MUI: Jika Covid-19 Melandai, Wajib Rapatkan Saf Sholat

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 25 Oktober 2021 16:00
MUI: Jika Covid-19 Melandai, Wajib Rapatkan Saf Sholat
Penentuan kebijakan ini tetap harus memperhatikan pertimbangan ahli.

Dream - Pandemi membuat manusia harus beradaptasi di semua lini kehidupan, termasuk dalam menjalankan ibadah. Misalnya, saf sholat yang diberi jarak untuk mencegah penularan Covid-19.

Meski demikian, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menyebut saf sholat harus kembali dirapatkan bila di suatu wilayah kasus positif Covid-19 sudah melandai atau bahkan tidak ada sama sekali.

" Seandainya menurut para ahli di daerah tersebut memang Covidnya sudah melandai dan bahkan sudah tidak ada, ya wajiblah kita untuk merapatkan saf," ujar Anwar dalam webinar yang disiarkan TVMUI.

Namun demikian, ketentuan ini harus dijalankan dengan mengikuti petunjuk para ahli dan pemerintah. Jika belum ada instruksi yang menyatakan daerah aman, maka penerapan saf rapat lebih baik ditunda.

" Kalau para ahli masih ragu dan pemerintah masih ragu, belum aman, ya jangan dulu," kata dia.

1 dari 4 halaman

Menjaga Diri Bagian dari Ajaran Islam

Menurut Anwar, Islam mengajarkan umatnya menjaga diri dari bahaya. Dalam konteks saat ini, Covid-19 bersifat bahaya karena dapat memicu kematian.

Karena itu, seorang Muslim wajib mencegah dirinya dari potensi tertular Covid-19. Caranya dengan tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

" Jadi tetap jaga jarak, sepanjang pengetahuan saya, menjaga diri," ungkap dia.

© Dream
2 dari 4 halaman

Endemi Covid-19 Bisa Terjadi Januari 2022 Jika Mulus Lewati Libur Tahun Baru

Dream – Koordinator PPKM Darurat untuk Jawa-Bali, Luhut B Panjaitan optimistis Indonesia bisa mencapai kondisi endemik Covid-19 pada Januari 2022 mendatang. Namun keyakinan itu sangat bergantung pada upaya penanganan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022.   

Sebelumnya Luhut juga mengimbau masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan meski data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan penurunan kasus Covid-19 periode 5-17 Oktober 2021. Kewaspadaan ini dibutuhkan karena kemungkinan munculnya gelombang ketiga pandemi Covid-19.

Menurut Luhut, status pandemi menjadi endemi itu diperoleh dari paparan sejumlah para ahli. Indonesia bisa mencapai tahap tersebut jika mampu melewati momen llibur Nataru dengan baik.

" Kalau kita bisa melampaui Nataru ini dengan baik pada Januari, saya pikir sudah masuk pada endemi," ujar Luhut dalam keterangan pers, Senin 18 Oktober 2021.

3 dari 4 halaman

Lewati Nataru dengan Tepat

Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah meminta para menterinya untuk melakukan mitigasi apabila terjadi gelombang ketiga akibat Libur Nataru. Upaya tersebut diperlukan karena lonjakan kasus Covid-19 bisa terjadi jika mobilitas masyarakat meningkat saat Nataru.

Presiden juga mengingatkan potensi penularan masih bisa terjadi karena efek imunitas pasca vaksinasi sebagian besar sudah mulai menurun.

" Kami akan melakukan beberapa kali rapat untuk persiapan itu. Terutama, mendorong penggunaan Peduli Lindungi," terang Luhut yang juga menjabat Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) itu.

Diakui Luhut banyak masyarakat yang sudah mulai lelah menghadapi masa-masa pembatasan selama pandemi Covid-19. Namun dengan perkembangan yang ada, Luhut masih yakin Indonesia akan segera bisa keluar dari pandemi Covid-19.

© Dream
4 dari 4 halaman

Penjajakan Obat Covid-19 Alternatif

Lebih lanjut, Menko Kemaritiman dan Investasi itu juga mengungkapkan pemerintah saat sedang melaksanakan penjajakan beberapa alternatif obat Covid-19.

Diketahui, Menko Marves Luhut dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sedang berada di Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai obat Molnupiravir.

Tidak hanya Molnupiravir dari Merck, Luhut juga menyebut saat ini terdapat obat Proxalutamide yang sedang dalam tahap uji klinis ketiga di Indonesia dan sedang berproses di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alternatif obat lain yakni, AT-527 yang dikembangkan oleh Roche and Athea.

" Ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat Covid-19," jelas Koordinator PPKM Jawa-Bali tersebut.

Beri Komentar