MUI Gelar Konferensi Umat Islam Indonesia, Apa yang Dibahas?

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Kamis, 9 Januari 2020 19:00
MUI Gelar Konferensi Umat Islam Indonesia, Apa yang Dibahas?
Salah satu kondisi yang menjadi fokus pembicaraan yaitu masalah ekonomi.

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Konferensi Umat Islam Indonesia (KUII) di Bangka Belitung pada 26 hingga 29 Februari 2020. Konferensi tersebut bertema Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia dalam Mewujudkan NKRI yang Maju, Adil, dan Beradab.

Wasekjen MUI, Zaitun Rasmin mengatakan, panitia saat ini terus melakukan berbagai Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun materi dalam konferensi.

" Nanti akan dibahas mengenai politik, ekonomi, pendidikan," ujar Zaitun di kantor MUI, Jakarta, Kamis 9 Januari 2020.

Zaitun mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap politik kini semakin tumbuh. Terlebih, dalam pelaksanaan Pemilu 2019 lalu masyarakat sangat antusias dalam mengikuti dinamika politik.

Sementara, kata Zaitun, di bidang ekonomi kondisinya masih kurang. Gambaran itu ditunjukkan dari adanya kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Maka dari itu, dalam Konferensi Umat Islam Indonesia ini akan dibahas mengenai strategi agar ekonomi masyarakat dapat berkembang. " Kalau umat Islam maju, bangsa Indonesia juga maju," ucap dia.

Dalam Konferensi Umat Islam Indonesia ini rencananya akan mengundang MUI di seluruh Indonesia, ormas Islam, Perguruan Tinggi Islam, cendekiawan Muslim, lembaga pesantren. Rencananya akan ada 700 peserta yang akan mengikuti konferensi itu.

1 dari 4 halaman

Viral Surat Edaran Bupati Demak Larang Bertamu Maghrib-Isya, Ini Sikap MUI

Dream - Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, memberikan tanggapan mengenai larangan bertamu saat Maghrib hingga Isya. Diketahui, larangan tersebut diterapkan oleh Bupati Demak, Jawa Tengah.

Anwar menilai larangan tersebut sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang diterapkan para orangtua kepada anak-anaknya sejak dulu. Hanya saja, larangan tersebut belum dibuat resmi dalam peraturan tertulis.

" Pada waktu tersebut anak-anak disuruh mandi, begitu juga anggota keluarga lain. Kemudian bersiap untuk Sholat Maghrib berjemaah di masjid, mushola atau di rumah" ujar Anwar dalam keterangan tertulisnya, Kamis 9 Januari 2020.

Anwar memberikan dukungan terhadap peraturan tersebut. Dia berpendapat kebijakan tersebut menjadi salah satu bagian untuk mengajak masyarakat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

" Jadi saya melihat itu adalah bagian dari usaha Bupati untuk mengkondisikan rakyatnya agar ingat kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya," ucap dia.

2 dari 4 halaman

Bagian dari Ijtihad

Anwar juga menilai peraturan tersebut merupakan buah dari ijtihad Bupati Demak. Harapannya, warga tidak hanya mengejar urusan duniawi saja melainkan mampu menyeimbangkan dengan kewajiban beribadah kepada Allah SWT.

" Jadi Ini merupakan usaha dari Sang Bupati untuk membuat rakyatnya tidak hanya sejahtera secara material, tapi juga secara spiritual karena sebagai insan Pancasila," kata dia.

MUI menghormati keputusan Bupati Demak. Anwar menilai peraturan itu bertujuan positif.

" Kalau itu menjadi budaya menurut saya adalah sebuah budaya yang baik dan sangat patut kita tiru dan hormati," ujar dia.

Larangan bertamu jelang Maghrib hingga Isya itu tertuang dalam Surat Edaran Bupati Demak Nomor 450/1 Tahun 2020 dengan tanggal 2 Januari 2020. Aturan tersebut diterbitkan guna mendukung program " Maghrib Matikan TV, Ayo Mengaji" .

3 dari 4 halaman

Atasi Banjir, MUI Imbau Pemerintah Pusat dan 3 Provinsi Duduk Bareng

Dream - Banjir melanda kawasan Jabodetabek membuat masyarakat kelimpungan. Bencana ini membuat Jakarta lumpuh.

Terkait bencana banjir, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, meminta Pemerintah Pusat dan daerah duduk bersama mengatasi banjir. Sehingga, masyarakat tidak dirugikan.

" MUI mengimbau kepada pihak yang terkait terutama Pemerintah Jabar, Banten dan DKI Jakarta serta Pemerintah Pusat untuk bisa duduk bersama mencari solusi yang lebih baik," ujar Anwar dalam keterangan tertulisnya, Jumat 3 Januari 2020.

Dengan duduk bersama, MUI berharap ada solusi yang bisa diterapkan. Sehingga, banjir bisa diatasi meski intensitas hujan turun cukup tinggi di masing-masing wilayah.

Selain itu, MUI juga meminta masyarakat untuk tidak menyalahkan siapapun dalam musibah ini. Masyarakat pun diharapkan sadar dalam menjaga lingkungan.

" Masalah ini sangat komplek, membutuhkan pendekatan yang holistik dan kerjasama dari banyak pihak," ucap dia.

Anwar juga menyarankan masyarakat menjadikan musibah ini sebagai sarana instrospeksi diri. Menurutnya, bersabar dan menerima dengan lapang dada menjadi cara yang paling baik menghadapi musibah.

" Mudah-mudahan dengan demikian Allah SWT akan mengganti semua kerugian dengan yang lebih baik lagi," kata dia.

4 dari 4 halaman

Jakarta Banjir, Menag: Enggak Boleh Salahkan Siapapun

Dream - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, prihatin dengan terjadinya bencana banjir yang melanda Jakarta dan kota-kota lainnya. Dia meminta masyarakat tidak menyalahkan siapapun.

" Kita dalam situasi ini enggak boleh menyalahkan siapa-siapa," ujar Fachrul di Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta, Jumat 3 Januari 2019.

Banjir yang melanda Jakarta pada Rabu, 1 Januari 2020, membuat masyarakat kelimpungan. Bahkan, wilayah yang mulanya tidak pernah merasakan banjir kini turut terendam air.

Lini masa media sosial dipenuhi unggahan yang menyalahkan kinerja Pemerintah Pusat dan Provinsi DKI Jakarta.

" Beliau (Presiden Joko Widodo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan) enggak nyalahkan siapa-siapa, yang nyalah-nyalahkan orang enggak ngerti saja," kata dia.

Fachrul mengatakan Presiden Jokowi juga telah mengeluarkan imbauan untuk senantiasa menjaga keselamatan masyarakat.

" Mereka jangan sampai nggak dapat makan, enggak dapat obat. Beliau mengatakan sama-sama dengan pemerintah pusat maupun daerah ke depan membangun beberapa bendungan," ujar dia.

Beri Komentar