Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
Banjir Sumatera
DREAM.CO.ID - Indonesia menjadi salah satu wilayah di Asia yang dilanda hujan deras dan badai. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi wilayah yang paling parah terdampak.
Jumlah korban tewas akibat banjir meningkat menjadi 631 orang pada Selasa, 2 Desember 2025. Hampir 500 orang masih hilang, sementara ribuan lainnya terluka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sekitar satu juta orang telah dievakuasi.
Foto-foto setelah banjir juga menunjukkan jembatan hanyut, jalanan tertutup lumpur dan puing, serta tumpukan kayu gelondongan di mana-mana. Di sisi lain, banyak warga masih menunggu bantuan makanan.
Arini Amalia, seorang warga Kabupaten Pidie Jaya di Aceh, mengatakan bahwa banjir tersebut “ seperti tsunami”.
“ Menurut nenek saya, ini yang paling parah, yang paling parah dalam hidupnya,” kata Amalia dari wawancaranya dengan BBC, dikutip Rabu, 3 Desember 2025.

Petugas bantuan berusaha mencapai warga dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor, karena banyak jalan tidak dapat dilalui kendaraan besar.
Di landmark Jembatan Kembar di Sumatera Barat, tempat banjir menyapu dan meninggalkan endapan lumpur serta puing dalam jumlah besar.
Seorang wanita bernama Mariana menyaksikan alat berat membersihkan jalan sambil berharap mereka menemukan anggota keluarganya yang hilang, termasuk putranya yang berusia 15 tahun.
“ Melihat eskavator itu, melihat betapa tebal lumpurnya… saya terus berpikir, dalam kondisi seperti apa anak saya saat mereka menemukannya?” katanya.
“ Apakah tubuhnya masih utuh? Ibu saya, ipar saya… Melihat kondisi di sini, mungkin wajah mereka bahkan tidak bisa dikenali lagi," lanjutnya.

Maysanti, yang tinggal di Tapanuli Tengah, salah satu daerah paling terdampak di Sumatera Utara, mengatakan bahwa petugas bantuan kesulitan mencapai distrik tempat tinggalnya.
“ Semuanya hilang; persediaan makanan kami habis. Kami tidak bisa makan,” katanya.
“ Mi instan saja diperebutkan sekarang. Makanan kami habis; kami butuh makanan dan beras. Akses ke tempat kami benar-benar terputus.”
Ia mengatakan ia harus berjalan beberapa kilometer dari rumahnya hanya untuk mendapatkan sinyal internet dan kebutuhan dasar seperti air bersih.

Di Aceh Tengah, tempat pihak berwenang menyediakan perangkat Starlink, ribuan orang terlihat mengantre di depan kantor kabupaten pada Minggu, 30 November 2025, malam untuk menghubungi keluarga atau mengisi daya ponsel.
“ Sudah lima hari tanpa sinyal. Kami menunggu sejak kemarin kalau-kalau jaringan kembali. Saya berencana menghubungi ibu saya di Banda Aceh, tapi sampai sekarang masih belum bisa,” kata seorang warga bernama Mar.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya