Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Pexels.com/Towfiqu Barbhuiya
DREAM.CO.ID - Suara “ krek”, “ pop”, atau bunyi seperti gesekan dari lutut bisa terdengar ketika seseorang jongkok, berdiri, berjalan, atau sekadar menekuk dan meluruskan kaki. Kondisi ini cukup umum dan tidak selalu berarti ada kerusakan pada sendi. Namun, jika bunyi tersebut disertai nyeri, pembengkakan, atau lutut terasa tidak stabil, penyebabnya perlu diperhatikan.
Bunyi pada lutut sering muncul di area sendi patellofemoral, yaitu bagian tempat tempurung lutut atau patella bergerak di dalam alur pada ujung tulang paha atau femur. Jika suara berderak, berbunyi, atau terasa seperti gesekan berasal dari area ini, kondisi tersebut disebut patellofemoral crepitus.
Dilansir dari Verywell Health, ada setidaknya empat penyebab umum lutut sering berbunyi, mulai dari gerakan sendi yang normal hingga kondisi yang membutuhkan penanganan.
1. Gerakan Sendi yang Normal
Saat lutut ditekuk dan diluruskan, tempurung lutut bergerak di dalam alur pada ujung tulang paha. Perubahan tekanan pada cairan sendi dapat menghasilkan suara “ pop” atau “ krek”, terutama ketika lutut kembali digerakkan setelah berada dalam posisi yang sama cukup lama.
Bunyi seperti ini disebut crepitus dan dapat ditemukan pada banyak sendi, terutama lutut. Tinjauan sistematis pada 2025 yang melibatkan lebih dari 36.000 peserta menemukan bahwa knee crepitus terjadi pada sekitar 41 persen populasi umum.
Jika bunyi tersebut tidak disertai nyeri, bengkak, rasa tidak stabil, atau gangguan fungsi, kondisi ini umumnya dianggap sebagai temuan normal dan tidak perlu dikhawatirkan.
Penyebab berikutnya adalah patellofemoral pain syndrome, yaitu kondisi yang berkembang akibat tekanan berulang sehingga menimbulkan nyeri di bagian depan lutut, terutama di sekitar tempurung lutut. Kondisi ini juga sering disebut “ runner’s knee” atau “ jumper’s knee”.
Iritasi pada tempurung lutut dapat membuat gerakannya tidak lagi berlangsung dengan mulus sehingga muncul bunyi berderak atau seperti gesekan ketika lutut digerakkan.
Mengurangi sementara aktivitas yang memperburuk keluhan dan melakukan latihan penguatan otot dapat membantu mengurangi iritasi sekaligus membuat pergerakan tempurung lutut lebih baik. Fisioterapi juga dapat menjadi bagian dari penanganan kondisi ini.
Osteoartritis terjadi ketika tulang rawan yang melapisi sendi mengalami kerusakan seiring waktu. Lutut termasuk salah satu sendi yang sering terkena kondisi ini, termasuk bagian sendi antara tulang paha dan tulang kering serta sendi patellofemoral.
Ketika osteoartritis terjadi di belakang tempurung lutut, tulang rawan dapat menipis sehingga tempurung lutut lebih sulit bergerak dengan mulus. Akibatnya, seseorang dapat merasakan bunyi retak atau sensasi bergesekan di belakang tempurung lutut ketika kaki ditekuk dan diluruskan.
Aktivitas fisik secara teratur, latihan rentang gerak, serta latihan penguatan dapat membantu mempertahankan mobilitas lutut dan mengurangi kekakuan akibat osteoartritis.
Hipermobilitas dan hiperlaksitas mengacu pada kondisi ketika sendi terlalu longgar. Kondisi ini dapat terjadi karena berkurangnya ketegangan ligamen yang berfungsi membantu menstabilkan sendi. Penyebabnya bisa bersifat genetik dan sudah ada sejak lahir, atau berkembang setelah cedera maupun tekanan berulang pada ligamen.
Jika tempurung lutut terlalu longgar, gerakannya di dalam alur tulang paha dapat menjadi tidak teratur sehingga menimbulkan bunyi “ pop” atau “ krek”. Pada kondisi yang lebih berat, tempurung lutut bahkan dapat mengalami subluksasi atau keluar sebagian dari alurnya.
Fisioterapis dapat membantu melalui latihan untuk meningkatkan stabilitas tempurung lutut. Penyangga lutut juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menstabilkan sendi. Jika ketidakstabilan cukup berat, tindakan operasi korektif mungkin dipertimbangkan.
Bunyi lutut tanpa nyeri, pembengkakan, ketidakstabilan, atau kehilangan fungsi biasanya bukan masalah. Namun, pemeriksaan medis diperlukan jika bunyi tersebut disertai nyeri atau tempurung lutut terasa sangat tidak stabil.
Periksakan lutut jika muncul pembengkakan, kemerahan atau rasa hangat, tidak mampu menahan beban tubuh, nyeri berat, kesulitan menekuk atau meluruskan lutut, serta sensasi lutut terkunci atau seperti tersangkut saat digerakkan.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya