Kapolres Jakbar: 165 Orang Diamankan, Banyak dari Luar Jakarta

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 22 Mei 2019 20:57
Kapolres Jakbar: 165 Orang Diamankan, Banyak dari Luar Jakarta
Massa diduga menerima sejumlah uang.

Dream - Kapolres Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi mengatakan, sebanyak 165 orang massa diamankan di Jakarta Barat. Dia menyebut, mayoritas orang yang diamankan berasal dari luar Jakarta.

" Sebagian besar itu orang di luar Jakarta dari Palembang, dari Jambi, dari Banten," kata Hengki, di Flyover Slipi, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019.

Hengki menyebut, polisi juga menemukan senjata tajam dan busur panah dari peserta aksi. Selain itu, polisi juga menemukan uang sebesar Rp5 juta yang dibagi dalam beberapa amplop.

" Artinya mereka ini dibayar untuk melakukan aksinya ini," ucap dia.

Hengki menyebut, berdasarkan temuan itu, polisi menduga massa aksi telah mempersiapkan diri untuk membuat kerusuhan.

" Bukan murni untuk menyampaikan aspirasi," ujar dia.

Hengki akan menyampaikan penyelidikan keseluruhan mengenai motivasi dan dugaan adanya donatur yang menggerakkan massa.

" Pasti nanti sampai kesana, siapa yg menyuruh melakukan. Siapa mastermindnya di balik ini semua, kita akan selidiki," ujar dia.

1 dari 6 halaman

Polisi Tetapkan 257 Tersangka Kerusuhan 22 Mei

Dream - Polda Metro Jaya menetapkan 257 pelaku kerusuhan sebagai tersangka dalam aksi 21-22 Mei 2019.

" Kita lakukan penangkapan terhadap sekelompok massa yang melakukan kerusuhan dari 3 lokasi, total ada 257 tersangka," kata Kapala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa 22 Mei 2019.

Sebanyak 257 tersangka itu dibekuk dari tiga lokasi berbeda yakni di sekitar gedung Bawaslu sebanyak 72 tersangka, dari kawasan Petamburan sebanyak 156 tersangka, dan lokasi di Gambir sebanyak 29 tersangka.

" Mereka--berasal dari luar Jakarta--ada yang melakukan pembakaran asrama dan melawan petugas," imbuh Argo.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya adalah mercon, petasan, bom molotov dan celurit.

Selain itu, petugas juga mengamankan uang di dalam amplop yang sudah tertulis nama-nama penerima uang sebesar Rp200 ribu sampai 500 ribu. Ada juga amplop berisi uang Rp5 juta untuk operasional. 

2 dari 6 halaman

Ini Grand Design Dalang Kerusuhan 22 Mei

Dream - Polri menduga aksi-aksi kerusuhan setelah demo damai di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merupakan rancangan pihak tertentu. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya senjata api ilegal beserta amunisinya ke Tanah Air.

" Ini senjata panjang jenis M4 yang dilengkapi peredam. Jadi kalau ditembakkan suaranya tidak kedengaran. Juga dilengkapi tanpa pisir (alat pembidik). Ini artinya bisa dipakai untuk teleskop untuk sniper," terang Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam keterangan pers bersama di Kantor Kemenko Polhukam, JakartaPusat, Rabu 22 Mei 2019.

Tito menyebut polisi tak cuma menemukan senjata api jenis M4 tapi juga senjata revolver Taurus, pistol Glock 22, dan 2 dus peluru yang berisi sekitar 60 butir.

Sebanyak tiga orang ditangkap atas kepemilikan senjata-senjata api berikut amunisinya. Salah satu yang dibekuk yakni mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) TNI Soenarko.

Lalu, apa rencana para pelaku kerusuhan dengan kepemilikan senjata api yang begitu berbahaya itu? Tito menyebut ada design besar untuk menyudutkan aparat Polri dan TNI sehingga menjadi tertuduh pelaku penembakan.

" Kami mendapat info akan ada rencana aksi 22 Mei. Akan ada aksi penembakan termasuk penembakan terhadap massa supaya nanti diciptakan martir. Seolah-olah yang melakukan penembakan adalah dari aparat. Sehingga, timbul kemarahan publik menjadi martir untuk pembenar langkah-langkah berikutnya," jelas Tito.

Tito menekankan, massa yang melakukan aksi damai di Bawaslu kemarin siang berbeda dengan massa yang melakukan kerusuhan malam harinya. Massa yang aksi damai di Bawaslu sudah membubarkan diri saat Maghrib tiba.

" Tapi sekitar pukul 23.00, ada massa sekitar 300-400 orang mendatangi Bawaslu dari arah Tanah Abang dan langsung melempari anggota yang ada di sana dengan alat-alat yang membahayakan. Seperti batu besar, sampai ke conblock, bom molotov dan juga petasan," jelas Tito yang didampingi Menko Polhukam Wiranto dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. (ism)

3 dari 6 halaman

Wiranto: Kami Tahu Dalang Kerusuhan 22 Mei

Dream - Wiranto mengaku telah mengetahui dalang kerusuhan Jakarta pada 22 Mei 2019. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, itu memastikan intelijen sudah mengetahui perkembangan situasi sebelum dan sesudah Pemilu 2019.

" Kalau saudara-saudara jeli, mengamati berbagai kasus yangg terjadi, ada keterkaitan kasus satu dengan yang lain," kata Wiranto di kantornya, Jakarta.

Berdasarkan pengamatan tersebut, Wiranto mengklaim telah mengetaui dalang kerusuhan tersebut. Namun hingga saat ini pemerintah masih melakukan kajian yang lebih mendalam.

" Jangan dikira kita belum tahu, tapi ada hal-hal menyangkut hukum, ada prosedur-prosedur yang harus kita taati," tambah dia.

4 dari 6 halaman

Martir untuk Raih Simpati

Aparat keamanan, sambung Wiranto, telah siap dan melakukan langkah-langkah hukum. Aparat juga akan bertindak tegas, " dengan bertumpu pada hukum."

Menurut Wiranto, skenario kerusuhan tersebut terlihat jelas. Kerusuhan itu bertujuan menimbulkan korban yang kemudian dijadikan untuk menarik simpati publik.

" Setelah ada korban, kan ada tokoh komporin masyarakat, seolah itu kesalahan pemerintah," tutur Wiranto.

5 dari 6 halaman

Perusuh 22 Mei Dibayar Rp6 Juta

Dream - Polisi menyita amplop dari sejumlah orang yang ditangkap saat terjadi kerusuhan di beberapa wilayah Jakarta, Rabu dinihari, 22 Mei 2019. Amplop-amplop itu berisi uang.

" Yang diamankan ini kita lihat termasuk di depan Bawaslu juga ditemukan di mereka amplop uang yang berisi uang total kurang lebih Rp6 juta terpisah amplop-amplopnya," kata Kapolri, Jenderal Polisi Toto Karnavian, di Jakarta.

Menurut Tito, orang-orang yang ditangkap dalam kerusuhan itu mengaku dibayar. Namun, Tito tidak menyebut pihak yang membayar para perusuh tersebut.

" Mereka mengaku ada yang membayar dan kemudian kita lihat sebagian dari pelaku yang melakukan aksi anarkis ini memiliki tato. Nanti bisa dilihat sendiri," tambah dia.

6 dari 6 halaman

Datang, Langsung Serang

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Tito menyebutkan bahwa kelompok perusuh ini berbeda dengan massa pendemo yang menggelar aksi di depan kantor Baawaslu pada Selasa siang. Kelompok perusuh ini datang setelah massa pendemo di Bawaslu bubar.

Dia menambahkan, sekitar pukul 22.30 WIB atau 23.00 WIB sekelompok pemuda, dengan jumlah sekitar 300 orang, mendatangi Bawaslu dari arah Tanah Abang.

Para pemuda itu langsung melempari aggota polisi yang berjaga di Bawaslu dengan alat-alat membahayakan. " Ada batu besar, conblock, kemudian bom molotov dan petasan," tutur Tito.

Beri Komentar
Suasana Cair Roger Danuarta dan Ayah Cut Meyriska di Meja Makan