Pengusaha Emirat Siap Bawa Gunung Es Antartika ke Teluk Arab

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 11 Juli 2019 08:02
Pengusaha Emirat Siap Bawa Gunung Es Antartika ke Teluk Arab
Apa alasannya?

Dream - Pebisnis dan penemu asal Uni Emirat Arab (UEA) Abdulla Alshehi, ingin memindahkan gunung es dari Antartika ke Teluk Arab. Upaya memindahkan gunung es itu untuk mendapatkan persediaan air bersih bagi UEA.

" Akan lebih murah membawa gunung es ini dan menggunakannya untuk persediaan air tawar daripada menggunakan air desalinasi," kata Abdulla, dikutip dari OddityCentral, Rabu, 10 Juli 2019.

Abdulla mengatakan, pendirian pabrik desalinasi membutuhkan investasi modal yang besar.

Tak main-main, Abdullah telah merencanakan upaya menarik gunung es berukuran 2.000x500 meter ke Teluk Arab.

Meski terdengar gila, gagasan menarik gunung es dari Antartika ke Timur Tengah bukan pertama kali muncul. Pada 1975, ilmuwan Perancis mengusulkan rencana itu sebagai cara untuk mengatasi kekurangan air minum di Arab Saudi. Rencana itu dua tahun kemudian karena teknologi yang tak memadai.

 

1 dari 6 halaman

Diharapkan Mengubah Pola Cuaca

Abdulla mengincar satu gunung es raksasa di Pulau Heard, dekat Kutub Selatan. Dia ingin mendereknya sejauh 8.851 kilometer.

Dia memperkirakan perjalanan gunung es itu selama 10 bulan hanya menghilangkan 30 persen kandungan massa air. Tapi, Abdulla punya solusinya.

" Gunung es diperkirakan akan mencapai UEA saat musim dingin. Selain itu, ada fakta-fakta lain seperti kedalaman gunung es ini, yang sedalam 300 meter di bawah laut," ucap dia.

Selain menyediakan banyak air, dia juga berharap gunung es itu mengubah pola cuaca di laut Arab. " Setelah dibawa, kami berharap gunung es itu membawa banyak hujan di wilayah itu," kata dia.

2 dari 6 halaman

Seabad Jadi Misteri, Teka-teki Gunung Es Hijau Antartika Terkuak

Dream - Gunung es biasanya terlihat putih atau biru. Tetapi, muncul gunung es berwarna hijau zamrud. Pelaut masa 1900-an menyebut gunung es hijau tersebut seperti batu giok yang mengambang.

Misteri ini membuat bingung sejumlah ilmuwan selama beberapa dekade. Tetapi, baru-baru ini, ilmuwan menemukan penjelasan yang paling masuk akan mengenai fenomena ini.

Dalam kajian yang diunggah di jurnal ilmiah Journal of Geophysical Research: Oceans, para ahli gunung es menyebut perubahan warna tersebut karena kandungan zat oksida besi yang dibawa dari daratan Antartika.

Dikutip dari laman Science Alert, Jumat 8 Maret 2019, andai asumsi itu benar, artinya gunung es hijau merupakan `pelayan` bagi nutrisi penting kehidupan laut.

" Ini seperti membawa paket ke kantor pos. Gunung es dapat mengirimkan zat besi ini ke laut jauh, dan kemudian meleleh dan mengirimkannya ke fitoplankton yang dapat menggunakannya sebagai nutrisi," kata penulis utama makalah itu, Stephen Warren, dari Universitas Washington.

" Kami selalu berpikir gunung es hijau hanya keingintahuan yang eksotis, namun sekarang kami pikir mereka mungkin benar-benar penting," ucap dia.

Warren mulai mempelajari fenomena ini pada 1988. Awalnya, dia tidak terlalu terkesan oleh warna lempengan-lempengan es ini, dan lebih karena kepadatannya.

3 dari 6 halaman

Menjadi Pertanyaan Sejak Lama

Tidak seperti gunung es normal, yang dibangun dari salju yang dikemas, gunung hijau ini tampaknya tidak memiliki kantong udara apa pun.

" Es ini tidak memiliki gelembung," kata Warren. " Jelas bahwa itu bukan es gletser biasa."

Warren lantas menganalisis sampel gunung es yang dia ambil pada 1980-an. Warren dan rekan-rekannya dengan cepat menyadari bahwa struktur beku ini tidak memecah gletser seperti kebanyakan gunung es.

Pemikiran pertama mereka yaitu bahwa warna hijau itu berasal dari tumbuhan dan hewan laut yang telah lama mati dan mengambang di air. Bahan organik ini akan berwarna kuning, dan jika entah bagaimana terperangkap dalam es biru, itu mungkin bisa mengubah menjadi hijau.

Tetapi ketika para peneliti mengukur bahan organik, mereka menemukan sedikit perbedaan antara es hijau dan es biru. Tetapi muncul kecurigaan terhadap bahan yang lain.

Pertanyaan itu mengganggu Warren selama beberapa dekade. Beberapa tahun yang lalu, dia akhirnya mendapat petunjuk besar.

4 dari 6 halaman

Usul Serangkaian Tes

Pada 2016, sebuah tim ahli kelautan yang dipimpin oleh Laura Herraiz-Borreguero dari University of Copenhagen menguji inti es yang diambil dari Rak Es Amery pada 1968. Di bagian paling bawah, mereka menemukan es laut dengan besi hampir 500 kali lebih banyak dari pada es gletser.

Zat besi oksida cenderung memiliki warna yang berkarat, dan bahan itu ditemukan di bebatuan dari daratan Antartika. Gletser yang mengalir kerap menggiling bebatuan menjadi bubuk halus yang kemudian bisa masuk ke laut.

Warren dan rekannya sekarang berpikir bahwa debu besi oksida ini terperangkap di bawah lapisan es dan dimasukkan ke dalam es laut. Mereka berhipotesis inilah yang menyebabkan warna gunung es yang menakjubkan, dan mengusulkan serangkaian tes pada inti pendek gunung es untuk mengonfirmasi atau membantah asumsi mereka.

Zat besi merupakan nutrisi utama bagi hewan yang membentuk dasar jaring makanan laut, seperti fitoplankton dan tanaman mikroskopis.

5 dari 6 halaman

Bongkahan Es di Antartika Mirip Peti Mati, Bergerak ke Utara

Dream – Setelah bertahun-tahun mengintai Antartika, citra satelit NASA menangkap pemandangan yang aneh di benua itu. Ada sebuah bongkahan es berukuran besar dan berwarna putih bersih. Terlihat serupa dengan peti mati.

Dikutip dari Liputan6.com, Sabtu 10 November 2918, gambar tersebut diabadikan oleh astronot ISS pada akhir September 2018 melalui NASA Earth Observatory. Benda ini mengambang di perairan gelap gulita, di lepas pantai Antartika.

Ilmuwan mengatakan bongkahan e situ menuju ke tempat yang dikenal sebagai “ makam gunung es”. Lempengan berbentuk aneh ini telah menghabiskan waktu 18 tahun terakhir mengambang di laut setelah memisahkan diri dari Ross Ice Shelf pada Maret 2000.

Bongkahan ini sekarang bergerak kea rah utara, menuju perairan hangat.

Seorang glaciologist NASA/UMBC, Chris Shuman, mengatakan hamparan es besar berwarna putih bersih ini punya enam sisi dan bentuk memanjang, seperti peti mati kayu pada umumnya. Menurut NASA, bentuk itu adalah hasil asli dari fenomena alam.

“ Patahan itu mirip dengan pembelahan kristal mineral yang ditatah dengan palu tajam,” kata Shuman.

Dia mengatakan bentuknya disebabkan oleh ketidaksengajaan ruang dan waktu. Hal ini mengingat pelayaran es tersebut makan waktu 18,5 tahun.

Gunung es, yang dikenal sebagai B-15T ini, telah melakukaan perjalanan keluar dari Samudera Selatan (Southern Ocean) saat foto itu diambil pada September.

6 dari 6 halaman

Pergi ke `Makam` Gunung Es

Pemandangan lain, yang diabadikan oleh Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Terra NASA, menunjukkan B-15T mengapung melalui Atlantik Selatan antara Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan pada hari yang sama.

NASA menyebut daerah itu adalah tempat di mana gunung es akan mati. Hal ini disebabkan oleh perairan di wilayah tersebut lebih hangat daripada di Samudera Selatan.

Menurut lembaga antariksa tersebut, musim dingin di belahan Bumi selatan akan semakin dekat. Ketika gunung es itu terlihat pada September, sehingga datangnya sinar matahari yang melimpah dapat semakin menghangatkan air di sekitarnya.

" Kurangnya es laut di sekitar B-15T menyiratkan bahwa air berada di atas titik beku," kata NASA.

Gunung es B-15T memecah lapisan es 18 tahun yang lalu. Ini hancur menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil dari waktu ke waktu. Akan tetapi, NASA mencatat bahwa bentuk menakutkan dari B-15T diperoleh jauh sebelum ia pindah ke kuburan gunung es.

" Arus Kutub Selatan Antartika, yang melewati Selat Drake, mengarahkan gunung es itu ke arah timur dan menduduki lokasinya saat ini," NASA menjelaskan.

(Sumber: Liputan6.com/Afra Augesti)

 

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone