Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri Riset, Teknologi Dan Pendidikan TInggi Muhammad Nasir (Dream.co.id/Maulana Kautsar)
Dream - Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir menilai penting membangun sinergi antara agama dan pendidikan tinggi. Baginya, nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama akan menumbuhkan etika.
" Orang yang terdidik merupakan orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang baik. Dan orang yang berpendidikan harus memiliki etika. Etika dan agama memiliki kesamaan nilai," ujar Nasir di seminar nasional Pendidikan Agama di Wilayah Perbatasan Negara di Auditorium Kementerian Agama, MH Thamrin, Jakarta, Kamis, 5 November 2015.
Dia mencontohkan pentingnya sinergi antara agama, etika, dan pendidikan itu dengan mengetengahkan kasus kloning sebagai contoh. Dalam riset penggandaan makhluk hidup itu, secara ilmu boleh saja dianggap menjadi terobosan. Tetapi, dalam agama, mengkloning manusia contohnya, bisa dianggap melanggar etika.
" Teori bisa dilakukan tapi etika harus juga baik. Kalau berilmu tanpa menggunakan etika, nanti bisa ateis," jelasnya.
Untuk itu, dia terus mendorong kerjasama yang dilakukan antara lembaganya dengan Kementerian Agama (Kemenag). Bahkan secara khusus dirinya akan membantu kekurangan tenaga pendidik di wilayah perbatasan, seperti yang dikeluhkan Kemenag.
" Perguruan tinggi di daerah perbatasan bagi saya harus berusaha menjadi lebih baik. Sebab, selama ini pendidikan di wilayah perbatasan ini tidak pernah diperhatikan. Makanya saya terus melakukan afirmasi, jika dosennya kurang maka akan saya bantu tambahkan," jelasnya.
Tak hanya pendidik perguruan tinggi, Nasir bahkan menyiapkan 3.000 guru yang akan diterjunkan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
" Kami telah mendidik 3.000 pengajar yang akan disebar di wilayah-wilayah perbatasan. Mereka akan diberangkatkan pada 2016. Selain itu, dalam lima tahun kami menargetkan bisa merampungkan bisa merampungkan infrastruktur di daerah 3T tadi," pungkas dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya