Jemaah Haji Dilarang Campur-adukkan Ibadah dan Politik

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 10 Juli 2019 17:00
Jemaah Haji Dilarang Campur-adukkan Ibadah dan Politik
Merespon kritik yang dilontarkan pemimpin tertinggi Iran.

Dream - Arab Saudi mendesak jemaah haji tak mencampurkan agama dan politik saat beribadah. Larangan ini muncul untuk menjaga kesucian dan spiritualitas tempat suci yang dikunjungi jemaah haji.

Larangan itu sekaligus untuk merespons ancaman terselubung Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, terhadap gangguan dan kemungkinan demonstrasi para peziarah Iran saat haji tahun ini.

Dikutip dari laman Arab News, Rabu 10 Juli 2019, menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Media Saudi, Turki Al-Shabanah, meminta para jemaah untuk menahan diri mengambil bagian dalam kegiatan politik apa pun, seperti membuat slogan, yang mungkin mengganggu proses ibadah.

Al-Shabanah mengatakan, kerajaan Saudi tidak akan menerima perilaku seperti itu dan akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mencegahnya.

1 dari 5 halaman

Iran Singgung Ketatnya Keamanan Saudi

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan, Khamenei menyebut menciptakan persatuan di dunia Islam merupakan bagian dari sikap politik.

“ Menciptakan persatuan adalah masalah politik. Mendukung dan membela yang tertindas di dunia Islam, seperti negara-negara Palestina dan Yaman, adalah masalah politik, berdasarkan pada ajaran dan kewajiban Islam. Haji adalah tindakan politik dan tindakan politik ini adalah ... kewajiban agama," kata Khamenei.

Pemimpin Iran juga menyinggung langkah keamanan Saudi pada ziarah tahunan terlalu sulit. Meski, Arab Saudi memikul tanggung jawab utama keamanan. 

“ Di antara tanggung jawab Saudi yaitu melindungi keselamatan dan keamanan para peziarah, tetapi mereka seharusnya tidak menyebarkan kondisi yang ketat. Sementara para peziarah berada di Mekah dan Madinah, mereka harus memperlakukan para peziarah dengan benar, dengan terhormat, dan dengan mulia, karena mereka adalah tamu Tuhan," ujar dia.

Raja Salman akan menyambut para jemaah haji dan mengarahkan semua badan penyelenggara haji untuk terus memberikan keamanan, stabilitas, dan ketenangan bagi para pengunjung.

Kerajaan juga memuji perkembangan layanan jamaah yang berkelanjutan. Serta mengapresiasi pencapaian program Makkah Road, yang bertujuan untuk mempercepat administrasi pra-perjalanan dan masalah bagasi jemaah haji.

2 dari 5 halaman

Suami Satpam Berupah Rp900 Ribu, Istri Mbok Jamu, Kini Mereka Berhaji

Dream - Menjalankan ibadah haji bagi sebagian orang bukanlah perkara sepele. Butuh perjuangan untuk bisa melaksanakan rukun Islam kelima ini.

Selain kesabaran mengumpulkan biaya, niat kuat dan ikhtiar tak terputus menjadi penentu terlaksananya ibadah ini. Hal inilah yang dibuktikan oleh petugas keamanan komplek perumahan di Bangkalan, Jawa Timur, Mansur.

Dikutip dari Liputan6.com, Mansur yang tinggal di Kampung Kejawanan, Kecamatan Socah ini setiap bulan menerima upah dari pengelola perumahan Griya Abadi sebesar Rp900 ribu.

Pada 2011, Mansur memutuskan menggunakan upah bulannya untuk membuka tabungan haji. Lewat tabungan itu, dia bersama istrinya mendaftar agar bisa pergi haji bersama.

" Waktu mendaftar, setorannya per orang Rp25 juta," kata Mansur.

 

3 dari 5 halaman

Cara Penuhi Hidup dan Biaya Sekolah Anak

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anaknya, keluarga Mansur mengandalkan pendapatan dari usaha jamu yang dilakoni sang istri.

Pun jika ada kelebihan uang dari usaha itu setelah semua kebutuhan terpenuhi, Mansur dan istrinya langsung memasukkan ke tabungan haji.

Selang delapan tahun kemudian, akhirnya Mansur dan istri bisa berangkat ke Tanah Suci. Mereka pun mampu melunasi seluruh biaya haji yang ditetapkan sebesar Rp36,5 juta per orang.

" Kalau tidak nabung, mau dapat uang dari mana," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Musthofa Aldo

4 dari 5 halaman

Suami Tukang Bangunan, Istri Jadi Kuli, Kini Mereka Berhaji

Dream - Berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji butuh biaya banyak. Meski demikian, pasangan suami-istri dengan penghasilan pas-pasan ini mampu mengumpulkan ongkos untuk menunaikan rukun Islam ke lima ini.

Merekalah Supandi dan Arsi. Pasangan asal Desa Patemon, Kecamatan Jati Banteng, Situbondo, itu bekerja sebagai tukang dan kuli. Supandi yang berusia 50 tahun sebagai tukang. Sementara sang istri yang lima tahun lebih muda menjadi kulinya.

Bukan di tanah kelahiran. Mereka harus mengadu nasib ke pulau seberang. Bali. Selama delapan tahun mereka memeras keringat dan membanting tulang untuk mengumpulkan ongkos untuk naik haji.

Upah mereka tak besar-besar amat untuk hidup mereka di tanah rantau. Pertama kali menginjak Pulau Dewata, Supandi dibayar Rp55 ribu perhari. Sementara Arsi menjadi kuli dengan upah Rp50 ribu tiap harinya.

 

 

5 dari 5 halaman

Hidup Seadanya, Cari Kayu di Gunung

Arsi merupakan satu-satunya wanita yang ikut bekerja di proyek. Selama bekerja, ia bersama suaminya tidur di tempat yang disediakan oleh proyek.

Sebelum tahun 2010, mereka bekerja seadanya. Kadang mengumpulkan dan mengangkut kayu dari gunung. Ada kalanya mereka bekerja mengangkut pasir.

Keinginan berhaji datang begitu kuat. Sehingga pasutri ini mulai menabung dari hasil jerih payah mereka. Tiap hari, keduanya hanya belanja sepuluh ribu untuk makan berdua. Sisanya ditabung.

“ Seadanya, sepuluh ribu untuk makan sehari berdua, cukup sayur dan ikan asin,” tutur Arsi, sambil sesenggukan. Tapi, mimpi itu terwujud tahun ini.

Sepulang dari berhaji nanti, Supandi dan Arsi akan kembali menjalani pekerjaannya sebagai kuli di Bali. Mereka berharap kelak bisa menghajikan anaknya dari hasil pekerjaannya.

Sumber: jatim.kemenag.go.id

 

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'