2.000 Rumah Terdampak Semeru Direlokasi

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 7 Desember 2021 18:01
2.000 Rumah Terdampak Semeru Direlokasi
Lokasi dan pelaksanaan rekolasi segera diputuskan.

Dream - Presiden Joko Widodo hari ini meninjau lokasi bencana awan panas guguran Gunung Semeru. Jokowi mendapat laporan terdapat sejumlah rumah terdampak dan berbahaya dihuni kembali.

Menanggapi data tersebut, Jokowi menyatakan dilakukan relokasi sesegera mungkin. Sementara lokasi relokasi akan ditentukan secepatnya.

" Saya dapat laporan kurang lebih 2.000-an rumah yang harus direlokasi, ini segera akan kita putuskan di mana relokasinya dan saat itu juga akan segera kita bangun," ujar Jokowi, disiarkan kanal Sekretariat Presiden.

Jokowi memastikan seluruh kekuatan Pemerintah telah dikerahkan, baik untuk pencarian maupun evakuasi korban. Selain itu, sejumlah infrastruktur rusak akibat bencana masuk dalam skala prioritas penanganan.

" Di lokasi pengungsi, saya juga ingin memastikan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pengungsi bisa tertangani dengan baik, yang berkaitan dengan konsumsi, kesehatan, air bersih, saya kira kondisinya mulai membaik," kata Jokowi.

 

1 dari 7 halaman

Dana Tunggu Hunian dari BNPB

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan para korban terdampak bencana Semeru yang rumahnya rusak berat akan mendapat bantuan Dana Tunggu Hunian dari BNPB. Dana tersebut dapat dimanfaatkan para korban untuk mencari hunian layak sementara dengan cara menyewa kepada keluarga maupun kerabat.

" Kepala BNPB sudah menyatakan bahwa BNPB akan memberikan Dana Tunggu Hunian hingga enam bulan ke depan," kata Muhari.

Muhari menjelaskan dana tersebut dapat dipakai masyarakat untuk tempat tinggal sembari menunggu relokasi. BNPB akan membangunkan rumah bagi para korban terdampak di lokasi yang sudah ditentukan.

2 dari 7 halaman

PVMBG Tegaskan Gunung Semeru Tak Alami Erupsi tapi Awan Panas Guguran, Cek Bedanya

Dream - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andiani, menyatakan bencana yang terjadi pada Gunung Semere pada Sabtu, 4 Desember 2021 bukan erupsi. Fenomena yang tak terduga itu disebut Awan Panas Guguran (APG).

" Awan panas guguran," ujar Andiani.

Pernyataan yang sama disampaikan Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Dino Andalananto.

" Kebetulan ini kemarin kan awan panas guguran yang sifatnya rapid-onset, jadi tiba-tiba," kata dia.

Dino menjelaskan erupsi adalah peristiwa ketika magma didorong keluar dari perut bumi oleh gas bertekanan tinggi. Sedangkan awan panas guguran terjadi ketika supensi material berupa batu, kerikil, abu, pasir dalam masa gas vulkanik keluar dari gunung berapi.

 

3 dari 7 halaman

Ada Kaitan dengan Hujan

Secara teknis, kata dia, awan panas guguran berkaitan dengan intensitas hujan. Ketika hujan yang turun tergolong lebat, itu memicu reaksi pada material di permukaan gunung.

" Bahan-bahan material yang ada di gunung itu kan ada belerang, sebagainya, apabila terkena air akan bereaksi," kata dia.

Kondisi tersebut memicu kemunculan banjir lahar dengan kondisi masih panas. Sehingga, udara di sekitar lokasi luncuran terasa panas.

Pakar Vulkanologi, Surono, punya istilah lain untuk kasus Semeru. Dia menyebut dengan istilah guguran kubah lava yang memicu awan panas.

" Kalau saya sebut guguran kubah lava," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.

4 dari 7 halaman

Saksi Mata Gulungan 'Wedhus Gembel' Semeru: Bingung, 4 Anak Saya Masih di Rumah

Dream - Sabtu sore, 4 Desember 2021, Lasimin tidak berada di rumahnya di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dia harus pergi sebentar lantaran ada kegiatan di tempat lain.

Empat anaknya ada di rumah. Tak pernah dia sangka, bakal ada bencana di hari itu.

Saat di tempat kegiatan, dia terima kabar Semeru sedang meletus. Kepanikan langsung melanda lantaran empat anaknya masih di dalam rumah.

" Saya bingung karena keluarga di rumah," ujar Lasimin.

 

5 dari 7 halaman

Terpaan Wedhus Gembel Sebabkan Kepanikan

Si 'Wedhus Gembel', kepulan asap vulkanik turun dengan kecepatan tinggi dari puncak Semeru. Menerjang sebagian besar kawasan yang dilewatinya.

Termasuk pula Kampung Renteng yang jadi lokasi rumah Lasimin. Seketika, semua menjadi gelap gulita bak tengah malam, padahal masih sore hari.

Dalam kondisi tersebut, Lasimin berusaha mencari kabar keluarganya. Dia sempat khawatir lantaran dalam beberapa jam tak tahu bagaimana nasib anak-anaknya.

" Alhamdulillah, akhirnya saya dapat kabar kalau mereka baik-baik saja," kata dia.

 

6 dari 7 halaman

Selamat

Anak-anak Lasimin berhasil mengungsi. Sayangnya, mereka tidak berada di lokasi pengungsian yang sama.

" Tidak apa-apa, yang penting semuanya selamat," kata dia.

Hari kedua pasca-erupsi, Lasimin dan keluarga belum bisa kembali ke rumah. Akses menuju kampungnya tertutup abu vulkanik sehingga belum memungkinkan evakuasi harta benda.

" Rumah saya tidak tertimbun, tapi tidak bisa ke sana karena banyak material," kata dia.

 

7 dari 7 halaman

Lokasi Paling Terdampak

Kampung Renteng jadi lokasi paling terdampak erupsi Semeru. Ini mengingat posisinya yang relatif dekat dengan sumber erupsi.

Beberapa warga Kampung Renteng dinyatakan hilang. Hewan ternak terkapar dan mati, sementara puluhan rumah tertimbun material vulkanik.

Sejumlah warga berusaha menyelamatkan diri ketika Wedhus Gembel turun. Mereka langsung menuju titik-titik aman, dikutip dari Merdeka.com.

Beri Komentar