Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mohammad Shukri Minhat Menikmati Hidupnya Menjadi Marbot (Foto: Harian Malaysia)
Dream - Pemuda bernama Mohammad Shukri Minhat, 21 tahun, berprofesi sebagai marbot di Masjid Al Mujib, Melaka, Malaysia. Dia rela menjadi marbot degan niat beribadah.
Profesi itu dia jalani sejak dua tahun lalu. Meski gaji bulanannya 300 ringgit, setara Rp954 ribu per bulan, dia tak mengeluh. Dengan gaji yang tak cukup menopang biaya hidupnya, dia tetap menjalankan tugasnya membersihkan dengan tulus.
Dilaporkan Harian Malaysia, Minhat merasa bekerja di masjid membuat hatinya lebih tenang. Bahkan sholat lima waktu lebih terjaga.
Minhat sebelumnya pernah bekerja di Kuala Lumpur selama beberapa bulan dengan gaji yang lumayan tinggi setelah mengikuti ujian Sijil Pelajaran Malaysia (SPM).
Sebagai marbot termuda di Malaysia, Minhat bekerja membersihkan masjid mulai dari tengah hari hingga lewat tengah malam.
Anak bungsu dari enam bersaudara itu tinggal di Kampung Durian Daun, Masjid Tanah, Alor Gajah.
© Dream
Minhat mengatakan setelah pulang kampung dari Kuala Lumpur, dia sering membantu membersihkan masjid tanpa mengharapkan upah. Akhirnya, dia ditawari jadi marbot oleh pengurus masjid.
" Pagi hari saya bekerja sebagai penjaga toko. Jam 12 siang saya pergi ke masjid untuk sholat Zuhur dan memulai tugas saya," katanya.
" Pekerjaan ini tidak populer tapi saya berterima kasih kepada pengurus masjid yang memberi kepercayaan kepada saya."
Minhat tidak merasa malu menjadi marbot. Malah dia berharap tetap jadi marbot hingga akhir hayatnya.
© Dream
" Lebih tenang duduk di masjid walaupun gaji kecil. Inilah cara saya mendekatkan diri dengan Allah SWT dan menjaga tiang agama," ujar Minhat.
Sebelum bekerja sebagai marbot, Minhat mengaku kerap meninggalkan sholat.
" Tidak ada hiburan tidak apa-apa, karena saya suka dengan pekerjaan saya sekarang. Lebih baik duduk di masjid daripada melakukan kegiatan yang tidak berguna," kata Minhat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya