenazah memang mirip namanya. Tidak perlu saya sebutkan namanya. Tetapi memang ada sedikit kekeliruan dari petugas kami, karena begitu jenazah dikeluarkan dari freezer penutupnya tidak dibuka untuk ditunjukkan kepada pihak keluarga. Keluarga juga tidak mengecek lagi,” kata Gunarta.
Begitu sampai krematorium dan penutup jenazah dibuka, baru diketahui jika jasad tersebut bukan kerabat mereka.
“ Begitu sampai krematorium baru diketahui jika itu bukan jenazah kerabat mereka,” ujar dia.
Gunarta meminta maaf kepada pihak keluarga atas peristiwa ini. Dia mengaku telah membicarakan persoalan ini secara baik-baik dengan pihak keluarga jenazah tertukar.
(Sah, Sumber: Liputan6.com/Dewi Divianta)
Dream - Keluarga Sakorn Sacheewa sangat terkejut ketika pria itu muncul di depan pintu rumahnya. Penyebabnya, mereka mengira Sakorn telah dikremasi tujuh bulan sebelumnya.
Pria 44 tahun dari provinsi Si Ka Ket, Thailand itu merantau selama dua tahun untuk bekerja di sebuah kapal nelayan. Selama itu, dia memang tidak pernah menghubungi keluarganya.
Saat pulang, dia benar-benar tidak menyangka diperlakukan sebagai sosok hantu. Reaksi keluarganya saat melihat Sakorn berjalan melewati pintu pada tanggal 17 Desember sungguh membuatnya tidak habis pikir.
Mereka bergantian menyentuh untuk memastikan bahwa dia benar-benar nyata. Sakorn baru sadar setelah diberitahu keluarganya bahwa dia dianggap telah meninggal.
Kisah unik ini dimulai pada bulan Mei 2017 lalu. Bulan itu, keluarga Sakorn telah dihubungi oleh polisi di Nang Loeng, tempatnya bekerja.
Mereka diberitahu ada seorang pria bernama Sakorn telah meninggal karena gangguan pencernaan. Polisi kemudian meminta mereka untuk mengidentifikasi dan mengambil jenazah pria itu di distrik Phra Nakhon.
Setelah menerima surat kematian, mereka mengambil jenazah tersebut dari Fakultas Kedokteran Universitas Vajira Universitas Navamindradhiraj. Jenazah itu dalam kondisi bengkak sehingga, keluarga sulit untuk mengenalinya.
Tetapi, salah satu sepupu Sakorn, Nakornchai Pimklang, 33 tahun, menyadari gigi jenazah tersebut tidak sesuai dengan milik Sakorn. Dua gigi depan Sakorn hilang.
Nakornchai mengatakan hal itu kepada seorang pejabat. Sayangnya, informasi tersebut diabaikan dan pejabat yang bersangkutan tetap menginstruksikan keluarganya untuk mengambil jenazah tersebut.
Keluarga Sakorn menurutinya dengan membawa jenazah itu pulang ke Si Ka Ket.Mereka kemudian mengadakan ritual keagamaan selama tiga hari, sebelum mengkremasinya.
Sementara itu, Sakorn sebenarnya masih hidup dan sehat. Dia bekerja di Nang Loeng, seperti yang telah dilakukannya selama dua tahun terakhir.
Beberapa minggu yang lalu, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Sakorn pun kembali ke rumah tanpa tahu apa yang sudah terjadi.
Setelah mendengar kisah kematiannya, Sakorn mengatakan seorang rekan kerjanya dari Myanmar mencuri kartu identitasnya dan menghilang. Dia sudah melaporkan hal itu ke petugas berwenang dan sudah mendapat kartu pengganti dari pemerintah setempat.
Sakorn tidak pernah membayangkan kartu identitasnya dimanfaatkan orang lain.
Yang menjadi perhatian utama Sakorn sekarang adalah statusnya di Biro Administrasi Pendaftaran. Ini karena biro tersebut menyatakan secara resmi menyatakan Sakorn meninggal 7 bulan yang lalu.
Hanya ada satu masalah yang harus dipecahkan polisi sekarang - untuk mengetahui siapa pria yang dikremasi di tempat Sakorn itu. Mereka berharap bisa mengetahuinya dengan menganalisis sisa-sisa tulang dari upacara kremasi.
Sumber: www.odditycentral.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
