Asteroid Seukuran Lapangan Futsal Nyaris Tabrak Bumi

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 11 September 2019 10:01
Asteroid Seukuran Lapangan Futsal Nyaris Tabrak Bumi
Beruntung tak menabrak bumi.

Dream - Badan Penerbangan dan Astronomi Amerika Serikat (NASA) mencatat asterorid yang melintasi bumi dengan kecepatan 80 ribu kilometer per jam. Asterorid itu melintas sangat dekat pada 9 September 2019.

NASA memperkirakan batu itu datang paling dekat ke Bumi sekitar pukul 19.13 malam UTC. Terbang lintas asteroid dilacak oleh Pusat Studi Benda Dekat Bumi (CNEOS) di Institut Teknologi California.

Asteroid itu, yang dijuluki NASA sebagai Asteroid 2019 RG2, merupakan tipe Apollo yang dekat dengan bumi, Near Earth Object atau NEO.

Asteroid Apollo terbang di sekitar cincin bagian dalam tata surya pada lintasan yang mirip dengan Asteroid 1862 Apollo. NEO, di sisi lain, kadang-kadang, seperti RG2 akan secara serempak berpapasan dengan Bumi.

" Ketika mereka mengorbit matahari, NEO kadang-kadang dapat mendekati dekat ke Bumi.
Perhatikan bahwa bagian 'dekat' secara astronomi bisa sangat jauh dalam istilah manusia: jutaan atau bahkan puluhan juta kilometer," kata NASA.

 

1 dari 5 halaman

Dampak Kerusakan

Dilaporkan Express, NASA memperkirakan ukuran Asteroid RG2 berkisar antara 8,9 hingga 20 meter atau sepanjang lapangan futsal.

Ingin mengetahui gambaran dampaknya? Ketika batu berukuran 20 meter meledak di atas Oblast Chelyabinsk Rusia pada 2013, gelombang kejut membuat jendela hancur dan melukai lebih dari 1.000 orang dengan pecahan kaca.

Pada saat itu, NASA menjuluki ledakan asteroid yang tak terduga sebagai " panggilan waspada" .

Asteroid RG2 membuat apa yang disebut Earth Close Approach tadi malam, dan untungnya, itu tidak mengenai bumi.

Pada jarak terdekatnya, asteroid nyaris menabrak Bumi dari jarak sekitar 0,00350 unit astronomi (au). Satu unit astronomi merupakan ukuran jarak dari Bumi ke Matahari yaitu 149,6 juta kilometer.

Ini berarti Asteroid RG2 melewati bumi dari jarak 523.529 kilometer.

Setelah melintas semalam, NASA tidak mengharapkan asteroid tersebut muncul lagi di kemudian hari.

2 dari 5 halaman

Dikira Hanya Melintas, Asteroid 2019 MO Ternyata Meledak di Atas Karibia

Dream - Asteroid bernama 2019 MO menghantam Bumi pada 22 Juli 2019, tepatnya di atas Laut Karibia. Asteroid semula hanya dikira melintas, sehingga luput dari pantauan NASA.

" 2019 MO pertama kali terlihat 500 ribu kilometer dari Bumi- lebih jauh dari orbit Bulan kita. Ini kira-kira setara menemukan sesuatu seukuran nyamuk dengan jarak 500 kilometer," ujar NASA, dikutip dari Express, Senin 9 September 2019.

Asteroid itu terdeteksi teleskop survei ATLAS yang terletak di Universitas Hawaii. Data diteruskan ke Minor Planet Center yang menghitung asteroid itu berada di jalur tabrakan dengan Bumi.

Davide Farnocchia, ilmuwan di Pusat Studi Objek Dekat Bumi NASA, mengatakan, ukuran 2019 MO jauh lebih kecil daripada asteroid yang diminta untuk mereka amati.

" Asteroid itu sangat kecil, mereka tidak akan selamat melewati atmosfer kita untuk menyebabkan kerusakan pada permukaan bumi," ujar dia.

3 dari 5 halaman

NASA Pantau Asteroid Berbahaya

Tidak ada korban atau kerusakan yang dilaporkan ketika 2019 MO terbakar di atas Laut Karibia.

Saat ini, NASA cenderung memusatkan perhatiannya pada asteroid yang lebih besar, yang lebih mudah dideteksi dan berpotensi lebih berbahaya.

Tetapi, asteroid yang lebih kecil juga dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Pada Februari 2013 ketika asteroid pecah di Chelyabinsk di Rusia, melukai lebih dari 1.200 orang dan merusak sekitar 7.000 bangunan.

Asteroid yang dimaksud berukuran kira-kira sama dengan bangunan enam lantai.

4 dari 5 halaman

NASA & ESA Akan Belokkan Asteroid yang Berpotensi Tabrak Bumi

Dream - Skenario menyelamatkan Bumi dari tabrakan asteroid di film Armageddon yang dibintangi Liv Tyler, Bruce Willis, dan Ben Affleck, menempel dalam ingatan manusia.

Kini, dan ini bukan kejadian di film, ancaman asteroid yang menabrak Bumi sedang terjadi. Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) dan Badan Antariksa Eropa (ESA) bertemu di Roma pekan depan untuk membahas penyelamatan Bumi dari ancaman tabrakan ini.

Proyek ini bertujuan untuk membelokkan orbit salah satu dari dua asteroid yang mengancam Bumi dan Mars, Didymos.

Menurut laman Engadget, NASA dan ESA akan mengukur terlebih dahulu mengukur dampak dan kondisi penyelamatan yang efektif.

NASA Akan memberikan akselerator Uji Dampak Asteroid Ganda (DART) yang diluncurkan pada musim panas 2021. Akselelator itu akan menabrak Didymos yang berukuran lebih kecil.

Setelah tabrakan, Cubesat Italia, LICIACUbe, akan mempelajari dampak kerusakan. ESA kemudian akan meluncurkan satelit Hera pada 2024 untuk mempelajari asteroid Didymos yang lebih besar.

5 dari 5 halaman

Hera Tiba 2026

ESA akan mempelajari kawah, massa, dan satelit radar. Hera dijadwalkan akan tiba di asteroid raksasa itu pada 2026.

Para ilmuwan memilih asteroid Didymos karena orbitnya yang cukup lambat. Dengan kondisi itu, NASA berasumsi, cukup realistis untuk mengubah orbitnya.

Sebelumnya, pada 26 Maret lalu para astronom NASA menemukan asteroid saat malam hari yang jauh lebih gelap dibanding Pluto. Kala itu mereka menyebut asteroid itu dengan PDC 2019.

Asteroid itu memiliki orbit yang melewati 0,05 unit astronomi. Lalu NASA dan Badan Antariksa Eropa berspekulasi asteroid itu akan menghantam Bumi pada 29 April 2027.

Beri Komentar